PETI Kuansing Kian Tak Terkendali: 200 Rakit Beroperasi, Oknum Aparat Diduga Intervensi Publikasi dan Cari Pengurus Tambang Ilegal

- Penulis

Kamis, 2 Oktober 2025 - 15:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARARAKYAT.info|| Kuansing, Riau –Aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) semakin menggila di Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau. Dari hasil investigasi lapangan, terungkap bahwa sedikitnya 200 unit rakit dompeng beroperasi di sepanjang aliran Sungai Kuantan dan kawasan darat, terutama di Desa Pulau Jambu dan Pulau Bayur, Kecamatan Cirenti, serta menjalar ke Kecamatan Inuman yang masih dalam wilayah hukum Polsek Cirenti.Kamis (2/9/2025)

Awalnya, tim investigasi media mencatat setidaknya 50 unit rakit aktif di dua desa tersebut. Namun setelah penelusuran lanjutan, jumlah itu membengkak hingga mencapai ratusan unit dengan pola operasi sistematis, nyaris tanpa hambatan dari aparat penegak hukum.

Kegiatan tambang ilegal ini dilakukan secara terang-terangan siang dan malam. Warga sekitar menyebut bahwa aliran Sungai Kuantan kini semakin keruh, dangkal, dan tercemar limbah merkuri akibat PETI. Padahal, sungai ini selama puluhan tahun menjadi sumber air, tempat mencari ikan, serta urat nadi pertanian masyarakat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kalau dibiarkan, Sungai Kuantan bisa mati total. Sawah kami sudah mulai susah dialiri air bersih, ikan-ikan juga makin hilang,” ungkap warga masyarakat kepada wartawan

Aparat Justru Minta Berita Dihentikan

Dalam misi investigasi, tim media justru menghadapi peristiwa mengejutkan.Oknum Kanit Reskrim di salah satu polsek cirenti bersama sejumlah personelnya mendatangi awak media yang tengah meliput. Mereka disebut berupaya melakukan klarifikasi sekaligus meminta agar pemberitaan mengenai maraknya PETI dihentikan atau tidak ditayangkan.

Alasan yang disampaikan, menurut keterangan aparat, adalah demi menjaga “kepentingan masyarakat setempat”. Mereka juga menegaskan hanya bertindak sebagai perantara untuk menyampaikan keberatan terhadap publikasi aktivitas tambang emas ilegal tersebut.

Namun, informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa oknum Kanit tersebut bahkan berusaha mencari siapa pengurus atau aktor utama yang mengendalikan PETI di wilayah Kecamatan Cirenti maupun Inuman. Fakta ini justru memperkuat dugaan adanya intervensi yang berlapis di satu sisi aparat minta pemberitaan dihentikan, di sisi lain mereka mencari tahu siapa penggerak aktivitas tambang ilegal.

Indikasi Intervensi dan Konflik Kepentingan

Situasi ini menimbulkan pertanyaan serius apakah benar aparat hanya berupaya menjaga kepentingan masyarakat, atau justru ada konflik kepentingan yang lebih besar?

READ  Aktivitas PETI di Wilayah Sektor Polsek Kuantan Mudik Terus Beroperasi,Warga: Diduga Ada Sekitar 300 Rakit dan Setoran Mingguan Rp1,5 Juta per Unit

Di satu sisi, memang ada sebagian warga yang menggantungkan penghidupan dari PETI. Namun di sisi lain, kerusakan lingkungan yang ditimbulkan jauh lebih besar:

Air Sungai Kuantan makin tercemar merkuri.

Lahan pertanian rusak dan sulit diolah.

Kesehatan warga terancam, terutama kulit dan pernapasan.

Konflik horizontal antarwarga muncul karena perebutan lahan dan alat produksi.

Jika oknum aparat justru meminta pemberitaan dihentikan, hal ini dapat dianggap sebagai bentuk intervensi terhadap kebebasan pers serta berpotensi menutup akses publik terhadap informasi krusial. Padahal, peran polisi adalah menegakkan hukum, bukan menghalangi kerja jurnalis.

Lingkaran Bisnis Gelap PETI

Hasil penelusuran memperlihatkan bahwa PETI di Kuansing tidak berdiri sendiri. Ada indikasi kuat keterlibatan pemodal besar, operator lapangan, hingga pihak-pihak yang membekingi agar tambang ilegal tetap berjalan mulus.

Dengan jumlah rakit mencapai ratusan unit, mustahil kegiatan ini berlangsung tanpa sepengetahuan atau keterlibatan oknum tertentu. Kehadiran aparat di lapangan untuk meminta penghentian berita justru semakin mempertebal dugaan adanya kompromi atau pembiaran.

Desakan Penegakan Hukum yang Tegas

Kasus maraknya PETI di Kuansing merupakan tamparan keras bagi penegakan hukum di Riau. Jika benar aparat melindungi aktivitas ilegal dengan alasan “kepentingan masyarakat”, maka negara dianggap lalai menjaga lingkungan dan membiarkan hukum kehilangan wibawanya.

Sejumlah aktivis lingkungan dan tokoh masyarakat menyerukan agar Polda Riau segera turun tangan. Penindakan tidak bisa lagi diserahkan hanya pada level Polsek atau Polres. Transparansi, akuntabilitas, dan keberanian membongkar jaringan bisnis PETI harus menjadi prioritas, agar Sungai Kuantan tidak benar-benar hancur dan masyarakat tidak semakin menderita.

“Jangan sampai aparat justru jadi bagian dari masalah. Yang rakyat butuhkan adalah keberanian menindak, bukan menutup-nutupi,” tegas salah satu tokoh pemuda Kuansing.

Hingga berita ini diterbitkan oknum aparat yang disebut sebut dalam dugaan kasus tersebut belum terkonfirmasi, dan Tim investigated akan terus berupaya mencari fakta dalam jaringan pertambangan ilegal tersebut

Bersambung… 

(Athia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemimpin Siak Turun Langsung ke Masyarakat, Hardiknas Jadi Momentum Dengar Aspirasi Warga
Satgas TMMD ke 128 Kodim 1801/Manokwari Bersama Warga Tetap Tunaikan Sholat Jum’at
Di Balik Nasi Bungkus Ada Kebersamaan :  TMMD Ke-128 di Kampung Tanah Rubuh, Tanpa Sekat Tanpa Batas
Bentengi Generasi Muda dari Bahaya Narkoba, Satgas TMMD ke-128 Kodim 1801/Manokwari Berikan Penyuluhan di SD Inpres 62 Asai
CFD & CFN Bengkalis Digelar, GWN Dorong UMKM Bangkit dan Berdaya Saing
Koarmada III Gelar Kauseri Agama, Perkuat Mental dan Spiritualitas Prajurit
Pelayanan KP2KP Selatpanjang Tuai Respons Positif di Hari Terakhir Pelaporan SPT
Tahap Akhir Pembangunan Jembatan Garuda Capai 87% wilayah Kodim Sorong
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:23 WIB

Pemimpin Siak Turun Langsung ke Masyarakat, Hardiknas Jadi Momentum Dengar Aspirasi Warga

Jumat, 1 Mei 2026 - 05:29 WIB

Satgas TMMD ke 128 Kodim 1801/Manokwari Bersama Warga Tetap Tunaikan Sholat Jum’at

Jumat, 1 Mei 2026 - 05:27 WIB

Di Balik Nasi Bungkus Ada Kebersamaan :  TMMD Ke-128 di Kampung Tanah Rubuh, Tanpa Sekat Tanpa Batas

Jumat, 1 Mei 2026 - 05:24 WIB

Bentengi Generasi Muda dari Bahaya Narkoba, Satgas TMMD ke-128 Kodim 1801/Manokwari Berikan Penyuluhan di SD Inpres 62 Asai

Jumat, 1 Mei 2026 - 02:23 WIB

CFD & CFN Bengkalis Digelar, GWN Dorong UMKM Bangkit dan Berdaya Saing

Berita Terbaru