Skandal Ekspor Ilegal Nikel dan Perusakan Hutan di Raja Ampat: Uang Rakyat Mengalir Kemana ?

- Penulis

Jumat, 13 Juni 2025 - 04:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suararakyat.info.Jakarta-Sorotan tajam kini tertuju pada Raja Ampat, Papua Barat. Di balik keindahan alamnya yang mendunia, tersimpan luka ekologis dan skandal ekonomi besar: dugaan ekspor ilegal sekitar 5 ton bijih nikel ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT) pada tahun 2021–2022. Padahal, pemerintah Indonesia secara resmi telah melarang ekspor bijih nikel mentah sejak tahun 2020. Maka pertanyaannya: ke mana sebenarnya aliran uang rakyat ini mengalir?

Kasus ini mencuat ke permukaan melalui kerja investigatif jurnalis senior Dr. Bernard BBBI Siagian, SH, Makp, Ketua DPP GAKORPAN bersama Aktivis PPPPA-PPWI Bunda Farida Sebayang, dengan sokongan data dari Srikandi Ny. Nelly Pardede, Ketua PPWI Sampali Deli Serdang sekaligus anggota Tim B PLUS yang dikenal aktif di tiga kota di Sumatera Utara.(13/6/2025)

Mereka menyoroti keterkaitan kuat antara kasus ini dengan kerusakan konservasi alam di wilayah hutan lindung Raja Ampat, di mana kawasan ini sejatinya memiliki perlindungan hukum yang kuat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ironisnya, data awal justru terungkap dari Bea Cukai China yang dilansir oleh Ketua Satgas Koordinasi Supervisi Wilayah V KPK, Dian Patria. “Data ini sumbernya dari Bea Cukai China,” ujar Dian dalam pernyataan publik sebelum masa pelemahan KPK melalui revisi UU KPK yang disebut-sebut menelan biaya USD 3 juta untuk diloloskan di DPR.

Kuat dugaan bahwa nikel yang diekspor ini berasal dari tambang di wilayah Raja Ampat, yang telah lama dikaitkan dengan perusahaan tambang raksasa, salah satunya PT Gag Nikel. Perusahaan ini memperoleh izin eksplorasi sejak diterbitkannya Keputusan Presiden (Keppres) No. 41 Tahun 2004 oleh Presiden Megawati Soekarnoputri, yang membolehkan 13 perusahaan tambang beroperasi di kawasan hutan lindung dengan sistem izin pinjam pakai.

READ  Momen Open House Prabowo Subianto di Istana Merdeka. Dihadiri Sejumlah Pejabat

Kini, di era Presiden Jenderal (Purn) H. Prabowo Subianto, empat dari perusahaan pemegang izin di hutan lindung telah dicabut perizinannya, termasuk yang diduga kuat terlibat dalam ekspor ilegal tersebut. Namun, publik menuntut lebih dari sekadar pencabutan izin.

Skandal ini menyeret banyak pihak dan bahkan disebut-sebut berkaitan dengan “bekas penguasa” berinisial JK, yang namanya muncul di manifes kapal tongkang pengangkut nikel ilegal tersebut. Fakta ini memperkuat dugaan adanya mafia tambang terorganisir dan praktik korupsi berjamaah yang selama ini bersembunyi di balik izin legal

Aktivis dan masyarakat sipil yang tergabung dalam koalisi GAKORPAN, PPPA, dan PPWI menyerukan kepada Presiden H. Prabowo Subianto dan Kejaksaan Agung untuk bersikap tegas dan berani membongkar kasus ini secara menyeluruh. Tak cukup berhenti pada pengungkapan data, tetapi harus dilanjutkan dengan penyidikan, penyelidikan, penangkapan, dan proses hukum terhadap pelaku-pelaku utama.

“Ini bukan sekadar soal izin tambang, tetapi soal pengkhianatan terhadap rakyat dan lingkungan hidup. Kerugian ekologis dan ekonomi akibat ekspor ilegal ini tak terbayarkan,” tegas Bunda Farida Sebayang dalam pernyataan nya

Sebagai pilar keempat demokrasi, pers memegang peran penting dalam mengawasi jalannya pemerintahan dan menegakkan keadilan. Sesuai dengan UU Pers No. 40 Tahun 1999, para jurnalis yang tergabung dalam Tim Investigasi ini menolak dibungkam dan terus menggali fakta-fakta baru terkait skandal ini.

“Jangan sampai kejaksaan dan aparat penegak hukum hanya menjadi penonton. Ini saatnya menegakkan hukum tanpa pandang bulu,” tutup Dr. Bernard Siagian.

 

#TangkapMafiaNikel
#SelamatkanRajaAmpat
#TegakkanHukum
#UangRakyatMengalirKeMana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hari Kartini 2026, Wapres Gibran Rakabuming Raka Berbagi Kebahagiaan dengan Mama-Mama Papua Di Sorong
Wapres Gibran Rakabuming Raka Disambut Tarian Budaya saat Kunjungan Kerja di Sorong
Wapres Gibran Turun Langsung ke Saga Sorong, Ajak Mama-Mama Papua Belanja Bersama Dan Berdialog
1.900 Personel Siap Amankan Kunjungan Gibran Rakabuming Raka di Papua Barat Daya
Jelang Kunjungan Wapres Gibran Di Sorong, Pemprov Papua Barat Daya Matangkan Seluruh Persiapan
Heboh Dugaan Kasus Pelecehan Seksual di FHUI, Ketum DePA-RI: Jadikan Kampus Sebagai Ruang yang Aman dan Inklusif   
Skandal Laptop Siluman BGN: Menguak Korupsi Ratusan Miliar Berkedok Transformasi Digital, Peruri Terlibat
DPR Kota Sorong Dorong Penyelesaian Internal Terkait Pemalangan Kantor Distrik Sorong Barat
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 21 April 2026 - 14:57 WIB

Hari Kartini 2026, Wapres Gibran Rakabuming Raka Berbagi Kebahagiaan dengan Mama-Mama Papua Di Sorong

Selasa, 21 April 2026 - 14:06 WIB

Wapres Gibran Rakabuming Raka Disambut Tarian Budaya saat Kunjungan Kerja di Sorong

Selasa, 21 April 2026 - 10:02 WIB

Wapres Gibran Turun Langsung ke Saga Sorong, Ajak Mama-Mama Papua Belanja Bersama Dan Berdialog

Senin, 20 April 2026 - 10:03 WIB

1.900 Personel Siap Amankan Kunjungan Gibran Rakabuming Raka di Papua Barat Daya

Senin, 20 April 2026 - 04:25 WIB

Jelang Kunjungan Wapres Gibran Di Sorong, Pemprov Papua Barat Daya Matangkan Seluruh Persiapan

Berita Terbaru

TNI

Kodaeral XIV Hadiri Peringatan Hari Kartini di Sorong

Selasa, 21 Apr 2026 - 14:51 WIB