Suararakyat.info.Bogor-Di tengah megahnya pembangunan dan gencarnya program bantuan sosial pemerintah, masih ada sudut-sudut wilayah yang luput dari perhatian. Salah satunya berada di Kampung Tajurhalang, RT 04 RW 02, Desa Tajurhalang, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Sebuah rumah reyot berukuran 3×4 meter berdiri rapuh, bertumpu pada tiang-tiang bambu yang dipasang seadanya agar tak roboh. Rumah itu milik pasangan suami istri, Duloh dan Siti Masitoh, warga kurang mampu yang telah tinggal di sana selama puluhan tahun.
Kondisi rumah sangat memprihatinkan. Dinding dan atapnya telah lapuk dimakan usia, dan tidak pernah sekalipun tersentuh bantuan dari pihak manapun. Menurut pengakuan Siti Masitoh, rumah tersebut merupakan peninggalan dari almarhum ibunya yang sejak awal memang sudah dalam keadaan rusak, namun kondisinya kini jauh lebih parah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Atap dan tiang kayunya sudah hancur, saya takut ambruk. Jadi saya topang pakai bambu karena takut rubuh, apalagi sekarang musim hujan,” ujar Siti kepada wartawan dengan mata berkaca-kaca saat ditemui pada Sabtu, 12/4/ 2025.
Ketika hujan deras turun, air masuk ke dalam rumah dan menggenangi kamar. Siti mengaku, jika hujan disertai angin kencang, ia bersama dua anaknya terpaksa mengungsi ke rumah saudara terdekat karena khawatir rumah mereka roboh.
“Kalau hujannya sama angin, saya ngungsi. Takut rumah ini ambruk. Saya cuma bisa pasrah,” katanya lirih.
Lebih menyedihkan lagi, Duloh yang menjadi tulang punggung keluarga hanya bekerja sebagai buruh serabutan dengan penghasilan tak menentu. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah menjadi perjuangan, apalagi untuk memperbaiki rumah.
“Saya mohon kepada Bupati Bogor, Bapak Rudi Susmanto, tolong bantu saya. Percuma saya lapor ke pihak desa atau kecamatan, sudah dua kali ganti kepala desa, rumah saya cuma dipoto-poto saja, tak pernah ada kelanjutannya,” tambahnya.
Siti juga mengeluhkan soal bantuan pemerintah yang tak pernah menyentuh keluarganya. Program seperti BLT, PKH, maupun bantuan sembako tak pernah mereka terima. Ironisnya, menurut pengakuannya, justru warga yang tergolong mampu malah kerap mendapatkan bantuan tersebut.
“Saya tidak iri, tapi sedih. Kami yang benar-benar susah malah tidak pernah dapat apa-apa,” ujarnya dengan suara tercekat.
Kisah memilukan keluarga Duloh dan Siti Masitoh ini menjadi potret nyata bahwa masih ada masyarakat yang hidup dalam kesulitan ekstrem dan belum tersentuh bantuan, meskipun tinggal tidak jauh dari pusat pemerintahan daerah. Harapan mereka kini hanya satu: ada uluran tangan nyata dari pemerintah yang bisa memberikan mereka tempat tinggal yang layak dan aman.
(Baron/Red)














