SUARARAKYAT.info||Yogyakarta– Riuh tepuk tangan dan tangis haru mewarnai prosesi wisuda Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) Periode III Tahun Akademik 2024/2025 yang berlangsung di Sleman City Hall. Sebanyak 1.934 lulusan dari berbagai program diploma, sarjana, magister, hingga doktor resmi diwisuda. Namun, di antara ribuan toga hitam yang memadati ruangan, ada satu sosok yang mencuri perhatian Wa Risda Bintang Syakila, putri dari tanah Buton Wakatobi yang dibesarkan di Kabupaten Fak-Fak, Papua Barat.sabtu (30/8/2025)
Hari itu menjadi titik puncak dari perjalanan panjang penuh doa, kerja keras, dan pengorbanan. Dengan resmi menyandang gelar Sarjana Psikologi (S.Psi.), Wa Bintang, begitu ia akrab disapa, tak hanya membanggakan keluarga, tetapi juga membawa pesan inspirasi bagi masyarakat Fak-Fak dan anak-anak muda di daerahnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di momen yang tak terlupakan ini, Wa Bintang tak sendiri. Ia didampingi sang nenek tercinta, Wa Ode Musaiya, ibunda tercinta Endang Sarfiati Shinta, serta keluarga besar yang rela menempuh perjalanan jauh demi hadir memberikan dukungan langsung. Kehadiran mereka menambah hangat suasana wisuda, menghadirkan pelukan penuh syukur dan air mata kebahagiaan.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dan bangga. Cucu saya Wa Bintang berhasil menyelesaikan kuliahnya. Semoga ilmu yang diperoleh bisa membawa manfaat bagi dirinya, keluarga, dan masyarakat. Perjuangan ini tidak mudah, tapi hasilnya sungguh membahagiakan,” tutur Wa Ode Musaiya dengan suara bergetar menahan haru.
Bagi Wa Bintang, kelulusan ini bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan baru. “Ini adalah langkah awal untuk perjalanan yang lebih panjang. Saya berharap bisa mengabdikan ilmu psikologi yang saya miliki, baik di Papua Barat, di Wakatobi, maupun di mana pun saya berada. Saya ingin menjadi pribadi yang bermanfaat dan bisa membanggakan keluarga,” ungkapnya penuh semangat.

Tak lupa, ia menuturkan rasa terima kasih yang mendalam kepada dosen pembimbingnya, Tabah Aris Nurjaman, S.Psi., M.A., yang dengan sabar membimbing selama masa studinya. “Bimbingan, arahan, dan motivasi beliau sangat berarti. Saya tidak akan sampai di titik ini tanpa dukungan beliau,” tambahnya.
Wisuda ini tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga menjadi simbol bahwa anak-anak Fak-Fak mampu menembus batas dan membuktikan diri di kancah pendidikan tinggi. Wa Bintang menitipkan pesan khusus kepada adik-adik dan generasi muda di kampung halamannya:
“Jangan pernah ragu untuk bermimpi besar. Pendidikan adalah jalan untuk membuka pintu masa depan yang lebih baik. Tidak ada yang mustahil selama ada doa, usaha, dan kerja keras. Mari kita buktikan bahwa anak Fak-Fak juga bisa berprestasi dan menjadi kebanggaan daerah,” tegasnya dengan nada penuh optimisme.
Kisah Wa Risda Bintang Syakila bukan sekadar cerita tentang wisuda, melainkan tentang tekad dan keuletan anak bangsa dari pelosok negeri. Dari Fak-Fak yang jauh di ujung Papua Barat, ia menapaki jalan panjang menuju Yogyakarta, hingga kini berhasil meraih gelar sarjana.
Langkah awal ini menjadi harapan baru bukan hanya bagi keluarganya, tetapi juga bagi masyarakat luas yang percaya bahwa pendidikan mampu mengubah masa depan.
Dengan toga yang dikenakannya hari itu, Wa Risda Bintang Syakila membawa pesan sederhana namun kuat bahwa mimpi besar anak-anak dari pelosok negeri pun layak mendapatkan panggung, layak diperjuangkan, dan layak dirayakan.
(Yusdin Senoputra)














