Menyusuri Jejak Legenda dan Energi Bumi di Kawah Kamojang, Destinasi Wisata Vulkanik yang Memikat di Perbatasan Garut-Bandung

- Penulis

Sabtu, 20 Juni 2026 - 09:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARARAKYAT || GARUT– Hamparan hutan pegunungan yang sejuk, kepulan uap panas yang keluar dari perut bumi, serta cerita legenda yang diwariskan turun-temurun menjadikan Kawah Kamojang sebagai salah satu destinasi wisata alam paling unik di Jawa Barat.

Terletak di kawasan perbatasan Kabupaten Garut dan Kabupaten Bandung, tepatnya di Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, Kawah Kamojang tidak hanya menawarkan panorama alam vulkanik yang eksotis, tetapi juga menyimpan sejarah panjang perkembangan energi panas bumi di Indonesia.

Pada Sabtu (20/6/2026), kawasan wisata ini dipadati pengunjung yang datang bersama keluarga untuk menikmati suasana alam pegunungan sekaligus mengenal lebih dekat sejarah dan legenda yang menyelimuti kawasan tersebut. Di antara para wisatawan yang hadir, banyak yang memanfaatkan momen liburan untuk berendam di kolam air belerang alami, menikmati hangatnya uap panas bumi, hingga berburu foto dengan latar lanskap pegunungan yang memukau.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kawah Kamojang dikenal sebagai salah satu kawasan cagar alam tertua di Indonesia. Wilayah ini memiliki potensi panas bumi aktif yang telah dimanfaatkan selama puluhan tahun sebagai sumber energi melalui Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP).

Sejumlah kawah ikonik menjadi daya tarik utama bagi wisatawan. Salah satunya adalah Kawah Kereta Api yang terkenal dengan semburan uap bertekanan tinggi yang menghasilkan suara menderu keras menyerupai lokomotif kereta api. Suara khas tersebut dapat terdengar dari kejauhan dan menjadi pengalaman unik yang sulit ditemukan di tempat lain.

Selain Kawah Kereta Api, terdapat pula Kawah Hujan, Kawah Manuk, dan Kawah Berecek yang masing-masing memiliki karakteristik tersendiri. Kawah Manuk, misalnya, dikenal karena bentuknya yang menyerupai seekor burung sehingga menjadi salah satu objek favorit wisatawan.
Legenda yang Hidup di Tengah Kepulan Uap Bumi

Di balik keindahan alamnya, Kawah Kamojang menyimpan berbagai cerita rakyat yang masih dipercaya masyarakat sekitar hingga saat ini.
Menurut cerita turun-temurun, kawasan Kamojang dahulu merupakan bagian dari hutan larangan atau hutan tutupan yang dijadikan lokasi perburuan oleh Maharaja Sungging Perbangkara. Kawasan ini dianggap sakral dan tidak boleh dimasuki sembarangan oleh masyarakat pada masa lampau.

Masyarakat Sunda tempo dulu juga meyakini bahwa kepulan uap panas yang muncul dari kawah merupakan napas para leluhur yang menjaga tanah Pasundan. Sosok yang sering disebut dalam cerita rakyat adalah Eyang Kanjeng, tokoh spiritual yang dipercaya bersemayam di kawasan tersebut.

Kepercayaan tersebut membuat Kawah Kamojang sejak lama dianggap sebagai tempat keramat yang harus dihormati. Hingga kini, sebagian masyarakat masih memegang teguh nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan oleh para pendahulu mereka.

Namun legenda paling terkenal mengenai Kamojang berkaitan dengan kisah seorang gadis cantik yang menolak perjodohan.
Dikisahkan pada zaman dahulu terdapat seorang perempuan cantik yang hendak dinikahkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang lelaki yang telah memiliki empat istri. Gadis tersebut menolak keras perjodohan itu karena tidak ingin menjadi istri kelima.

READ  Piasan, Gerbang Ekowisata di Pulau Anambas yang Menyimpan Jejak Tradisi dan Inovasi

Merasa tertekan, sang gadis kemudian melarikan diri ke dalam hutan lebat yang kini menjadi kawasan Kamojang. Kedua orang tuanya berusaha mencari dan menyusulnya hingga ke pelosok hutan, namun gadis itu tidak pernah ditemukan lagi.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, gadis tersebut menghilang secara misterius dan tidak pernah kembali. Sejak saat itulah kawasan tersebut disebut “Kamojang”, yang berasal dari kata “Mojang” dalam bahasa Sunda yang berarti gadis atau perempuan muda.
Legenda tersebut terus diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat sekitar.

