Suararakyat.info.Sukabumi-program Corporate Social Responsibility (CSR) dari dua perusahaan besar pembuat sepatu ekspor di Kecamatan Sukalarang, Kabupaten Sukabumi, yakni PT Pratama Abadi Industri dan PT GSI 2, tengah menjadi sorotan berbagai pihak.
Hal ini mencuat setelah anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Sukabumi, Rahma Sakura Ramkar, mengungkap dugaan tidak optimalnya pelaksanaan program CSR oleh kedua perusahaan tersebut dalam video tiktok kritiknya yang diunggahnya beberapa pekan lalu.
Saat di sambangi awak media usai kegiatan terkait pernyataannya tersebut Rahma Sakura Ramkar membenarkan, terkait dirinya yang telah mengunggah video yang menyuarakan kritik terhadap dua perusahaan sepatu yang berada di wilayah Sukalarang tersebut. Karena dirinya menilai pelaksanaan program Corporate Social Responsibility (CSR) tidak sesuai aturan dan kurang berdampak pada masyarakat sekitar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Saya sebelum mengunggah video kritiknya tersebut terlebih dahulu melakukan kompirmasi kepada Bapelitbangda Kabupaten Sukabumi, Pemerintah Kecamatan Sukalarang dan beberapa desa yang berada di wilayah tersebut. Dan hasilnya. Bapelitbangda membenarkan bahwa PT GSI 2 Sukalarang sudah beberapa tahun tidak melaporkan pelaksanaan program CSR. Dan Pemcam Sukalarang serta Pemdes juga tidak mengetahui pelaksanaan CSRnya.” Terangnya.
Rahma menegaskan, alasan utama dirinya menyoroti kedua perusahaan tersebut karena dirinya merupakan puteri daerah yang tinggal di Kecamatan Sukalarang dan merasa memiliki tanggung jawab moral sebagai wakil rakyat.
“Saya menyoroti dua perusahaan tersebut, karena kemanfaatan CSR untuk masyarakat tidak ada tapi saya heran perusahaan-perusahaan itu malah dapat penghargaan dari pemerintah daerah.” Tuturnya
Kini, Pemerintah Desa Titisan, Kecamatan Sukalarang, turut angkat bicara terkait polemik tersebut. Kepala Desa Titisan, Bambang Nur Aripin, menegaskan bahwa selama ini pihaknya menjalin komunikasi baik dengan kedua perusahaan, khususnya terkait rekrutmen tenaga kerja, persoalan lingkungan, serta program CSR.
“Kenapa saya bahas tiga hal ini? Karena memang itu yang menjadi ramai di masyarakat. Untuk rekrutmen, memang ada warga kami yang sudah bekerja di sana, tapi setiap tahun selalu ada lulusan baru yang juga butuh pekerjaan. Kami selalu minta skala prioritas agar warga Titisan diutamakan,” kata Bambang kepada awak media pada Senin (26/05).
Terkait program CSR, Bambang menjelaska, bahwa PT GSI 2 masih menjalankan kegiatan CSR secara aktif, meskipun bukan dalam bentuk uang tunai. Kegiatan CSR perusahaan tersebut umumnya berupa bantuan material dan pelibatan pemerintah desa dalam kegiatan seremonial bersama Muspika Kecamatan Sukalarang.
“CSR dari PT GSI 2 jelas dan ada komunikasi yang baik. Kegiatan CSR mereka berupa bantuan material, dan kami diundang dalam seremoni kegiatan itu,” jelas Bambang.
Namun berbeda dengan PT Pratama Abadi Industri. Bambang mengungkapkan bahwa sejak dirinya menjabat sebagai Kepala Desa pada tahun 2019, belum ada kegiatan CSR dalam bentuk pembangunan fisik yang menyasar masyarakat Desa Titisan, yang notabene masuk wilayah ring 1 terdampak langsung dari aktivitas perusahaan tersebut.
“Kalau dulu sebelum saya menjabat, mungkin ada CSR. Tapi sejak saya menjabat, saya belum melihat adanya kegiatan pembangunan fisik dari CSR PT Pratama Abadi Industri. Kami berharap perusahaan bisa lebih peduli dan berkontribusi terhadap pembangunan desa, apalagi jalan yang digunakan karyawan dan masyarakat sudah rusak,” tambahnya.
Bambang juga menyebut pernah menghadiri kegiatan sosial yang diadakan oleh PT Pratama Abadi Industri, seperti santunan yatim piatu, bantuan untuk panti jompo, dan sunatan massal. Namun ia belum dapat memastikan apakah kegiatan tersebut merupakan bagian dari program CSR perusahaan atau inisiatif dari serikat pekerja SPSI.
“Saya juga sudah berkomunikasi dengan pihak Humas PT Pratama Abadi Industri untuk meminta bantuan pengaspalan jalan. Tapi sampai sekarang belum ada tanggapan,” tandasnya.
“Masyarakat berharap, ke depan, kedua perusahaan besar ini, dapat menjalankan program CSR secara transparan, berkesinambungan, dan berdampak nyata bagi warga lokal, khususnya yang tinggal di sekitar kawasan industri,” pungkasnya.
(Red)














