SUARARAKYAT.info || Sukabumi — Peristiwa dugaan perundungan verbal terhadap seorang anak di bawah umur terjadi di wilayah Sukabumi pada Senin sore (9/3/2026). Seorang pria paruh baya diduga melontarkan kata-kata yang dianggap merendahkan dan menyinggung perasaan anak tersebut, bahkan dinilai berpotensi menyudutkan kedua orang tuanya.
Ucapan yang diduga bernada penghinaan itu sempat terdengar oleh sejumlah warga di sekitar lokasi. Dalam bahasa Sunda, pria tersebut disebut mengatakan, “Eta budak téh kutét wae teu gede-gede,” yang secara umum dimaknai sebagai ungkapan yang merendahkan kondisi fisik anak tersebut.
Perkataan tersebut memicu keprihatinan karena dinilai tidak pantas disampaikan kepada anak di bawah umur. Sikap seperti ini dinilai dapat berdampak pada kondisi psikologis anak, terlebih jika disampaikan di ruang publik atau di hadapan orang lain.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menanggapi kejadian tersebut, pria yang bersangkutan akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada orang tua anak tersebut. Dalam pernyataannya, ia mengaku menyesal atas ucapan yang telah dilontarkan dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.
“Iya bapak ayeuna mah menta hampura. Moal sakali-kali deui. Jeung masalah ieu janten salah sahiji pelajaran kanggo abdi. Sakali deui nyuhunkeun dihampura lahir batin,” ungkapnya dengan nada penuh penyesalan.
Permintaan maaf tersebut disampaikan di hadapan sejumlah warga yang turut menyaksikan proses penyelesaian secara kekeluargaan. Meski demikian, peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat tentang pentingnya menjaga etika dan tutur kata, khususnya ketika berinteraksi dengan anak-anak.
Para tokoh masyarakat setempat menilai bahwa orang dewasa memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan contoh yang baik kepada generasi muda. Ucapan yang merendahkan atau menghina, meskipun dianggap sebagai candaan, dapat meninggalkan dampak psikologis yang tidak kecil bagi anak.
Selain itu, kasus ini juga menjadi pembelajaran bagi masyarakat luas agar lebih bijak dalam bertutur kata serta menghormati martabat setiap individu, termasuk anak-anak.
Perlindungan terhadap anak bukan hanya menjadi tanggung jawab keluarga, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. Lingkungan sosial yang aman, ramah, dan penuh penghargaan diyakini akan membantu tumbuh kembang anak secara sehat, baik secara mental maupun emosional.
Peristiwa ini diharapkan menjadi refleksi bersama bahwa setiap ucapan memiliki dampak, dan sikap saling menghormati harus selalu dijaga dalam kehidupan bermasyarakat.
Penulis : Hs
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Suararakyat.info














