SUARARAKYAT. info|| Majalengka — Terletak di kaki Gunung Ciremai, tepatnya di Desa Sangiang, Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka, Situ Sangiang menyimpan keindahan alam sekaligus aura mistis yang sarat sejarah. Kawasan ini tidak hanya dikenal sebagai objek wisata alam, tetapi juga sebagai situs religius yang dipercaya menyimpan peninggalan dari masa kejayaan kerajaan kuno di Tanah Sunda.(5/11/2025)
Hamparan hutan campuran di sekitar situ menambah pesona alami kawasan ini. Pohon mahoni dan kayu manis tumbuh rindang, bersanding dengan vegetasi khas seperti alang-alang, rumput teki, gewar, dan rotan. Di sisi lain, keberagaman fauna turut memperkaya ekosistemnya—mulai dari ular sanca, ular sawah, burung kutilang, burung cangkakak, bincarung, hingga kera, lutung, dan babi hutan yang sesekali tampak melintas di tepi hutan.
Namun, yang membuat Situ Sangiang begitu istimewa bukan hanya keindahan alamnya, melainkan juga kisah sejarah dan spiritual yang menyelimuti danau alami ini. Menurut cerita turun-temurun, kawasan ini dahulu menjadi tempat pelarian pasukan Kerajaan Pajajaran yang mundur setelah Islam mulai berkembang pesat di tanah Sunda. Pasukan tersebut dikisahkan menghilang tanpa jejak di wilayah ini, sehingga masyarakat menyebut tempat ini “Sangiang”, yang berarti sesuatu yang suci atau gaib.
Tak jauh dari tepian situ, terdapat sebuah makam keramat yang diyakini sebagai pusara salah satu tokoh penyebar Islam di Majalengka dan sekitarnya. Makam tersebut kini menjadi tempat ziarah yang ramai dikunjungi, terutama oleh mereka yang ingin mencari ketenangan batin atau berdoa di tempat yang dianggap sakral ini. Beberapa pengunjung bahkan melakukan ritual mandi di tepi situ, sebagai simbol penyucian diri.
Menurut penuturan juru kunci setempat, Situ Sangiang dipercaya sebagai penjelmaan dari sebuah kerajaan kuno bernama Kerajaan Telaga. Dalam naskah sejarah Sunda, Kerajaan Telaga disebut sezaman dengan Pajajaran, Panjalu, Saung Galah, dan Sumedang Larang. Namun, keberadaan kerajaan ini diselimuti misteri besar. Konon, seluruh warganya lenyap tanpa bekas, dan sebagian diyakini berubah menjadi ikan yang hingga kini menghuni perairan telaga. Cerita ini dikenal masyarakat dengan sebutan legenda Kerajaan Telaga Manggung.
Bagi para peziarah dan pencinta sejarah, Situ Sangiang bukan sekadar destinasi wisata, melainkan ruang perenungan yang memadukan keheningan alam, jejak sejarah, dan nilai spiritual. Di balik riak airnya yang tenang, tersimpan kisah panjang tentang keagungan, kejatuhan, dan keabadian legenda Sunda yang masih hidup di hati masyarakat hingga kini.
Penulis : Kopka Irvan














