SUARARAKYAT.info||Jakarta-Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Dr. (H.C) Yandri Susanto, mengajak seluruh lapisan masyarakat desa untuk bersama-sama memerangi peredaran dan penyalahgunaan narkoba yang kian mengancam generasi muda. Seruan ini disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi Praktik Baik Desa Bersinar (Bersih dari Narkoba) yang digelar di jakarta (6/8/2025).sebagai bagian dari upaya konkret pemerintah untuk membangun desa yang sehat, aman, dan berdaya saing.
Dalam sambutannya, Mendes Yandri menekankan pentingnya membangun ketahanan sosial di tingkat desa sebagai benteng utama melawan infiltrasi narkoba yang kerap menyasar anak-anak muda dan keluarga rentan. Ia menyatakan bahwa pemberantasan narkoba bukan hanya menjadi tugas aparat penegak hukum, tetapi juga tanggung jawab bersama masyarakat desa.
“Narkoba adalah musuh bersama. Kalau kita biarkan, bukan hanya masa depan anak-anak kita yang hancur, tetapi juga kehancuran moral bangsa. Karena itu, desa-desa harus menjadi garda terdepan dalam perang melawan narkoba,” tegas Yandri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Program Desa Bersinar sendiri merupakan inisiatif lintas sektor antara BNN dan Kemendes PDTT, yang bertujuan membangun kesadaran kolektif dan menumbuhkan partisipasi aktif masyarakat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan narkoba, mulai dari edukasi, rehabilitasi berbasis desa, hingga pelibatan tokoh adat dan agama.
Dalam kesempatan yang sama, Mendes Yandri juga mendorong pemerintah desa dan perangkat daerah untuk secara serius mengoptimalkan Program Cek Kesehatan Gratis yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Program yang baru saja diluncurkan secara nasional ini menurutnya harus dimaksimalkan untuk mendeteksi lebih dini kondisi kesehatan warga desa, terutama anak-anak dan remaja sebagai kelompok yang rentan.
“Dengan adanya program Cek Kesehatan Gratis dari Presiden Prabowo, kita punya peluang besar untuk mengetahui kondisi kesehatan masyarakat secara detail. Ini penting, tidak hanya untuk mencegah penyakit fisik, tapi juga mendeteksi potensi gangguan mental akibat narkoba atau tekanan sosial lainnya,” ujar Yandri.
Ia menekankan bahwa data kesehatan yang diperoleh dari program ini dapat menjadi dasar kuat dalam perumusan kebijakan berbasis desa, baik di sektor kesehatan, pendidikan, maupun ketahanan sosial.
Mendes juga meminta seluruh kepala desa, kader kesehatan, serta BPD (Badan Permusyawaratan Desa) agar tidak hanya menjadi pelaksana, tetapi juga motor penggerak edukasi di tengah masyarakat. Ia menyarankan agar kegiatan posyandu, karang taruna, PKK, dan forum-forum desa lainnya aktif digunakan untuk mensosialisasikan bahaya narkoba serta pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Acara sosialisasi ini dihadiri oleh ratusan peserta dari berbagai unsur, mulai dari kepala desa, tokoh masyarakat, pemuda karang taruna, Babinsa, Bhabinkamtibmas, hingga perwakilan pelajar. Kegiatan diisi dengan dialog interaktif, testimoni penyintas narkoba, serta pemutaran video edukatif tentang Desa Bersinar.
Melalui sinergi antara program kesehatan dan pencegahan narkoba, Mendes Yandri optimis bahwa desa-desa di seluruh Indonesia akan semakin kuat dan mandiri, serta menjadi pelopor dalam menciptakan lingkungan yang sehat, aman, dan bebas dari narkoba.
(Swd)














