Pakar Hukum M.Jaya, S.H., M.H., M.M:Reformasi Kehakiman dan Peran Strategis Komisi Yudisial, Menembus Sekat Kekuasaan yang Resisten

- Penulis

Selasa, 1 Juli 2025 - 07:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suararakyat.info.Jakarta- Dua dekade telah berlalu sejak Komisi Yudisial (KY) dibentuk sebagai lembaga konstitusional yang membawa harapan untuk memperkuat integritas dan akuntabilitas dalam tubuh kekuasaan kehakiman di Indonesia. Namun, harapan itu belum sepenuhnya terwujud. Di tengah upaya menegakkan etika dan marwah peradilan, KY justru kerap dihadang oleh dinding tebal resistensi kelembagaan dan keterbatasan struktural.selasa (1/7/2025)

Dalam sebuah refleksi yang disusun oleh praktisi hukum dan akademisi M. Jaya, S.H., M.H., M.M, diuraikan peran strategis KY sebagai pengawal moralitas hakim, serta berbagai tantangan nyata yang terus membelit lembaga ini. Mengusung tajuk “Menjaga Marwah Kehakiman”, tulisan itu menjadi cermin tentang betapa pentingnya memperkuat peran KY bukan hanya sebagai pengawas, tapi juga sebagai pilar reformasi peradilan yang kredibel.

Lahir dari Konstitusi, Terjebak dalam Birokrasi

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Komisi Yudisial lahir dari Pasal 24B UUD 1945, dengan mandat utama: mengusulkan pengangkatan hakim agung dan menjaga keluhuran perilaku hakim. Tugas-tugas ini kemudian diperjelas dalam UU No. 22 Tahun 2004 yang diperbarui melalui UU No. 18 Tahun 2011. KY didesain sebagai lembaga independen yang tidak tunduk pada Mahkamah Agung (MA), Presiden, maupun DPR. Namun dalam praktiknya, lembaga ini kerap berada dalam posisi sulit antara menjalankan fungsi konstitusional dan menghadapi tekanan institusi peradilan itu sendiri.

Tugas Vital dalam Sistem Checks and Balances

Selain menyeleksi calon Hakim Agung, KY juga menerima dan menindaklanjuti ribuan laporan dari masyarakat terkait dugaan pelanggaran etika oleh hakim. Sejak 2005, lebih dari 23.000 laporan telah diterima. Namun, rekomendasi KY kerap hanya berhenti di meja MA, tanpa tindak lanjut yang memadai.

Di sisi lain, KY telah membuktikan integritasnya dengan menerapkan seleksi ketat terhadap calon hakim agung. Dalam periode 2022–2024, dari 56 nama yang disaring, hanya delapan yang lolos seleksi untuk direkomendasikan ke DPR. Hal ini menegaskan posisi KY sebagai penjaga standar etik dan profesionalisme di lingkungan yudikatif.

READ  Zuli Zulkipli, S.H.: Komite Reformasi Polri Harus Jadi Momentum Perbaikan Total Institusi Kepolisian

Salah satu tantangan terbesar KY adalah pembatasan kewenangannya pasca Putusan MK No. 005/PUU-IV/2006 yang menegaskan bahwa KY tidak bisa mengawasi hakim konstitusi dan tidak memiliki kewenangan atas aspek teknis yudisial. Rekomendasi KY pun bersifat tidak mengikat, sehingga kerap diabaikan oleh Mahkamah Agung.

Kasus pada 2023 menjadi contoh nyata. KY menemukan pelanggaran etik oleh seorang hakim di Pengadilan Negeri Medan terkait perkara korupsi. Namun sanksi yang dijatuhkan MA hanya berupa teguran ringan. Publik pun mempertanyakan komitmen lembaga peradilan tertinggi dalam menegakkan etik dan disiplin internal.

