Suararakyat.info.Sukabumi– Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi sektor pertanian mulai dari kelangkaan pupuk, keterbatasan permodalan, hingga degradasi kesuburan tanah akibat penggunaan bahan kimia sebuah harapan baru muncul dari Desa Salawi, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi. Kepala Desa Salawi, H. Zainal Muttaqin, menyatakan kesiapan dirinya untuk menjadi pelopor pertanian organik dengan mencoba sistem pertanian berbasis pupuk organik cair P20 di lahan percobaan seluas 3.000 meter persegi atau sekitar 30 patok sawah.

Komitmen ini disampaikan langsung dalam pertemuan bersama Ketua Umum Petani Milenial Organik, Djunaidi Tanjung, yang hadir memberikan edukasi dan motivasi kepada para petani dan perangkat desa. Dalam pemaparannya, Tanjung menyampaikan filosofi mendalam mengenai hubungan manusia dengan tanah. “Kita berasal dari tanah, makan dari hasil tanah, dan kelak kembali ke tanah. Tapi pernahkah kita meminta maaf pada tanah yang kita injak, yang kita cemari, bahkan kita racuni?” ujar Tanjung dengan penuh penekanan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan menggunakan pupuk organik, lanjut Tanjung, para petani tidak hanya berkontribusi menjaga ekosistem, tetapi juga menjalankan nilai-nilai spiritual dan sosial: hablum minallah (hubungan dengan Tuhan), hablum minannas (hubungan dengan sesama manusia), dan hablum minal alam (hubungan dengan alam). Pupuk cair P20 yang diperkenalkan telah memiliki legalitas produksi dan izin resmi, dan diharapkan dapat menjadi solusi dari permasalahan pupuk yang selama ini menghimpit petani.
Kepala Desa Salawi, H. Zainal Muttaqin, menyambut baik kehadiran Petani Milenial Organik. Ia menegaskan bahwa selama ini para petani di desanya kerap mengeluhkan persoalan pupuk, tenaga kerja, hingga minimnya pendampingan. Oleh karena itu, ia bertekad memulai perubahan dari dirinya sendiri. “Kalau hasilnya bagus, InsyaAllah seluruh masyarakat kami yang memiliki kurang lebih 118 hektare sawah akan mengikuti. Saya ingin memberi contoh bahwa perubahan bisa dimulai dari kepala desa,” tegas Zainal.(7/7/2025)

Kebahagiaan juga dirasakan oleh Ayi, salah satu penggarap sawah yang dipercayakan mengelola lahan percobaan tersebut. Bersama lima anggota timnya, ia merasa sangat terinspirasi dengan penjelasan teknis dan filosofi pertanian yang disampaikan Tanjung. “Selama ini kami bertani seadanya, tapi hari ini kami mendapat ilmu yang luar biasa: mulai dari pengecekan pH tanah, pemuliaan bibit, hingga proses hulu ke hilir pertanian. Ini sangat membangkitkan semangat kami,” ujar Ayi.
Ia berharap seluruh petani di Desa Salawi dan di Indonesia pada umumnya bisa mulai sadar akan pentingnya beralih ke sistem pertanian organik, demi kesehatan tanah, hasil panen, serta masa depan generasi mendatang. “Semoga yang kita tanam bukan hanya padi, tapi juga kesadaran dan harapan baru bagi pertanian Indonesia,” pungkasnya.
(Herlan)














