SUARARAKYAT.info | Jakarta – Suasana haru dan penuh khidmat menyelimuti kawasan TPU Tanah Kusir, Rabu (18/02/2026), saat Dr. Bernard BBBBI Siagian, SH., MAkp memimpin langsung peringatan empat tahun berpulangnya ibunda tercinta, almarhumah Zr. Tianur Naiborhu Siagian, yang wafat pada 7 Februari 2022.
Peringatan ini diawali dengan sembahyangan dan kebaktian bersama yang berlangsung khusyuk namun sarat semangat kebangsaan. Acara tersebut dihadiri oleh simpatisan Gereja Stefanus Cilandak, rekan-rekan anak kost Timbos Devid Gregorius, para sahabat seperjuangan, serta sejumlah aktivis anti-rasuah dari berbagai organisasi, di antaranya DPP Gerakan Anti Korupsi Nasional (GAKORPAN), LBH Pers, PPWI, GWI, FWJI, DPP Sarjana Pancasila Pemuda Pancasila, DPP LMP, MAPANCAS, BAI, dan elemen kebangsaan lainnya.
Menariknya, peringatan ini bertepatan dengan libur nasional Tahun Baru Imlek yang ditandai dengan ucapan “Gong Xi Fa Cai” serta semangat memasuki Tahun Kuda 2026. Momentum tersebut semakin menegaskan warna pluralisme dan keberagaman dalam bingkai NKRI.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam kesempatan itu, Dr. Rusman Pinem, S.Sos., pakar sosiologi dan akademisi, menyampaikan bahwa kegiatan ini mencerminkan semangat kebangsaan yang hidup dan relevan dengan nilai-nilai Pancasila.
“Ini adalah potret nyata pluralisme Indonesia. Keberagaman bukan hanya semboyan, tetapi praktik nyata dalam kehidupan sosial dan kebangsaan. NKRI harga mati, Pancasila abadi,” ujarnya.(18/2/2026)
Forum Kebangsaan dan Bela Negara yang hadir menyatakan komitmennya untuk tetap setia pada semangat Sumpah Pemuda: satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air Indonesia—negeri gemah ripah loh jinawi yang kaya akan sumber daya alam dan budaya.
Kegiatan ini juga menjadi refleksi menjelang bulan suci Ramadan, sebagai bentuk penghormatan terhadap saudara-saudara umat Islam yang akan menunaikan ibadah puasa, menegaskan harmoni antarumat beragama yang terus dijaga.
Almarhumah Zr. Tianur Naiborhu Siagian dikenal sebagai sosok sederhana, tabah, dan penuh kasih. Sejak wafatnya sang suami, Prof. Drs. Edward Gregorius Siagian, MS, beliau menjalani hidup dengan penuh keprihatinan namun tetap menanamkan nilai cinta kasih Kristus kepada anak-anak dan cucunya.
Semasa hidup, beliau adalah seorang tenaga medis sekaligus Zuster Kepala Bidan di RSU Tentara Kesdam Meuraksa, Kramat Raya, Senen, Jakarta. Dedikasinya di dunia kesehatan telah menginspirasi banyak orang.
Lahir di Silaen, Desa Paragitingan Naiborhu, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Tianur merupakan anak sulung dari sepuluh bersaudara. Ayahnya, Karel Lamet Naiborhu, dikenal sebagai tokoh tekstil legendaris pada masa penjajahan Belanda dan Jepang. Sementara ibunya, Ompung Martha Br. Marpaung, tersohor dengan hasil tenunan ulos khas Batak serta keterlibatannya dalam pembuatan ribuan bendera Merah Putih pada masa kemerdekaan 1945 di Sumatera Utara.
Sebagai anak tertua, Tianur merantau ke Pulau Jawa dan berkarier sebagai perawat di RSU Karyadi Semarang. Setelah menikah, ia mengikuti suaminya ke Bandung dan mengabdi di RSU Borromeus, dekat kawasan Universitas Padjadjaran.
Sang suami, Prof. Drs. Edward Gregorius Siagian, merupakan alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) yang dikenal sebagai salah satu lulusan terbaik pada masanya. Pada era Presiden Soekarno, ia termasuk dalam generasi intelektual yang dikirim ke Rusia (Uni Soviet) untuk mendalami ilmu strategis, termasuk teknologi nuklir.
Sekembalinya ke tanah air pada 1965, beliau turut berkontribusi dalam pengembangan riset nuklir nasional melalui Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) di kawasan Pasar Jumat, Serpong, dan Yogyakarta—yang kini bertransformasi menjadi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Namun takdir berkata lain. Prof. EG Siagian wafat setelah berjuang melawan penyakit Hodgkin dan sempat dirawat di RS PGI Cikini, Jakarta. Ia dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan.
Dalam sambutannya, Dr. Bernard BBBBI Siagian menegaskan bahwa kisah hidup kedua orang tuanya bukan sekadar cerita keluarga, melainkan warisan nilai perjuangan, integritas, loyalitas, dan pengabdian tanpa pamrih bagi bangsa dan negara.
“Sebagai anak kolong Kodam V/Jaya dan bagian dari keluarga besar FKPPI, kami dididik untuk tetap tegar sebagai orang Batak perantau, menjunjung tinggi kehormatan dan integritas,” ujarnya.
Ia berharap generasi muda, khususnya Gen Z, mampu mengambil hikmah dari perjalanan hidup para pendahulu. Ibarat lilin yang rela terbakar demi menerangi sekitarnya, nilai-nilai pengorbanan dan keteladanan harus menjadi cambuk semangat dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.
Acara peringatan tersebut ditutup dengan doa bersama dan seruan kebangsaan: “Salam GAKORPAN ASTACITA Menuju Indonesia Emas 2045, Macan Asia!”
Suasana penuh haru itu menjadi pengingat bahwa di balik setiap tokoh pejuang, ada sosok ibu yang tabah, mendidik dengan kasih, dan menanamkan nilai perjuangan yang tak lekang oleh waktu.
Penulis : Dr. Bernard
Editor : Red
Sumber Berita: Suararakyat.info














