Suararakyat.info.Sukabumi– Di tengah semarak program-program kesehatan yang sering digaungkan pemerintah, kenyataan pahit justru menampar seorang ayah bernama abah ajat, warga Kampung Babakan Baru, Desa Banyumurni, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Sukabumi. Video dirinya membonceng balita sakit di atas sepeda motor menuju rumah sakit viral di berbagai grup WhatsApp, menggugah simpati sekaligus kemarahan publik. Bukan karena sensasi, tetapi karena fakta memilukan: akses kesehatan dasar masih menjadi kemewahan bagi sebagian rakyat Indonesia.
Anaknya yang baru berusia 21 bulan tengah sakit dan sempat dibawa ke Puskesmas Cibitung. Namun, karena kondisi si kecil memerlukan penanganan lebih serius, pihak puskesmas merujuknya ke RSUD Jampang Kulon. Di titik itulah perjuangan abah ajat sebagai seorang ayah diuji.
“Kuduna abah ti imah teh mawa anak make ambulan, kusabab titah mayar 200 rebu kapaksa dibawa dina motor.soalna anak abah iye step.” Ujarnya (Bahasa sunda-Red) dalam rekaman video yang berdurasi singkat
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam kondisi panik dan tanpa pilihan, ia sempat pulang ke rumah hanya untuk berganti pakaian dan menenangkan diri. Tak ada ambulans yang segera disediakan. Tak ada jaminan transportasi dari pemerintah desa. Yang ada hanyalah satu sepeda motor tua dan tekad kuat seorang ayah membawa anaknya agar bisa tetap hidup.
Yang lebih menyayat, mengabarkan bahwa mereka diminta membayar biaya administrasi ambulans sebesar Rp 200 ribu. Bagi sebagian orang, angka itu mungkin receh. Tapi bagi keluarga yang sedang berjibaku dengan kecemasan dan kesempitan ekonomi, itu adalah angka yang bisa menentukan antara menunggu atau segera bertindak.(23/5/2025)
Peristiwa ini menelanjangi banyak hal: ketidaksiapan layanan kesehatan primer, miskinnya sistem rujukan darurat, hingga tidak adanya kebijakan operasional yang peka terhadap warga miskin. Ironisnya, di waktu yang sama, para pejabat sering berseloroh soal ‘ngopi bareng rakyat’ atau menggelar seremoni mewah atas nama pelayanan publik.
Abah Ajat bukan satu-satunya. Ia hanya menjadi simbol dari sistem yang abai. Jika hari ini publik tergerak karena sebuah video viral, berapa banyak warga lainnya yang sunyi dalam perjuangannya?
Pemerintah daerah dan pusat perlu menjawab ini, bukan dengan klarifikasi dangkal atau empati dadakan, melainkan dengan langkah nyata dan sistemik. Karena ketika rakyat kecil harus memilih antara nyawa dan ongkos, maka jelas negara sedang gagal hadir.
(Hilman)














