Perang Iran – Israel: Sketsa Pengulangan Sejarah Perang Persia-Romawi Tahun 614?

- Penulis

Senin, 23 Juni 2025 - 12:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suararakyat.info.Internasional- selama ini banyak beredar Pandangan bahwa Perang Iran-Israel sekarang adalah pengulangan Perang Persia-Romawi tahun 614 M dan menariknya, ia berakar pada tafsir historis dan spiritual terhadap nubuat Rasulullah SAW serta ayat-ayat Al-Qur’an, khususnya Surah Ar-Rum.

Pada masa Rasulullah SAW, dua kekuatan besar dunia adalah Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) dan Kekaisaran Persia (Sasaniyah). Ketika Persia mengalahkan Romawi dan merebut Yerusalem sekitar tahun 614 M, kaum musyrik Quraisy bersorak karena Persia dianggap mewakili kaum penyembah api (Majusi), sedangkan Romawi adalah Ahli Kitab. Kaum Muslimin justru bersedih.
Namun, turunlah Surah Ar-Rum ayat 2–4: “Telah dikalahkan bangsa Romawi di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang dalam beberapa tahun.” (QS. Ar-Rum: 2–4). Dan benar, sekitar tujuh tahun kemudian, Romawi membalas dan menang atas Persia dalam Perang Nineveh (627 M). Ini dianggap sebagai bukti nubuat Al-Qur’an yang terbukti secara historis.

Kaitannya dengan Perang Iran-Israel Sekarang
Sebagian umat Muslim melihat konflik Iran-Israel sebagai kelanjutan simbolik dari konflik Persia-Romawi, dengan Iran mewakili “Persia” dan Israel (yang didukung Barat) mewakili “Romawi.” Dalam narasi ini, mereka mengaitkan kemenangan Romawi atas Persia sebagai isyarat bahwa kekuatan Barat akan kembali unggulatau sebaliknya, bahwa Iran akan membalikkan keadaan seperti Persia dulu.
Namun, penting dicatat bahwa ini adalah tafsir simbolik dan bukan prediksi literal. Tidak ada hadis sahih yang secara eksplisit menyebut Iran atau Israel modern. Tapi umat Muslim sering mengaitkan peristiwa besar dengan nubuat akhir zaman, termasuk Surah Al-Isra ayat 4–7 dan hadis-hadis tentang dua kerusakan besar Bani Israil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tentu, Al. Ini dia analisis perbandingan antara konflik Persia–Romawi di masa klasik dan konflik Iran–Israel di era modern. Meski konteksnya sangat berbeda, banyak umat Muslim melihat keduanya sebagai cerminan simbolik dari pertarungan lama antara Timur dan Barat, atau antara kekuatan Islam dan kekuatan imperialis.

1. Latar Sejarah dan Identitas Peradaban
Persia–Romawi (Abad ke-6–7 M):
Kekaisaran Persia (Sasaniyah) dan Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) adalah dua kekuatan superpower dunia kuno. Persia mewakili peradaban Timur yang beragama Zoroaster, sementara Romawi Timur mewakili peradaban Barat Kristen. Keduanya terlibat dalam perang panjang, termasuk perebutan Yerusalem, yang sempat dikuasai Persia pada 614 M sebelum direbut kembali oleh Romawi pada 628 M.

Iran–Israel (Abad ke-21):
Iran modern mewarisi identitas Persia dan menjadi kekuatan utama di Timur Tengah yang menentang dominasi Barat dan Israel. Israel, yang didukung oleh Amerika Serikat dan sekutu Barat, sering diposisikan sebagai representasi kekuatan “Romawi modern” dalam narasi simbolik. Konflik ini juga melibatkan isu agama, geopolitik, dan sejarah panjang kolonialisme.

READ  Indonesia Perkuat Komitmen Pembangunan Desa di Global Saemaul Leadership Forum 2025 Korea Selatan

2. Posisi Yahudi dalam Dua Konflik
Di Era Persia–Romawi:
Menariknya, pada masa Kekaisaran Persia Sasaniyah, komunitas Yahudi justru dilindungi dan diberi posisi penting. Mereka mendukung Persia dalam merebut Yerusalem dari Romawi karena mengalami diskriminasi berat di bawah kekuasaan Kristen Bizantium.
Di Era Iran–Israel:
Kini, posisi terbalik. Iran memusuhi Israel karena dianggap sebagai penjajah Palestina dan simbol zionisme global. Iran mendukung kelompok-kelompok perlawanan seperti Hamas dan Hizbullah, dan menyebut dirinya sebagai pelindung Palestina. Sementara Israel, sebagai negara Yahudi modern, justru bersekutu dengan kekuatan Barat.

3. Dimensi Agama dan Nubuat
Persia–Romawi:
Surah Ar-Rum (ayat 2–4) menyebut kekalahan Romawi oleh Persia dan kemenangan Romawi beberapa tahun kemudian. Ini dianggap sebagai nubuat Al-Qur’an yang terbukti benar. Banyak Muslim melihat ini sebagai bukti bahwa sejarah dunia bergerak dalam pola yang telah digariskan.
Iran–Israel:
Sebagian umat Muslim menafsirkan konflik Iran–Israel sebagai kelanjutan simbolik dari konflik Persia–Romawi. Dalam narasi ini, Iran dianggap sebagai “Persia” yang kembali menantang dominasi “Romawi” modern (Israel dan sekutunya). Namun, ini adalah tafsir simbolik, bukan prediksi literal.

4. Strategi dan Daya Tempur
Persia–Romawi:
Perang berlangsung dalam bentuk ekspansi wilayah, pengepungan kota, dan perebutan pusat-pusat suci seperti Yerusalem. Kemenangan berganti-ganti, hingga akhirnya keduanya melemah dan ditaklukkan oleh kekuatan baru: Islam.
Iran–Israel:
Konflik berlangsung dalam bentuk serangan udara, perang siber, dan dukungan terhadap kelompok proxy. Iran memiliki jaringan milisi di Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman. Israel unggul dalam teknologi militer dan intelijen, tetapi Iran unggul dalam ketahanan dan strategi asimetris.

Kesimpulan: Sejarah Berulang dalam Bentuk Baru
Konflik Persia–Romawi dan Iran–Israel tidak identik, tapi memiliki pola simbolik yang serupa, yaitu: pertarungan antara dua peradaban besar, dengan Yerusalem sebagai titik sentral. Dalam kedua kasus, agama, identitas, dan geopolitik saling bertaut. Namun, sejarah juga mengajarkan bahwa kekuatan besar bisa runtuh oleh keangkuhan, dan bahwa perubahan besar sering lahir dari pinggiran, bukan dari pusat kekuasaan.

Sumber:Aceng Syamsul Hadie,S.Sos.,MM.Ketua Dewan Pembina DPP ASWIN (Asosiasi Wartawan Internasional).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Yakub F Ismail,Di Balik Gencatan: Implikasinya bagi Indonesia
Aceng Syamsul Hadie: Segera Keluar dari BoP (Board of Peace) Sekarang, Jangan Biarkan Indonesia Dijadikan Alat Legitimasi Penjajahan
Pemerintah Kerajaan Maroko Tegaskan Keamanan Teluk adalah Harga Mati bagi Maroko
Finlandia Dukung Otonomi di Bawah Kedaulatan Maroko sebagai Solusi Sahara Maroko
Aceng Syamsul Hadie: Segera Keluar dari BoP ala Trump, Indonesia Jangan Jadi Kaki Tangan Blok Geopolitik Barat
Aceng Syamsul Hadie: Perjanjian Dagang AS – Indonesia, Stabilitas Tarif atau Menggadaikan Kedaulatan..?!
Budaya Leluhur Bangkit di Pesta Rakyat Kecamatan Pasan Tahun 2026
Menenun Perdamaian Dunia dari Davos: Kepemimpinan Visioner HM Raja Mohammed VI dan Pengesahan Piagam “Board of Peace”
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 9 April 2026 - 01:00 WIB

Yakub F Ismail,Di Balik Gencatan: Implikasinya bagi Indonesia

Senin, 9 Maret 2026 - 02:42 WIB

Aceng Syamsul Hadie: Segera Keluar dari BoP (Board of Peace) Sekarang, Jangan Biarkan Indonesia Dijadikan Alat Legitimasi Penjajahan

Senin, 2 Maret 2026 - 23:41 WIB

Pemerintah Kerajaan Maroko Tegaskan Keamanan Teluk adalah Harga Mati bagi Maroko

Senin, 2 Maret 2026 - 23:37 WIB

Finlandia Dukung Otonomi di Bawah Kedaulatan Maroko sebagai Solusi Sahara Maroko

Minggu, 1 Maret 2026 - 23:20 WIB

Aceng Syamsul Hadie: Segera Keluar dari BoP ala Trump, Indonesia Jangan Jadi Kaki Tangan Blok Geopolitik Barat

Berita Terbaru

Berita Daerah

GWN Dorong UMKM Bergerak di CFD Bengkalis 2–3 Mei 2026

Selasa, 21 Apr 2026 - 12:56 WIB

Berita Daerah

Percepatan Pembangunan Jembatan Garuda Tahap IV Capai 45 Persen

Selasa, 21 Apr 2026 - 04:34 WIB