Suararakyat.info.Jakarta-Seruan keras kembali digaungkan oleh para aktivis anti korupsi, anti narkoba, dan pejuang keadilan sosial dari Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Anti Korupsi dan Penindasan (DPP GAKORPAN). Di bawah komando Dr. Bernard BBBI Siagian, S.H., Makp dan Agip Supendi, S.H. dari LBH Pers Presisi Polri serta Gerakan Solidaritas Nasional Suara Rakyat untuk Keadilan Indonesia, rakyat Indonesia diajak untuk bangkit dan bergerak secara masif melawan segala bentuk korupsi, pungli, dan perampasan hak rakyat yang terus berlangsung dari hulu hingga ke hilir.
Dalam pernyataan terbuka bertajuk “Selamat Pagi Indonesiaku, Akselerasi Tegakkan Keadilan Hulu dan Hilir”, GAKORPAN menyampaikan kegelisahan mendalam atas maraknya praktik korupsi berjamaah dan kerakusan oligarki tanah yang semakin menjadi-jadi, menyengsarakan jutaan rakyat kecil.
“Penindasan tidak hanya terjadi di gedung-gedung kekuasaan pusat, tapi juga merambah ke pelosok, ke hilir, tempat rakyat kehilangan tanah, rumah, sekolah, bahkan tempat ibadah mereka karena digusur paksa oleh mafia tanah dan spekulan rakus yang berkolaborasi dengan para penguasa daerah,” tegas Dr. Bernard.jumat (25/7/2025)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Aktivis GAKORPAN mencontohkan sejumlah kasus besar yang menjadi bukti nyata perampasan hak rakyat secara sistematis—dari Sampali dan eks HGU PTPN II di Deli Serdang, megaproyek reklamasi PIK 2 di Tangerang, hingga Pulo Rempang di Kepulauan Riau, konflik tanah di Aceh dan Sumatera Utara, hingga ke wilayah-wilayah di Morowali, Sorong, Papua Barat, dan Raja Ampat.
“Pengusaha-pengusaha besar, oligarki, dan mafia tanah menjadi monster penjajah dalam negeri. Mereka seperti vampire yang menghisap darah rakyat miskin, merampas lahan demi ambisi modal, dan seringkali dilindungi oleh kekuasaan,” terang Agip Supendi, aktivis hukum dan advokat dari LBH Pers.
GAKORPAN menegaskan bahwa perjuangan dari akar rumput atau hilir tidak boleh diremehkan, apalagi dicemooh oleh mereka yang berjuang di hulu, yakni di tataran kebijakan dan institusi pusat. Mereka mengkritik keras fenomena “silent majority” yang diam seribu bahasa di hadapan ketidakadilan sistemik yang terus berlangsung.
“Jangan sampai ada ketimpangan dan saling cemooh antara aktivis hulu dan hilir. Semua elemen perjuangan harus bersatu. Sebab, jika hulu rapuh, maka hilir hancur. Dan jika hilir lumpuh, maka hulu tak akan memiliki landasan rakyat,” ujar Bernard
Lebih lanjut, GAKORPAN menyoroti strategi licik para koruptor berjamaah yang tidak hanya menguras uang negara, namun juga membeli opini publik lewat para buzzer bayaran, menebar propaganda untuk membenarkan kejahatan mereka, bahkan menebar fitnah kepada para aktivis.
“Di sinilah pentingnya kita menjaga kesadaran publik, jangan biarkan karakter pejuang bangsa yang tulus dikorbankan oleh permainan adu domba dan pembunuhan karakter oleh kaki tangan koruptor,” tandas Agip.
Kantor DPP GAKORPAN yang juga berfungsi sebagai klinik herbal dan pusat terapi kesehatan alternatif milik Dr. Bernard di Cirendeu, Tangsel, menjadi pusat pertemuan para aktivis. Di sana, perjuangan dibalut dengan diskusi hangat, ngopi-ngopi rakyat, hingga pelayanan masyarakat dari urusan hukum, kesehatan, hingga pembinaan spiritual.
“Dari warkop kami bangun semangat. Ini bukan sekadar tempat kopi, tapi pusat penggalangan tekad. Tempat di mana rakyat bisa berbicara, bisa sembuh, bisa bangkit,” kata Rusman Pinem, aktivis sosial dari Sumatera Utara yang juga tergabung dalam GAKORPAN.
Menyongsong HUT ke-80 Republik Indonesia pada 17 Agustus 2025, GAKORPAN menyerukan agar seluruh elemen bangsa mengevaluasi ulang arah perjuangan. Mereka mendesak pemerintah untuk serius menangani akar persoalan: korupsi berjamaah, perampasan tanah, kolusi aparat, serta keterpurukan ekonomi.
“Kami ingin Indonesia emas 2045 bukan hanya mimpi. Tapi itu harus dibayar dengan perjuangan. Dengan jujur. Dengan bersih. Dengan menolak korupsi, menolak kompromi dengan kejahatan,” ujar Bernard dengan nada lantang.
GAKORPAN juga menyoroti bahwa tantangan ke depan semakin kompleks. Selain krisis internal akibat korupsi, rakyat juga menghadapi ancaman global: konflik Timur Tengah, ketegangan geopolitik, dan ancaman ekonomi global yang bisa menghantam Indonesia. Maka solidaritas rakyat, komitmen anti korupsi, dan tata kelola negara yang bersih menjadi syarat mutlak agar Indonesia tidak hancur seperti “kapal Nabi Nuh yang karam diterpa badai kerakusan”.
Dalam pernyataan penutupnya, Dr. Bernard, Agip Supendi, dan Rusman Pinem menegaskan satu hal penting:
“Jika kita tidak bersatu, jika kita biarkan ego dan kepentingan pribadi mengalahkan perjuangan rakyat, maka kita akan hancur. Tapi jika kita bersatudari hulu ke hilir dengan semangat relawan anti rasuah dan semangat bela negara, maka Indonesia bisa kita selamatkan bersama.”
“Jangan Gentar! Rapatkan Barisan! Gempur Koruptor Jamaah! Gakorpan Siap di Garda Depan untuk Indonesia Jaya!”
Sumber: Dr.Bernard BBBI Siagian