Saksi Awal Pengembangan Panas Bumi Indonesia

Selain kaya akan mitos dan legenda, Kawah Kamojang juga memiliki nilai sejarah yang sangat penting bagi perkembangan teknologi energi di Indonesia.
Pada tahun 1926, pemerintah kolonial Belanda melakukan eksplorasi panas bumi pertama di kawasan ini. Pengeboran yang dilakukan menjadikan Kamojang sebagai salah satu lokasi pionir pengembangan energi panas bumi di Nusantara.
Jejak sejarah tersebut masih dapat ditemukan hingga sekarang melalui sejumlah fasilitas dan sumur panas bumi yang tersebar di kawasan tersebut. Tidak berlebihan jika Kamojang disebut sebagai salah satu tonggak awal pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia.

Potensi panas bumi yang besar membuat kawasan ini kemudian berkembang menjadi pusat pembangkit listrik tenaga panas bumi yang berperan penting dalam memasok kebutuhan energi nasional.
Wisata Keluarga yang Semakin Modern
Seiring perkembangan zaman, Kawah Kamojang tidak hanya berfungsi sebagai kawasan konservasi dan energi, tetapi juga berkembang menjadi destinasi ekowisata unggulan.

Berbagai fasilitas wisata kini tersedia untuk menunjang kenyamanan pengunjung, mulai dari area pemandian air panas belerang, jalur trekking, lokasi berfoto, hingga area glamping modern yang menawarkan pengalaman menginap di tengah alam pegunungan.

Dengan harga tiket masuk yang relatif terjangkau, sekitar Rp40.000 per orang, ditambah tarif parkir Rp5.000 untuk sepeda motor dan Rp10.000 untuk mobil, wisatawan dapat menikmati berbagai pengalaman menarik dalam satu kawasan.
Suasana sejuk khas pegunungan, udara yang masih bersih, pemandangan hutan yang hijau, serta fenomena alam vulkanik yang unik menjadikan Kawah Kamojang sebagai pilihan ideal untuk wisata edukasi, rekreasi keluarga, maupun petualangan alam.

Bagi para pengunjung, Kamojang bukan sekadar tempat wisata biasa. Kawasan ini merupakan perpaduan harmonis antara keajaiban alam, sejarah perkembangan energi nasional, serta warisan budaya dan legenda masyarakat Sunda yang tetap hidup hingga hari ini.

Di tengah kepulan uap yang terus keluar dari perut bumi, Kawah Kamojang seakan mengajak setiap pengunjung untuk menyelami kisah masa lalu, menikmati keindahan alam, dan merenungkan betapa kayanya warisan geologi serta budaya yang dimiliki Indonesia.

Penulis : Irv

Editor : Redaksi

Sumber Berita: Suararakyat.info

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kampung Wisata Jangan Berakhir Jadi Etalase Kemiskinan, Warga Jogja Harus Memegang Kendali
Sempat Melawan Saat Diamankan Polisi, Dua Pelaku Pembunuhan dan Begal di Ditangkap
Libur Panjang Akhir Mei 2026, Jalur Wisata Ciwidey Lumpuh Total; Kemacetan Mengular dari Ciwidey Valley hingga Situ Patenggang
Jejak Prajurit Maritim Menembus Lereng Cikuray, Curug Cihanyawar Garut Tawarkan Pesona Alam yang Masih Alami
Menyusuri Sejuknya Lamping Cirorek, Surga Tersembunyi di Kaki Gunung Cikuray yang Menyatukan Alam, Petualangan, dan Kehangatan Warga
Pesona Pangandaran: Dari Kampung Nelayan hingga Surga Wisata “Hawaii van Java”
SPLASH DAY OUT: AQUA YOGA, EXPERIENCE WELLNESS SERU DI WATERBOOM LIPPO CIKARANG
Malam Puncak Duta Wisata Riau 2026: Ajang Bergengsi Lahirkan Wajah Baru Pariwisata Melayu
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 20 Juni 2026 - 09:17 WIB

Menyusuri Jejak Legenda dan Energi Bumi di Kawah Kamojang, Destinasi Wisata Vulkanik yang Memikat di Perbatasan Garut-Bandung

Rabu, 10 Juni 2026 - 07:22 WIB

Kampung Wisata Jangan Berakhir Jadi Etalase Kemiskinan, Warga Jogja Harus Memegang Kendali

Rabu, 3 Juni 2026 - 09:26 WIB

Sempat Melawan Saat Diamankan Polisi, Dua Pelaku Pembunuhan dan Begal di Ditangkap

Minggu, 31 Mei 2026 - 11:05 WIB

Libur Panjang Akhir Mei 2026, Jalur Wisata Ciwidey Lumpuh Total; Kemacetan Mengular dari Ciwidey Valley hingga Situ Patenggang

Sabtu, 16 Mei 2026 - 04:36 WIB

Jejak Prajurit Maritim Menembus Lereng Cikuray, Curug Cihanyawar Garut Tawarkan Pesona Alam yang Masih Alami

Berita Terbaru