SUARARAKYAT.info || Cirebon — Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, mendorong kalangan santri untuk tidak hanya berperan dalam bidang keagamaan, tetapi juga tampil sebagai aktor penting dalam pembangunan nasional melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (STEM).
Hal tersebut disampaikan Nusron saat menghadiri kegiatan pendampingan santri kelas XII SMAIQu di Pondok Pesantren Al-Bahjah, Sabtu (18/04/2026). Di hadapan para santri serta pengasuh pesantren, Buya Yahya, Nusron menekankan pentingnya perluasan peran santri di era modern.
Menurutnya, santri memiliki potensi besar untuk menjadi lebih dari sekadar kader ulama. Mereka juga dapat mengambil peran strategis sebagai pelaksana kebijakan negara, yang mampu menjembatani nilai-nilai keislaman dengan kebutuhan pembangunan berbasis sains dan teknologi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau ingin berkontribusi bagi bangsa dan negara, selain dikader sebagai ulama, adik-adik sekalian bisa menjadi hikmatal hukama atau kader pelaksana kebijakan,” ujar Nusron dalam sambutannya.
Ia menjelaskan bahwa konsep hikmatal hukama merujuk pada sosok intelektual yang tidak hanya memahami ilmu agama secara mendalam, tetapi juga memiliki kapasitas dalam membaca realitas sosial, ekonomi, hingga teknologi. Dengan demikian, santri diharapkan mampu beradaptasi dan berkontribusi dalam berbagai sektor strategis nasional.
Lebih jauh, Nusron menilai bahwa penguasaan STEM menjadi kunci penting bagi generasi muda, termasuk santri, untuk dapat bersaing di tengah dinamika global yang semakin kompetitif. Ia menegaskan bahwa negara membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara moral dan spiritual, tetapi juga cakap dalam bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika.
Dalam konteks pembangunan agraria dan tata ruang, Nusron juga menyinggung pentingnya peran generasi muda yang memahami teknologi dalam mendukung kebijakan pemerintah. Digitalisasi pertanahan, pemetaan wilayah, hingga pengelolaan sumber daya alam membutuhkan tenaga-tenaga terampil yang memiliki integritas sekaligus kompetensi teknis.
Kehadiran Nusron di pesantren tersebut sekaligus menjadi simbol sinergi antara dunia pendidikan keagamaan dengan arah kebijakan pembangunan nasional. Ia berharap pesantren dapat terus bertransformasi menjadi pusat lahirnya generasi unggul yang tidak hanya religius, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan zaman.
Sementara itu, Buya Yahya dalam kesempatan yang sama menyambut baik dorongan tersebut. Ia menegaskan bahwa pesantren sejak lama telah mengajarkan nilai-nilai kemandirian dan keilmuan yang holistik, sehingga sangat memungkinkan bagi santri untuk berkembang di berbagai bidang, termasuk STEM.
Kegiatan pendampingan ini menjadi bagian dari upaya pembekalan bagi santri kelas akhir agar memiliki visi yang lebih luas dalam menentukan masa depan mereka. Tidak hanya terbatas pada jalur keagamaan, tetapi juga membuka peluang untuk berkiprah di berbagai sektor strategis bangsa.
Dengan dorongan tersebut, diharapkan lahir generasi santri yang mampu menjadi jembatan antara nilai-nilai spiritual dan kemajuan teknologi, sekaligus berkontribusi nyata dalam merumuskan dan menjalankan kebijakan publik yang berpihak pada kepentingan rakyat luas.
Penulis : Gta
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Suararakyat.info














