Suararakyat.info.Jakarta – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan ibu kota, kisah perjuangan seorang perempuan sepuh bernama Bunda Tiur Simamora (76) dari Pulogadung, Jakarta Timur, mencuat ke permukaan. Sosok srikandi pejuang Laskar Merah Putih Nasional Republik Indonesia (LMNRRI) 45 ini telah lama mengabdikan dirinya dalam berbagai aksi sosial, politik, dan lingkungan. Namun, kini ia harus menghadapi kenyataan pahit—ladang yang selama ini menjadi sumber kehidupannya diratakan oleh pihak Kelurahan Kayu Putih tanpa pemberitahuan yang jelas.Sabtu (22/3/2025)
Bunda Tiur Simamora dikenal sebagai figur tangguh dalam berbagai gerakan sosial, termasuk Gerakan Solidaritas Nasional RPG.08 yang mendukung kepemimpinan Presiden H. Prabowo Subianto. Saat Pilpres 2024, ia berdiri di garda terdepan sebagai relawan militan yang tak kenal lelah berjuang demi suksesnya pemimpin yang ia idolakan. Namun, setelah kemenangan Prabowo-Gibran, ia justru mengalami keterpurukan ekonomi dan menghadapi ketidakadilan yang menyakitkan.
Ladang yang ia rawat selama bertahun-tahun di Jl. Kayu Mas Raya, Pulomas, Pulogadung, kini hancur berantakan. Sayur-mayur, tomat, cabai, dan bawang yang biasa ia panen untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari kini hanya tinggal kenangan. Ironisnya, pagar besi yang ia bangun dengan dana pribadi juga hilang, diduga dijual oleh pihak tak bertanggung jawab.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut kesaksian Bunda Tiur, tindakan ini dilakukan sepihak oleh pihak Kelurahan Kayu Putih, dengan alasan pembentukan pertamanan baru. Namun, ia mempertanyakan mengapa selama ini tanaman dan kebunnya tidak pernah menjadi masalah. “Kenapa baru sekarang ladang saya dihancurkan? Kenapa saya tidak diberi pemberitahuan resmi?” keluhnya dengan mata berkaca-kaca.
Ketika ia mencoba mengklarifikasi ke pihak kelurahan, ia hanya diberikan uang kerohiman Rp100.000—jumlah yang menurutnya adalah sebuah penghinaan. “Ini bukan soal uang, ini soal penghormatan terhadap jerih payah saya. Saya sudah tua, tidak punya pekerjaan lain, dan sekarang harus kehilangan satu-satunya sumber penghidupan saya,” ujarnya penuh emosi
Sebagai seorang aktivis yang berprinsip, Bunda Tiur tidak tinggal diam. Bersama LBH Presisi dan Posbakum RPG.08, ia berencana menempuh jalur hukum untuk menuntut keadilan. Ia juga menyerukan kepada Presiden Prabowo Subianto, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk turun tangan mengusut kejadian ini.
“Saya ini pejuang Prabowo sejak awal. Saya mendukungnya mati-matian. Sekarang saya hanya meminta hak saya untuk dipulihkan. Jangan sampai rakyat kecil yang sudah berjuang malah dilupakan begitu saja,” ujarnya dengan penuh harapan.
Kisah Bunda Tiur menggugah hati banyak relawan lain yang merasa kecewa dengan perlakuan pemerintah setempat terhadap pejuang seperti dirinya. “Beliau adalah simbol perjuangan emak-emak Pulogadung. Tidak seharusnya seorang yang telah berkorban begitu banyak diperlakukan dengan semena-mena,” ujar Rusman Pinem, S.Sos, salah satu tokoh yang ikut mendukung gerakan ini.
Selain itu, komunitas Rumah Besar Barisan Relawan Prabowo 08 (RBRP) juga menyatakan sikap tegas bahwa mereka akan mengawal kasus ini hingga tuntas. Mereka meminta adanya solusi yang adil dan bijaksana, baik berupa kompensasi maupun dialog terbuka dengan pemerintah setempat agar kejadian serupa tidak terulang lagi.
Harapan di Bulan Suci Ramadhan
Di tengah penderitaannya, Bunda Tiur tetap memiliki secercah harapan. Di bulan penuh berkah ini, ia berharap agar ada empati dari pemerintah, khususnya Presiden Prabowo Subianto yang selama ini ia perjuangkan.
“Pak Prabowo adalah pemimpin yang saya cintai. Saya ingin bertemu dengannya, saya ingin menyampaikan langsung kondisi saya. Saya mohon, jangan lupakan rakyat kecil yang sudah berjuang,” katanya dengan suara bergetar.
Sebagai seorang ibu yang telah kehilangan suaminya dan harus menghidupi sembilan anak serta cucu-cucunya, Bunda Tiur hanya ingin keadilan. Ia tidak meminta belas kasihan, tetapi ia ingin haknya sebagai warga negara dihormati.
Kini, semua mata tertuju pada bagaimana pemerintah akan merespons kisah pilu ini. Akankah suara seorang pejuang rakyat kecil didengar? Ataukah ia hanya akan menjadi kisah lain dari sekian banyak orang yang terpinggirkan setelah berjuang demi pemimpin yang mereka percayai?
Salam Asta Cita, Indonesia Emas 2045.
Merdeka!
(Tim)














