Suararakyat.info.Jakarta – Dalam sebuah pernyataan tajam yang mengguncang ruang diskursus nasional, Jurnalis senior dan pengamat hukum kebebasan pers, Dr. Bernard Rusman Pinem dari DPP GAKORPAN, LBH Pers Presisi GSN RBRPG.08, mengangkat suara lantang menyoroti posisi kampus sebagai mesin pencetak generasi Indonesia Emas.
Menurutnya, kampus seharusnya menjadi pusat pembentukan karakter sumber daya manusia (SDM) yang berakhlak dan berkualitas. “Karakter” di sini dimaknai bukan sekadar sikap, tapi seluruh perangkat kepribadian seperti perilaku, moral, cara berpikir, hingga teknik kontemplatif yang substansial dalam mempercepat kemajuan pendidikan.
Dr. Bernard mengkritik keras kecenderungan pembungkaman suara-suara kritis dari mahasiswa. Ia menyebut bahwa aspirasi kampus berbeda dari masyarakat awam karena dilandasi dengan landasan intelektual, data akurat, logika sistemik, dan steril dari kepentingan pragmatis. “Protes mahasiswa terhadap sistem birokrasi yang timpang adalah panggilan moral, bukan sekadar agitasi jalanan,” tegasnya.selasa(27/5/2025)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam narasi filosofisnya, ia bahkan menarik analogi spiritual: Nabi Adam AS memakan buah kuldi sebagai bentuk ‘protes eksistensial’, yang kemudian melahirkan peradaban manusia berakhlak. Dengan itu, ia menyindir, “Jika mahasiswa dilarang menyuarakan aspirasi, maka kita telah mengkebiri fungsi kampus sebagai ruang demokrasi.”
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa kampus tanpa kebebasan akan berubah menjadi ‘kuburan intelektual’, tempat para penghuni hanya hidup berdasarkan rutinitas biologis tanpa nalar seperti robot atau bahkan primata.
“Kampus yang kehilangan roh intelektualnya hanya akan menghasilkan evolusi biologis, bukan ilmiah. Sebuah sistem berpikir yang lumpuh dan tumpul,” tambahnya.
Menurutnya, bila suara minoritas intelektual terus dibungkam, Indonesia tidak sedang melangkah menuju Indonesia Emas, melainkan mundur ke dalam goa kegelapan intelektual. “Di sana, cahaya pencerahan hanya muncul setahun sekali. Aneh, tapi nyata.”
Dr. Bernard menutup pernyataannya dengan seruan nasionalis: “Salam ASTA CITA, Pancasila, UUD 1945.”
Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa pembungkaman kampus bukan hanya serangan terhadap mahasiswa, tetapi ancaman nyata terhadap masa depan demokrasi dan keberlangsungan bangsa.
Sumber: Dr.Bernard, Rusman Pinem














