SUARARAKYAT.info||Tembilahan-Polemik mengenai dugaan pengelolaan aset dan dana umat di lingkungan Masjid Al-Huda Tembilahan kembali mencuat setelah serangkaian wawancara serta investigasi lapangan mengungkap minimnya transparansi terkait pemanfaatan aset dan pemasukan masjid selama lebih dari satu dekade terakhir.minggu (16/11/2025)
Dalam wawancara yang dilakukan di aula Yayasan Al-Huda pada 16 November 2025, pengurus harian hanya memberikan penjelasan umum mengenai beberapa kegiatan pemeliharaan masjid, seperti pembelian paket pakumkliner (pembersih debu),pengadaan karpet sebanyak 10 gulung, pengecatan, perbaikan tempat wudu, serta beberapa perbaikan kecil lainnya. Namun ketika ditanya mengenai besaran biaya yang dikeluarkan untuk seluruh kegiatan tersebut, pihak pengurus tidak memberikan rincian angka, sehingga menimbulkan tanda tanya di kalangan jemaah yang hadir.
“Kami tidak bisa menyebutkan jawaban pengurus harian tersebut, karena memang tidak dijelaskan berapa totalnya,” ungkap salah satu warga yang turut hadir dalam wawancara tersebut.

Dari hasil investigasi lapangan, terlihat adanya aset fisik berupa deretan ruko sebanyak 20 pintu dengan sarang burung walet di lantai atas. Aset ini, berdasarkan informasi lapangan, telah menghasilkan pemasukan rutin selama lebih dari sepuluh tahun.
Selain itu, terdapat pula lahan parkir masjid yang disebutkan menghasilkan sekitar Rp3.500.000 per bulan. Semua pembayaran terkait aset tersebut dikabarkan telah diterima oleh pihak Yayasan Al-Huda secara rutin setiap bulannya.
Jika dihitung secara kasar, pemasukan dari aset ruko, walet, dan parkir diperkirakan mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah dalam kurun waktu bertahun-tahun. Namun hingga kini, informasi mengenai pemanfaatan dana itu tidak pernah diumumkan secara terbuka kepada jemaah.
Sejumlah jemaah menyatakan keheranannya karena laporan keuangan yang diumumkan setiap Jumat hanya terkait infak mingguan masjid. Tidak pernah ada laporan mengenai aset besar masjid yang berasal dari ruko, hasil walet, maupun parkir.
“Sampai sekarang publik tidak pernah tahu berapa sebenarnya aset umat yang diterima, digunakan untuk apa, dan berapa besar pemasukan yang mengalir setiap bulannya. Yang diumumkan itu hanya infak mingguan. Aset besar tidak pernah tersentuh laporan,” ujar salah seorang jamaah yang enggan disebutkan namanya.
Minimnya laporan keuangan membuat spekulasi berkembang di tengah masyarakat. Sebagian jemaah mempertanyakan apakah dana aset umat benar-benar digunakan untuk kepentingan umum atau ada penyalahgunaan dalam pengelolaann

Dugaan Ketiadaan laporan rutin membuat publik mendesak Yayasan Al-Huda agar segera membuka laporan keuangan secara transparan, lengkap, dan terperinci. Jemaah menilai bahwa dana yang berasal dari aset masjid merupakan amanah umat, sehingga harus dipertanggungjawabkan secara terbuka, bukan hanya diketahui oleh internal pengurus.
“Supaya anggaran aset umat dipertanggungjawabkan di hadapan publik dan umat. Jangan sampai keraguan ini semakin berkembang menjadi ketidakpercayaan,” ujar salah satu tokoh jemaah.
Para jemaah berharap pengurus masjid dapat segera memberikan klarifikasi, menerbitkan laporan keuangan tahunan, serta membangun sistem akuntabilitas yang lebih baik, agar masjid kembali menjadi pusat kepercayaan dan kebersamaan umat.
CATATAN REDAKSI:
Sebagai media yang menjunjung tinggi prinsip independensi dan keberimbangan, redaksi membuka ruang hak jawab bagi semua pihak yang berkepentingan terhadap pemberitaan ini sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.
(Syw)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT














