Suararakyat.info.Jakarta-Teriakan keadilan kembali menggema dari jantung Ibu Kota. Di tengah deru eskavator dan tangis rakyat kecil yang rumah dan sekolahnya dihancurkan secara paksa di wilayah Sampali, Kabupaten Deli Serdang, sejumlah tokoh nasional bersuara lantang. Mereka bukan hanya menyuarakan protes, tapi menyuarakan hati nurani bangsa yang terluka. Jurnalis senior dan aktivis perempuan, Bunda Nelly Pardede bersama Srikandi Farida Sebayang, serta tokoh mahasiswa nasional Debby Grace Siagian, tampil sebagai corong suara rakyat yang tertindas, dan menuding kebijakan penggusuran di Sumatera Utara sebagai bentuk nyata kolusi penguasa, aparat, dan oligarki tanah.
Sabtu pekan lalu, ratusan aparat gabungan dari Satpol PP, Polri, dan ormas berbaju loreng melakukan penggusuran brutal terhadap pemukiman warga, termasuk lembaga pendidikan PAUD dan sekolah di Jl. Kesuma Mandoge, Bulu Cina, Deli Serdang. Bangunan dihancurkan dengan alat berat. Tangis anak-anak dan jeritan orang tua seakan tak berarti di hadapan beko dan bulldozer yang digerakkan atas nama kekuasaan.
“Ini bukan sekadar penggusuran. Ini adalah pembantaian harapan. Penjajahan oleh bangsa sendiri. Tragedi Sampali adalah lembaran kelam dalam sejarah kita,” tegas Bunda Nelly Pardede saat menyampaikan pernyataan sikapnya di Jakarta, Senin (16/6).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Aktivis vokal Srikandi Farida Sebayang menambahkan bahwa apa yang terjadi di Sumatera Utara adalah buah dari keserakahan sindikat penguasa dan pengusaha yang berlindung di balik kebijakan hukum formal.
“Negara ini telah dicetak oleh dunia untuk menjadi keras dan tega. Emosi rakyat diarahkan untuk membenci, marah, dan saling mencurigai. Kita melawan cetakan itu! Kita harus bersukacita, karena itulah kehendak Tuhan,” serunya dalam nada emosi bercampur khotbah saat diwawancarai redaksi.
Menurut Farida, apa yang terjadi di Sumut tidak lepas dari persekongkolan antara mafia tanah, elite birokrasi, dan aparat penegak hukum yang menghalalkan segala cara. “Bahkan ormas berbaju loreng yang seharusnya menjaga rakyat, justru ikut menakut-nakuti rakyat demi kepentingan investasi hitam,” tegasnya.
Kegaduhan nasional pun bertambah dengan mencuatnya kontroversi klaim 4 pulau Aceh yang kini disebut-sebut masuk dalam tata kelola Provinsi Sumatera Utara, sesuai kebijakan dari Kemendagri. Hal ini memantik gelombang amarah rakyat Aceh, yang merasa dikhianati perjanjian damai Helsinki dan kesepakatan historis tahun 1990 antara Gubernur Sumut Raja Inal Siregar dan Gubernur NAD saat itu.
“Kebijakan Mendagri Tito Karnavian dan Wali Kota Medan Bobby Nasution sungguh melukai rakyat Aceh. Apalagi ini terjadi ketika luka penggusuran dan ketidakadilan belum sembuh,” kata Bunda Nelly. Ia menyerukan kepada Presiden RI terpilih H. Prabowo Subianto untuk segera bersikap tegas dan menyetop polemik ini sebelum menjelma menjadi konflik horizontal dan krisis kepercayaan nasional.
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta, Debby Grace Siagian, ikut menyuarakan keprihatinannya. Ia mewakili generasi muda yang kecewa terhadap pelanggaran HAM dan penyelewengan aset negara.
“Mari bersukacita dalam Tuhan, seperti tertulis dalam Filipi 4:4-7. Sekalipun kita dikepung oleh ketidakadilan dan pengkhianatan elite, kita tidak boleh kehilangan pengharapan,” ujarnya sambil mengutip ayat suci, menyiratkan bahwa perlawanan moral dan spiritual tetap harus dinyalakan.
Ketua Umum DPP GAKORPAN, LBH Pers Presisi POLRI dan pendiri Gerakan Suara Nasional Rakyat Indonesia (GSN-RBRPG.08), Dr. Bernard BBBI Siagian, SH., menyatakan bahwa sudah saatnya bangsa ini membongkar cetakan dunia yang memaklumi keserakahan dan ketidakadilan sebagai hal yang “wajar”.
“Ketakutan, dendam, kekhawatiran, itu adalah respons dunia. Kita diajarkan Tuhan untuk bersukacita dalam segala hal. Maka, kita harus lawan pola dunia ini dengan pola surgawi. Jangan biarkan rakyat terus dikorbankan oleh skenario oligarki dan kerakusan penguasa,” tandasnya.
Indonesia Emas 2045: Harapan atau DelusiDelus
Dalam akhir pernyataan, Bunda Nelly Pardede dan rekan-rekannya menyerukan doa syafaat untuk Presiden Jenderal H. Prabowo Subianto agar senantiasa diberi kesehatan dan kekuatan untuk membawa bangsa ini ke arah perubahan nyata. Mereka mendesak Presiden untuk mengevaluasi ulang semua kebijakan bermuatan oligarki dan memprioritaskan keadilan sosial di atas segala kepentingan bisnis dan investor.
“Menuju Indonesia Emas 2045 bukan hanya tentang infrastruktur megah dan investasi. Tapi juga tentang kemanusiaan, keadilan, dan ketulusan hati pemimpin untuk mencintai rakyatnya,” pungkas Bunda Nelly dengan mata berkaca-kaca.
Salam Presisi. Salam Keadilan. Tuhan Beserta Rakyat yang Diperjuangkan
(Dr.Bernard)














