SUARARAKYAT.info|| Pekalongan- di tengah derasnya arus anak muda yang berlomba meniti karier di kota besar, kisah Asep Jaelani Bachtiar justru bergerak berlawanan arah. Latar belakang dunia keuangan di Jakarta tidak membuatnya terikat selamanya pada gedung-gedung perkantoran. Ia memilih pulang ke akar, menjejak tanah, dan membangun sesuatu yang nyata: Himmatana Farm, sebuah usaha peternakan domba berbasis breeding genetik unggul di Pekalongan, Jawa Tengah.minggu (18/1/2026)
Keputusan itu bukan tanpa pertimbangan. Bagi Asep, peternakan bukan sekadar pekerjaan alternatif, melainkan industri masa depan yang berkelanjutan (sustain) dan sarat peluang, bahkan atau justru terutama bagi generasi muda.
“Selama manusia masih hidup dan punya tradisi, kebutuhan kambing dan domba tidak akan pernah habis,” ujar Asep dalam perbincangan. Menurutnya, permintaan hewan ternak untuk aqiqah, Idul Adha, hingga kebutuhan konsumsi harian adalah pasar yang stabil dan cenderung terus tumbuh.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Berbekal pengalaman analisis bisnis dan manajemen dari dunia keuangan, Asep melihat sektor peternakan dengan kacamata berbeda. Ia tidak sekadar beternak untuk jual-beli jangka pendek, melainkan membangun sistem yang kuat dari hulu ke hilir. Di Himmatana Farm, fokus utama adalah breeding domba dengan kualitas genetik unggul, baik dari sisi pertumbuhan, kesehatan, maupun nilai ekonomi.
“Kalau genetiknya bagus, semua ikut naik. Produktivitas, harga jual, sampai kepercayaan pasar,” jelasnya.
Asep juga menepis anggapan bahwa beternak adalah pekerjaan berat dan kuno. Menurutnya, beternak domba relatif mudah dipelajari, tidak membutuhkan teknologi rumit di tahap awal, dan sangat adaptif dengan pendekatan modern—mulai dari manajemen pakan, pencatatan digital, hingga pemasaran lewat media sosial.
Justru di situlah peluang besar bagi Gen Z dan milenial. Generasi yang akrab dengan teknologi, berpikir kreatif, dan berani mencoba hal baru dinilai Asep sangat cocok masuk ke sektor ini. “Peternakan bukan cuma soal kandang dan pakan, tapi juga soal leadership, manajemen tim, dan visi jangka panjang,” katanya.
Lebih jauh, Asep melihat peternakan sebagai medium kontribusi nyata bagi ekonomi daerah. Dengan membuka lapangan kerja, menggerakkan petani pakan, hingga menciptakan rantai pasok lokal, usaha seperti Himmatana Farm memberi dampak langsung bagi masyarakat sekitar. Model ini, menurutnya, jauh lebih bermakna dibanding sekadar mengejar profit individual.
“Kalau anak muda mau turun ke sektor riil seperti ini, dampaknya luar biasa. Bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk desa, daerah, bahkan ketahanan pangan nasional,” ujarnya.
Kisah Asep Jaelani Bachtiar menjadi bukti bahwa masa depan tidak selalu harus dibangun di balik meja kantor metropolitan. Di kandang sederhana, dengan strategi yang matang dan keberanian mengambil jalan berbeda, industri peternakan justru menjanjikan harapan besar bagi ekonomi, bagi masyarakat, dan bagi generasi muda yang ingin memberi arti lebih pada pilihannya.
Editor : Red
Sumber Berita: Suararakyat.info