Solusi: Revisi Undang-Undang dan Digitalisasi Sistem

Berbagai pihak kini menyerukan penguatan KY melalui langkah-langkah strategis, antara lain:

Revisi Undang-Undang KY agar hasil rekomendasi etik menjadi mengikat secara hukum;

Harmonisasi kewenangan antara KY dan MA melalui protokol bersama;

Penambahan anggaran dan personel KY, termasuk perluasan kantor penghubung ke seluruh provinsi;

Penerapan teknologi pelaporan berbasis kecerdasan buatan yang menjamin anonimitas pelapor;

Kampanye publik etika kehakiman agar masyarakat lebih aktif sebagai pengawas.

Menurut M. Jaya, keberadaan KY bukan hanya tentang menjaga perilaku hakim, tetapi juga tentang membangun kepercayaan publik terhadap sistem peradilan. “KY adalah cermin nilai moral negara hukum. Tanpa KY yang kuat, peradilan akan kehilangan dimensi etiknya,” tegasnya.

Reformasi peradilan yang sejati tidak akan mungkin terwujud jika pengawasan eksternal dilemahkan. Penguatan KY adalah agenda kebangsaan, bukan sekadar agenda kelembagaan. Tanpa keberanian politik untuk mereformasi sistem, maka peradilan akan terus berjalan di atas rel impunitas yang terselubung oleh formalitas hukum.

Komisi Yudisial berada di persimpangan jalan. Ia bisa tetap menjadi simbol yang dibatasi, atau diubah menjadi kekuatan nyata dalam menegakkan martabat kehakiman. Di tengah krisis kepercayaan terhadap lembaga yudikatif, penguatan KY adalah langkah krusial menuju sistem peradilan yang adil, jujur, dan bermartabat bukan hanya di atas kertas, tapi juga dalam kenyataan sehari-hari.

 

(S Handoko)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Disdik Inhil Pastikan SPMB 2026 Berjalan Transparan dan Gratis, Pendaftaran Tetap Dibantu Sekolah Jika Terkendala Sistem
173 Jemaah Haji Asal Inhil Tiba di Tanah Air, Disambut Langsung Wakil Bupati Yuliantini di Embarkasi Batam
Pimpinan Media Pewarta se-Nusantara: Kritik Harus Mengedepankan Adab dan Etika
DPP ASWIN Gelar Forum Zoom Nasional Investigasi, Dorong Jurnalisme Berkualitas
Dugaan Aliran BBM Puluhan Ribu Liter ke Perusahaan Ebi Mencuat, Warga Minta Transparansi dan Penegakan Hukum Jangan Tutup Mata
Yakub F Ismail : Saat BBM Nonsubsidi Naik di Tengah Rupiah Melemah
Dirjen Imigrasi Tegaskan Reformasi Total, Ajak Jajaran Bangun Kembali Kepercayaan Publik
SENGKARUT MBG: INVESTOR DESAK BGN TEGAKKAN PKS ATAU KEMBALIKAN DANA RP 218 MILIAR
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 11:32 WIB

Disdik Inhil Pastikan SPMB 2026 Berjalan Transparan dan Gratis, Pendaftaran Tetap Dibantu Sekolah Jika Terkendala Sistem

Selasa, 16 Juni 2026 - 01:54 WIB

173 Jemaah Haji Asal Inhil Tiba di Tanah Air, Disambut Langsung Wakil Bupati Yuliantini di Embarkasi Batam

Senin, 15 Juni 2026 - 23:33 WIB

Pimpinan Media Pewarta se-Nusantara: Kritik Harus Mengedepankan Adab dan Etika

Minggu, 14 Juni 2026 - 13:58 WIB

DPP ASWIN Gelar Forum Zoom Nasional Investigasi, Dorong Jurnalisme Berkualitas

Jumat, 12 Juni 2026 - 23:36 WIB

Dugaan Aliran BBM Puluhan Ribu Liter ke Perusahaan Ebi Mencuat, Warga Minta Transparansi dan Penegakan Hukum Jangan Tutup Mata

Berita Terbaru