SUARARAKYAT.info|| Jakarta-Setelah Presiden Prabowo Subianto melakukan/berdiskusi dengan PTN/PTS, akhirnya Pemerintah mengalokasikan anggaran riset/inovasi sebesar 4 T untuk seluruh perguruan tinggi di Indonesia.
Presiden ingin kampus aktif dalam mendorong proyek strategis( pangan, mineral dan energi) yang digarap pemerintah.
Diharapkan Kampus mem-backup/membantu riset-riset pemerintah dalam membangun industri dalam negeri dengan anggaran yang dirasa cukup dan proposional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Prof Sumaryoto sebetulnya kalau dibilang cukup ya cukup, dibilang kurang ya kurang tergantung prioritasnya yang akan di kerjakan.
Karenanya riset itu kan abstrak sifatnya tidak pernah selesai dan tidak pernah tuntas, diakhir riset selalu ada rekomendasi, harus gimana, sehingga ketika ada hal- hal yang sudah dinilai
out of date, seperti teori yang sudah usang itu dalam riset bisa terjadi.
“Untuk itu, riset itu tidak bisa dijadikan suatu target ya sulit karena riset itu tidak pernah selesai artinya tak terhingga, karena ada saja dengan error yang dikerjakan muncul hal- hal yang diluar kegiatan yang kita teliti, itu cara berpotensi kadang menjadi program atau pun materi riset berikutnya, ” ujar Prof Sumaryoto Rektor Unindra kepada suararakyat. info, di Jakarta, Rabu (28/01/2026).
Ketika disinggung mengenai kesiapan SDM (Sumber Daya Manusia) di kampus tambah Prof Sumaryoto kalau SDM di kampus tersedia cukup banyak tapi persoalannya karena pendanaan yang kurang.
Sehingga tidak semua dosen yang siap melakukan riset ini bisa mendapatkan kesempatan, dosen juga banyak tapi anggaran terbatas , karena kalau sudah namanya dosen sudah memahami ahli dalam teorinya dan ahli didalam metodiologinya.
“Tinggal materinya yang akan dijadikan sasaran untuk riset itu, biasanya tergantung kebutuhan kalau pemerintah punya program – program seperti sekarang perguruan tinggi bisa memback-upnya bagaimana kita bisa teliti tentang hal- hal fenomena yang menjadi objek program pemerintah,” urainya.
Lebih lanjut Prof Sumaryoto menyatakan bahwa teknisnya membackup itu, begini biasanya pemerintah punya program biasanya diduga perjalanan pelaksanaannya bisa muncul hal-hal yang menghambat, hal-hal yang menjadi kendala itu yang oleh peneliti diadakan suatu riset sehingga kalau nanti terjadi solusinya seperti apa.
Karena pemerintah biasanya menyusun kebijaksanaan, melalui pembuatan program. Sementara strategi itu untuk mencapai tujuan tapi dalam perjalanan itu kita belum tahu.
“Yang kedua sasaran dicapai layak atau tidak karena bisa jadi targetnya ini, tapi melihat situasi dan kemampuan kita tercapainya agak sulit seperti contoh yang sekarang program pemberantasan kemiskinan, mengurangi kemiskinan sekarang yang terjadi tanpa diduga muncul berbagai macam bencana, hal tersebut otomatis menyedot dana atau anggaran biaya, “tandasnya.
Penulis : S Handoko
Editor : Red
Sumber Berita: Suararakyat.info














