SUARARAKYAT.info||Jakarta– Presiden Prabowo Subianto akhirnya mengumumkan reshuffle kabinet yang sudah lama ditunggu publik. Salah satu perubahan paling mengejutkan adalah pencopotan Sri Mulyani Indrawati dari kursi Menteri Keuangan, posisi yang kemudian diisi oleh Dr. Purbaya Yudhi Sadewa, Ph.D.
Prosesi pelantikan berlangsung khidmat di Istana Negara, Jakarta, pada Senin sore (8/9/2025). Dalam upacara tersebut, Purbaya mengucapkan sumpah jabatan dengan janji setia pada UUD 1945 serta komitmen menjalankan tugas demi kepentingan bangsa. Presiden Prabowo langsung memandu pembacaan sumpah tersebut, disaksikan jajaran pejabat tinggi negara, pimpinan lembaga, dan para undangan.
Purbaya Yudhi Sadewa bukanlah wajah baru di dunia ekonomi nasional. Lahir di Bogor, 7 Juli 1964, ia menempuh pendidikan S1 di bidang Teknik Elektro di Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun, kecintaannya pada ilmu ekonomi membawanya melanjutkan studi hingga meraih gelar Master dan Doktor Ilmu Ekonomi di Purdue University, Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sepulang dari Amerika, Purbaya meniti karier di berbagai lembaga riset dan keuangan. Ia dikenal sebagai ekonom senior di Danareksa Research Institute sejak awal 2000-an dan sempat menjabat sebagai Chief Economist hingga 2013. Namanya cukup disegani di kalangan analis pasar modal karena kerap memberikan kajian mendalam terkait perekonomian nasional.
Jabatan Strategis di Pemerintahan
Purbaya mulai masuk ke ranah pemerintahan pada 2015 sebagai Staf Khusus Bidang Ekonomi di Kemenko Polhukam, kemudian berlanjut di Kementerian Koordinator Kemaritiman. Karier birokratisnya menanjak saat dipercaya sebagai Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi di Kemenko Marves (2018–2020).
Puncak kiprahnya sebelum menjadi menteri adalah ketika ia menjabat Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sejak 2020. Dalam kapasitas tersebut, ia memimpin institusi yang bertugas menjaga stabilitas sistem perbankan dan melindungi simpanan masyarakat, terutama saat krisis pandemi COVID-19.
Pengumuman pergantian Menkeu langsung direspons oleh pasar keuangan. IHSG tercatat melemah sekitar 1,3%, sementara rupiah sempat bergerak fluktuatif sebelum kembali stabil. Investor dinilai masih menimbang kredibilitas dan arah kebijakan ekonomi di bawah kepemimpinan Purbaya, terutama setelah sosok Sri Mulyani yang selama ini dianggap sebagai simbol disiplin fiskal tidak lagi berada di kursi tersebut.
Kendati begitu, Purbaya menegaskan optimismenya. Dalam pernyataan perdananya, ia menyebut target pertumbuhan ekonomi 8 persen bukan hal mustahil. “Dengan kolaborasi erat antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat, kita bisa mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi sekaligus menjaga stabilitas fiskal,” ujarnya.
Harapan dan Beban Berat
Sebagai Menteri Keuangan, Purbaya menghadapi tugas yang tidak ringan. Ia harus menjaga kredibilitas kebijakan fiskal di tengah tekanan politik, memastikan pembiayaan pembangunan tetap berkelanjutan, serta menata belanja negara agar sejalan dengan janji-janji kampanye pemerintah.
Selain itu, isu ketimpangan sosial, beban subsidi, serta defisit anggaran akan menjadi ujian besar di awal masa jabatannya. Tidak hanya itu, Purbaya juga dituntut mampu menenangkan pasar dan meyakinkan investor bahwa transisi kepemimpinan di Kementerian Keuangan tidak akan mengganggu arah reformasi ekonomi.
Pelantikan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan menandai babak baru dalam perjalanan ekonomi Indonesia. Dengan rekam jejak panjang sebagai ekonom, birokrat, sekaligus regulator keuangan, publik menaruh harapan bahwa ia mampu menjaga keseimbangan antara visi besar pemerintah dan stabilitas makroekonomi.
Namun, jalan yang ditempuhnya tidak akan mulus. Pasar menuntut kepastian, rakyat menginginkan keadilan ekonomi, dan dunia internasional mengharapkan kredibilitas fiskal tetap terjaga. Waktu akan membuktikan apakah Purbaya bisa menjawab tantangan itu, atau justru terbebani oleh ekspektasi yang begitu tinggi.
(*one)














