Suararakyat.info.Sukanumi– Aroma tak sedap dan pemandangan memilukan tumpukan sampah di Desa Parakansalak, yang berdampak langsung ke Kampung Cisarandi RT 1 RW 1 desa lebaksari, kini menuai kemarahan warga. Masalah yang sudah bertahun-tahun dibiarkan ini, seolah dianggap angin lalu oleh pihak Pemerintah Desa (Pemdes) Parakansalak.kecamatan Parakansalak kabupaten sukabumi Jawa Barat.
Ketua RW 01, Kusoy, akhirnya angkat bicara lantang, membeberkan fakta-fakta memilukan yang selama ini disembunyikan di balik dinding pembiaran.Minggu, 27/4/2025
Dalam keterangannya, Kusoy menuturkan bahwa dirinya sudah sejak lama berusaha mencari solusi bersama Pemdes. Ia bahkan pernah berbicara langsung empat mata dengan Kepala Desa Parakansalak, menyampaikan kegelisahan warga soal menumpuknya sampah liar yang mencemari lingkungan. Namun semua itu, menurutnya, hanya berakhir di meja kosong tanpa tindakan nyata.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Saya sudah berbicara langsung dengan Bu Kades soal solusi. Saya juga sudah menawarkan ide, agar lokasi pembuangan itu di-blongsong atau dibangun tembok pembatas, dan harus ada pengelolanya. Tapi, sampai hari ini, semua seperti membicarakan angin. Tidak ada realisasi,” ujar Kusoy dengan nada geram.kepada awak media suararakyat.info di kediaman nya
Ironisnya, sampah yang menumpuk itu bukan hanya dari satu RW saja. Aliran limbah domestik dari Kampung Pajangan RW 02 dan RW 01 sendiri, berkumpul di satu titik, mengotori aliran selokan yang menjadi sumber kebutuhan air warga, seperti untuk mandi dan memasak. Saat hujan turun, tumpukan sampah menyebabkan air meluap, banjir pun tak terhindarkan membawa potensi wabah penyakit ke dalam rumah-rumah warga.
“Saya sangat prihatin. Sampah ini bisa menjadi sumber penyakit berbahaya. Seharusnya Pemdes Parakansalak lebih peka. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, mereka tutup mata, seolah-olah tidak terjadi apa-apa,” kecam Kusoy.
Lebih lanjut, Kusoy menyindir keras sikap abai pihak desa, yang menurutnya, lebih memilih diam daripada bergerak mencari solusi. Ia bahkan menantang langsung Kepala Desa Parakansalak untuk datang berbicara jika merasa tersinggung dengan pernyataannya.
“Kalau kepala desa merasa tersinggung dengan apa yang saya sampaikan, silahkan datang atau panggil saya. Jangan cuma diam di balik meja. Ini soal kesehatan dan keselamatan warga,” tandasnya.
Masalah ini pun menjadi potret buram bagaimana aparatur desa seharusnya hadir sebagai pelayan masyarakat, bukan justru membiarkan masalah lingkungan berkembang menjadi ancaman nyata. Sampah yang menumpuk bukan hanya soal bau, tapi soal nyawa.
Apakah Pemdes Parakansalak akan terus tidur di atas tumpukan sampah ini?k
Dikutip dari kata mutiara, anna dopatu minal iman kebersihan bagian dari iman bersih pemimpin bersih lingkungannya agar Desa menjadi mubarokah
Warga kini menunggu, bukan janji manis, tetapi tindakan nyata.
(Yh)














