Aktivis Farida Sebayang Menilai,Diduga Penggusuran Brutal di Sampali Menindas Hak Rakyat dan Menjadi Korban

- Penulis

Minggu, 1 Juni 2025 - 09:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suararakyat.info.Deli Serdang,Sumut–Tragedi kemanusiaan terjadi di kawasan Jl. Kesuma, Desa Sampali, Kecamatan Percut Sei Tuan, Deli Serdang. Ratusan warga yang telah menempati lahan eks HGU PTPN II selama puluhan tahun digusur secara paksa oleh aparat gabungan. Tanpa putusan pengadilan yang inkrah, rumah-rumah rakyat, sekolah PAUD, rumah ibadah, dan fasilitas umum diratakan alat berat.

Warga dan aktivis menyebut penggusuran ini sebagai kejahatan kemanusiaan demi kepentingan proyek hunian mewah yang diduga milik pengusaha nasional dan asing. Nama CitraLand mencuat sebagai pemilik proyek, dengan dugaan keterlibatan mafia tanah dan oknum pejabat daerah.

“Ini bukan hanya penggusuran, ini pembantaian hak asasi rakyat kecil. Tanpa surat pengadilan, tanpa ganti rugi. Negara gagal melindungi rakyatnya,” ujar Dr. Bernard BBBI Siagian, Ketua DPP GAKORPAN, Minggu (1/6/2025).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tak hanya warga yang jadi korban, jurnalis juga mengalami penghalangan saat meliput. Ketua Umum PPWI, Prof. Dr. Wilson Lalengke, mengecam keras tindakan aparat yang menghalangi wartawan saat meliput peristiwa di Sampali dan Mandoge.

READ  Prof Sumaryoto: Kerja Sama TNI Dengan Perguruan Tinggi Equal, Memberikan Kemanfaatan

Kepala Desa Sampali juga dilaporkan melarikan diri dari wawancara dan melontarkan hinaan kepada wartawan. Hal ini disebut sebagai pelanggaran serius terhadap UU Pers dan UU Keterbukaan Informasi Publik.

Mimpi Buruk Bernama Proyek Pembangunan

Aktivis menuding proyek yang menggunakan status HGB dari lahan eks HGU PTPN II tersebut cacat hukum. Masa HGU sudah habis, dan rakyat yang telah tinggal lebih dari 20 tahun semestinya menjadi prioritas penerima hak atas tanah, bukan diusir.

“Kalau tanah ini diserahkan ke pengusaha besar, lalu rakyat kecil dikorbankan, itu namanya kolonialisme gaya baru. Jangan jadikan proyek ASTA CITA 2045 sebagai dalih menindas,” kata Bunda Farida Sebayang yang merupakan aktivis dan juga Srikandi di Organisasi PPWI

 

(Dr.Bernard)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hak Siswa Dipertanyakan, Dugaan Penahanan PIP dan Denda Tunggakan Mencuat di MA Sabilal Muhtadin
Muswil I MUI Papua Barat Daya Dipalang Adat, MMP Tuntut Keterlibatan Muslim Asli Papua
APINDO Minta Kajian Komprehensif Sebelum Konvensi ILO tentang Pekerja Platform Diratifikasi
Otonomi Daerah di Persimpangan Jalan, Dr. Fachrul Razi Beberkan Masalah Pokok dan Solusi Strategis di Kuliah Umum UICI
Hadapi Ancaman El Nino, Menko Polkam Arahkan Desk Karhutla Tingkatkan Kesiapsiagaan dan Pencegahan
Nama Calon Tersangka Sudah Dikantongi Polda Papua Barat Daya, Kasus Korupsi Inspektorat Tinggal Tunggu Audit BPK
Mahasiswa Sorong Desak Evaluasi Kebijakan Pemerintah, Tolak MBG, Soroti Harga BBM dan Pemborosan APBN
UICI dan Dr. Fachrul Razi Bahas Otonomi Daerah dalam Bingkai Wawasan Nusantara
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 20 Juni 2026 - 08:03 WIB

Hak Siswa Dipertanyakan, Dugaan Penahanan PIP dan Denda Tunggakan Mencuat di MA Sabilal Muhtadin

Jumat, 19 Juni 2026 - 12:44 WIB

Muswil I MUI Papua Barat Daya Dipalang Adat, MMP Tuntut Keterlibatan Muslim Asli Papua

Jumat, 19 Juni 2026 - 02:32 WIB

APINDO Minta Kajian Komprehensif Sebelum Konvensi ILO tentang Pekerja Platform Diratifikasi

Jumat, 19 Juni 2026 - 00:06 WIB

Otonomi Daerah di Persimpangan Jalan, Dr. Fachrul Razi Beberkan Masalah Pokok dan Solusi Strategis di Kuliah Umum UICI

Kamis, 18 Juni 2026 - 23:57 WIB

Hadapi Ancaman El Nino, Menko Polkam Arahkan Desk Karhutla Tingkatkan Kesiapsiagaan dan Pencegahan

Berita Terbaru