SUARARAKYAT.info || SUKABUMI— Warga Desa Ciengang, Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi, masih bergulat dengan persoalan klasik yang tak kunjung selesai: akses jalan rusak parah yang menjadi satu-satunya penghubung aktivitas hidup mereka.
Jalan utama yang menghubungkan Dusun Suradita dan Balekambang menuju kawasan Puncak Peuyeum kini nyaris tak menyisakan jejak sebagai infrastruktur layak. Aspal dan bebatuan telah lama hilang, berganti lumpur tebal yang licin saat hujan dan berdebu saat kemarau.
Selama lebih dari satu dekade, kondisi ini terus dibiarkan tanpa penanganan berarti. Padahal, jalur tersebut merupakan akses vital warga—digunakan untuk ke sekolah, pasar, hingga fasilitas kesehatan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketiadaan penerangan jalan umum memperburuk situasi. Saat malam hari, jalur itu berubah menjadi lintasan gelap yang rawan kecelakaan. Warga terpaksa melintas dalam kondisi minim visibilitas, mempertaruhkan keselamatan setiap waktu.
Anggi, seorang relawan mahasiswa yang aktif mendampingi warga, menilai kondisi tersebut sebagai bentuk pembiaran yang berlarut.
“Sekarang yang tersisa hanya lumpur. Tidak ada lagi batu, apalagi aspal. Kalau hujan sangat licin dan sulit dilalui. Padahal ini akses utama masyarakat,” ujarnya, Selasa (12/5/2026).
Menurutnya, warga sebenarnya telah berulang kali menyuarakan persoalan ini melalui jalur formal, termasuk audiensi dengan pemerintah daerah. Saat itu, perbaikan jalan bahkan disebut masuk dalam skala prioritas. Namun hingga kini, realisasi tak kunjung terlihat.
“Waktu audiensi dengan bupati disebut prioritas, termasuk rencana relokasi warga. Tapi sampai sekarang belum ada perubahan yang benar-benar dirasakan,” katanya.
Kepala Desa Ciengang, Yudius, menegaskan bahwa pemerintah desa tidak tinggal diam. Ia menjelaskan, saat masih menjadi kewenangan desa, jalan tersebut sempat diaspal pada 2019. Namun sejak 2023, statusnya berubah menjadi jalan kabupaten dengan nama ruas Ciengang–Cigaluga.
“Jalan ini sebenarnya jalur alternatif yang cukup cepat menuju wilayah perkotaan Sukabumi, dengan waktu tempuh sekitar 35 sampai 45 menit,” kata Yudius.
Ia menyebut, pemerintah desa telah berupaya mendorong perbaikan melalui berbagai mekanisme, mulai dari musyawarah desa, forum tingkat kecamatan, hingga pengajuan sebagai usulan prioritas dalam Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD), serta pendekatan birokrasi lainnya. Namun, hingga kini belum ada realisasi pembangunan.
“Upaya sudah kami lakukan melalui berbagai jalur, tapi sampai saat ini belum terealisasi,” ujarnya.
Yudius juga mengungkapkan kekhawatiran atas potensi kecelakaan yang terus mengintai. Berdasarkan informasi yang diterima, kondisi jalan tersebut telah beberapa kali menyebabkan kendaraan, termasuk roda empat, terjebak hingga mengalami kecelakaan.
“Yang kami khawatirkan adalah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, baik bagi pengendara roda dua maupun roda empat. Sudah beberapa kali kendaraan terjebak, bahkan terjadi kecelakaan akibat kondisi jalan ini,” katanya.
Ia berharap pemerintah daerah memberikan perhatian serius dan menjadikan pembangunan jalan tersebut sebagai prioritas.
“Kami berharap ada perhatian khusus agar jalan ini bisa segera dibangun sebagaimana layaknya, sehingga aman dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat,” tegasnya.
Keluhan serupa disampaikan warga. Saefulloh (35), misalnya, menggambarkan kehidupan di wilayah itu sebagai serba terbatas akibat akses yang buruk.
“Kalau malam atau hujan makin susah. Anak-anak sekolah juga kasihan harus lewat jalan seperti ini setiap hari,” ujarnya.
Bagi warga, persoalan ini bukan sekadar soal infrastruktur, melainkan menyangkut keselamatan dan keadilan pembangunan. Setelah bertahun-tahun menunggu, mereka berharap pemerintah tak lagi berhenti pada janji.
Di tengah geliat pembangunan di berbagai wilayah, Gegerbitung seolah tertinggal—terperangkap dalam kondisi yang mengingatkan pada masa lalu, ketika akses jalan masih menjadi kemewahan.
Penulis : Prim RK
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Suararakyat.info














