Ramadan dan Urgensi ZIS di Tengah Realitas Indonesia Hari Ini

- Penulis

Senin, 2 Maret 2026 - 23:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Aceng Syamsul Hadie, S.Sos., MM.Ketua Umum Yayasan Daarurrahman Cigayam Kabupaten Majalengka.

SUARARAKYAT.info || Bandung-Ramadan selalu hadir sebagai bulan spiritual, tetapi dalam konteks Indonesia hari ini, ia juga harus dibaca sebagai momentum sosial-ekonomi yang sangat strategis. Ketika daya beli masyarakat melemah, angka kemiskinan dan kemiskinan ekstrem masih menjadi pekerjaan rumah, PHK terjadi di berbagai sektor, serta ketimpangan ekonomi kian terasa, maka zakat, infak, dan sedekah (ZIS) bukan sekadar ibadah ritual—melainkan kebutuhan mendesak bangsa. Di sinilah Ramadan menjadi momentum emas untuk mempersempit kesenjangan antara potensi dan realisasi.

Secara teologis, zakat adalah perintah langsung Allah SWT, ditegaskan dalam QS. At-Taubah: 103 sebagai instrumen penyucian harta dan jiwa. Namun dalam konteks kebangsaan, zakat adalah instrumen distribusi ekonomi yang berbasis iman. Ia bekerja bukan karena paksaan negara, tetapi karena kesadaran spiritual. Inilah keunggulan moral yang tidak dimiliki sistem ekonomi sekuler murni.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hari ini Indonesia menghadapi tekanan ekonomi global, fluktuasi harga pangan, serta meningkatnya beban hidup masyarakat kelas bawah. Dalam kondisi seperti ini, zakat fitrah bukan sekadar kewajiban tahunan menjelang Idul Fitri, tetapi jaring pengaman sosial paling konkret agar kaum dhuafa tetap dapat merayakan hari kemenangan dengan bermartabat. Zakat maal pun demikian: ia dapat menjadi modal produktif bagi UMKM kecil, pedagang kaki lima, hingga petani yang kesulitan akses pembiayaan.

Infak dan sedekah memiliki dimensi yang lebih luas lagi. Memberi makan orang berbuka, membantu korban bencana, membiayai pendidikan anak yatim, membantu pembangunan yayasan dan lembaga Islam hingga mendukung layanan kesehatan umat adalah bentuk nyata solidaritas sosial. Dalam situasi di mana negara memiliki keterbatasan fiskal, partisipasi masyarakat melalui ZIS justru memperkuat ketahanan sosial nasional.

READ  LDII Bali Gelar Sholat Idul Adha dan Salurkan Ribuan Paket Qurban di Seluruh Bali

Rasulullah SAW, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dikenal paling dermawan pada bulan Ramadan. Teladan Muhammad bukan hanya spiritual, tetapi sosial. Kedermawanan beliau bukan simbolik, melainkan transformasional—mengubah masyarakat Madinah menjadi komunitas yang saling menopang.

Di Indonesia hari ini, urgensi ZIS juga menyentuh persoalan ketimpangan struktural. Jurang antara kaya dan miskin tidak bisa hanya diatasi dengan pertumbuhan ekonomi makro. Pertumbuhan tanpa distribusi akan melahirkan kecemburuan sosial. ZIS hadir sebagai mekanisme distribusi langsung yang tepat sasaran, bisa diberikan atau disalurkan kepada orang-orang yang berhak menerima zakat (Mustahik), bisa ke Amil Zakat seperti BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) setempat, dan kepada Yayasan-yayasan Islam yang mengelola ZIS secara profesional, transparan, dan akuntabel.

Ramadan adalah momen pelipatgandaan pahala. Namun jika hanya dipahami sebagai kesempatan individual mengejar pahala, kita kehilangan dimensi sosialnya. Justru di tengah tantangan ekonomi nasional, Ramadan harus menjadi bulan kebangkitan solidaritas kolektif. Setiap rupiah zakat yang ditunaikan bukan hanya membersihkan harta, tetapi menegakkan keadilan sosial. Setiap infak dan sedekah bukan hanya amal pribadi, tetapi fondasi peradaban.

Karena itu, urgensi ZIS di bulan Ramadan hari ini bukan sekadar kewajiban normatif, melainkan panggilan moral kebangsaan. Indonesia membutuhkan kebangkitan filantropi Islam yang sistematis, produktif, dan berdampak jangka panjang. Ramadan memberi kita kesempatan itu. Tinggal apakah umat Islam memaknainya sebagai rutinitas tahunan, atau sebagai gerakan sosial yang mampu mengubah wajah kemiskinan menjadi martabat.[]

Penulis : Ash

Editor : Red

Sumber Berita: Suararakyat.info

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perkuat Persaudaraan Lintas Agama, WKPUB Gelar Musyawarah Kerja Nasional Bahas Program Kerukunan dan Pemberdayaan Masyarakat
Dandim 0607 Sukabumi Berikan Santunan Kepada Anak Yatim Piatu Setelah Peresmian Jembatan PRIMA JANTAKE
Semangat Tahun Baru Islam 1448 H, Ratusan Warga Tanjungsari Meriahkan Gebyar Muharam dengan Pawai Obor dan Santunan Anak Yatim
Meriahkan Pesparawi Nasional XIV 2026, Ketua Persit KCK Daerah XVIII/Kasuari dan Prajurit Kodam Kasuari Tebar Semangat Kebersamaan
Muswil I MUI Papua Barat Daya Dipalang Adat, MMP Tuntut Keterlibatan Muslim Asli Papua
Ribuan Warga Sukalarang Sambut 1 Muharram 1448 H dengan Doa dan Cahaya Kebersamaan
Duduk Berdampingan Dengan Abuya Mukhtar Anidzom , Aang Unang Apresiasi Peresmian Gedung Baru MUI
Ketua Fraksi Demokrat Sukabumi Sampaikan Ucapan Selamat Idul Adha 1447 H, Ajak Masyarakat Jaga Kebersamaan
Berita ini 0 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 10 Juli 2026 - 15:10 WIB

Perkuat Persaudaraan Lintas Agama, WKPUB Gelar Musyawarah Kerja Nasional Bahas Program Kerukunan dan Pemberdayaan Masyarakat

Sabtu, 4 Juli 2026 - 09:28 WIB

Dandim 0607 Sukabumi Berikan Santunan Kepada Anak Yatim Piatu Setelah Peresmian Jembatan PRIMA JANTAKE

Rabu, 24 Juni 2026 - 14:19 WIB

Semangat Tahun Baru Islam 1448 H, Ratusan Warga Tanjungsari Meriahkan Gebyar Muharam dengan Pawai Obor dan Santunan Anak Yatim

Selasa, 23 Juni 2026 - 15:46 WIB

Meriahkan Pesparawi Nasional XIV 2026, Ketua Persit KCK Daerah XVIII/Kasuari dan Prajurit Kodam Kasuari Tebar Semangat Kebersamaan

Jumat, 19 Juni 2026 - 12:44 WIB

Muswil I MUI Papua Barat Daya Dipalang Adat, MMP Tuntut Keterlibatan Muslim Asli Papua

Berita Terbaru