SUARARAKYAT.info || Jakarta – Tingginya angka pengangguran di kalangan usia produktif, termasuk lulusan perguruan tinggi, menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Kondisi ini menuntut kampus tidak lagi hanya berfokus pada capaian akademik semata, melainkan juga memperkuat keterampilan praktis serta kesiapan kerja bagi para mahasiswa.
Fenomena lulusan sarjana yang kesulitan memperoleh pekerjaan, bahkan tidak sedikit yang bekerja di luar bidang keilmuannya, menunjukkan adanya kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Hal ini mendorong perlunya pendekatan baru dalam sistem pendidikan tinggi agar lebih adaptif terhadap dinamika zaman.
Rektor Universitas Indraprasta (Unindra), Prof. Sumaryoto, menegaskan bahwa persoalan mendasar dalam pendidikan tinggi terletak pada perbedaan jalur pendidikan yang belum dipahami secara utuh oleh masyarakat. Ia menjelaskan bahwa secara umum terdapat dua jalur utama dalam pendidikan tinggi, yakni jalur akademik dan jalur vokasi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Jalur akademik itu memang diarahkan untuk mencetak peneliti, dosen, dan pengembang ilmu pengetahuan. Sementara jalur vokasi lebih difokuskan pada kesiapan langsung terjun ke dunia kerja atau industri. Namun selama ini masyarakat cenderung melihat gelar akademik sebagai tujuan utama,” ujar Prof. Sumaryoto saat diwawancarai di Jakarta, Jumat (10/04/2026).
Menurutnya, persepsi masyarakat yang masih mengedepankan gelar akademik seperti sarjana, magister, hingga doktor, seringkali menjadi pertimbangan utama dalam memilih pendidikan tinggi. Padahal, di era modern saat ini, keterampilan praktis dan kemampuan adaptasi terhadap perkembangan teknologi menjadi faktor yang jauh lebih menentukan dalam dunia kerja.
Menjawab tantangan tersebut, Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) berupaya menghadirkan sistem pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga membekali mahasiswa dengan berbagai keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri dan dunia usaha.
Prof. Sumaryoto menjelaskan bahwa mahasiswa Unindra telah dipersiapkan dengan berbagai program penguatan kompetensi, di antaranya pendidikan kewirausahaan yang mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.
“Mahasiswa kami dibekali dengan semangat kewirausahaan agar setelah lulus tidak bergantung sepenuhnya pada lapangan kerja yang tersedia, tetapi bisa mandiri, bahkan membentuk kelompok usaha bersama,” ungkapnya.
Selain itu, penguasaan teknologi informasi (IT) menjadi salah satu fokus utama dalam pembekalan mahasiswa. Hal ini dinilai krusial mengingat perkembangan dunia industri yang semakin terdigitalisasi, sehingga kemampuan di bidang IT tidak lagi menjadi nilai tambah, melainkan kebutuhan dasar.
Sebagai bentuk konkret, mahasiswa Unindra mendapatkan sertifikasi IT yang relevan dengan kebutuhan industri. Tidak hanya itu, mereka juga dilatih dalam keterampilan komunikasi seperti public speaking, yang menjadi salah satu soft skill penting dalam dunia profesional.
Di bidang keahlian khusus, Unindra juga memberikan sertifikasi profesi seperti brevet pajak tingkat A, B, dan C, serta kompetensi di bidang akuntansi. Dengan demikian, lulusan tidak hanya membawa ijazah dan transkrip nilai, tetapi juga dilengkapi dengan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI) yang mencerminkan kompetensi tambahan yang dimiliki.
“Ini menjadi nilai lebih bagi lulusan kami, karena mereka memiliki bukti konkret keterampilan yang bisa langsung digunakan di dunia kerja,” tambahnya.
Namun demikian, Prof. Sumaryoto menegaskan bahwa peran perguruan tinggi memiliki batasan. Kampus hanya bertugas menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten, sementara tanggung jawab penyediaan lapangan kerja berada di tangan pemerintah.
Ia menilai pemerintah perlu hadir melalui kebijakan dan regulasi yang mampu membuka peluang kerja yang lebih luas, sekaligus menciptakan ekosistem ekonomi yang kondusif bagi pertumbuhan usaha dan industri.
Di sisi lain, perkembangan teknologi yang pesat juga menjadi faktor yang tidak bisa dihindari. Transformasi digital telah mengubah banyak pekerjaan manual menjadi otomatis dan berbasis teknologi, yang secara tidak langsung mempengaruhi struktur pasar tenaga kerja.
“Ini adalah konsekuensi dari perkembangan zaman. Banyak pekerjaan yang dulu manual sekarang sudah tergantikan oleh sistem digital. Ini bukan sepenuhnya kesalahan pemerintah, tapi memang perubahan global yang harus kita hadapi bersama,” jelasnya.
Dalam menghadapi kompleksitas persoalan tersebut, Prof. Sumaryoto mengajak semua pihak untuk tidak terjebak dalam saling menyalahkan, melainkan fokus pada upaya mencari solusi yang konstruktif dan berkelanjutan.
“Yang paling penting saat ini adalah bagaimana kita bersama-sama mencari solusi. Dunia pendidikan, pemerintah, dan masyarakat harus bersinergi untuk menjawab tantangan ini,” tandasnya.
Dengan berbagai upaya yang dilakukan, Unindra berharap dapat mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga tangguh, adaptif, dan mampu bersaing di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.
Penulis : S Handoko
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Suararakyat.info














