SUARARAKYAT.info||Pekanbaru,Riau -kekerasan terhadap wartawan kembali mencoreng wajah demokrasi. Enam jurnalis di Pekanbaru menjadi korban pengeroyokan brutal oleh sekelompok pria yang diduga merupakan anggota grup khusus pelangsir BBM ilegal di bawah kendali Khairudin alias Udin “King of Kings”, Manejer SPBU 14.282.683. Insiden terjadi pada kamis (7/8/2025) di SPBU yang beralamat di RT 01/RW 01, Kelurahan Baru, Kecamatan Bina Widya, Kota Pekanbaru.
Kejadian ini bermula dari informasi publik mengenai dugaan “tangkap lepas” pelaku penyelewengan BBM bersubsidi di SPBU tersebut. Informasi itu memicu enam wartawan untuk mendatangi lokasi demi melakukan konfirmasi langsung kepada pihak manajemen. Mereka adalah:
Edy Hasibuan (Nusantara Expres)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hotlan Tampubolon (Zona Merah Putih)
Ilhamudim (Zona Merah Putih)
Ahmad Mizan (Nusantara Expres)
Ilham Mutasoib (Zona Merah Putih)
Alvanza Pebrian Siregar (Garuda Expres)
Namun, niat mereka mencari kebenaran berujung petaka. Sesaat setelah melakukan wawancara awal, para wartawan ini justru diserang dan dikeroyok oleh sejumlah pria yang disebut-sebut sebagai sopir pelangsir BBM bersubsidi ilegal. Mereka dipukul, ditendang, dan dikerumuni di area SPBU, hingga mengalami luka lebam di beberapa bagian tubuh.
Menurut keterangan narasumber berinisial Er, para pelaku yang menyerang wartawan adalah anggota grup WhatsApp khusus pelangsir BBM yang dikelola langsung oleh Khairudin, Manejer SPBU. Er bahkan menyebut nomor-nomor ponsel para pelaku telah teridentifikasi dan semuanya merupakan “pemain tetap” yang diizinkan mengambil BBM bersubsidi dalam jumlah besar.
“Ini grupnya Khairudin, adminnya dia sendiri. Yang melangsir di situ cuma orang-orang ini, yang lain tidak boleh masuk. Harusnya dia minta maaf ke wartawan, bukan malah nyuruh orangnya buat ngegas,” ujar Er tegas.
SPBU 14.282.683 disebut dimiliki oleh Irvan Herman, yang juga memiliki SPBU lain di wilayah Pelalawan (SPBU 14.284.6109). Foto Irvan dan Khairudin sudah tersebar di media sosial, dikaitkan dengan dugaan jaringan mafia BBM bersubsidi di Riau.
Bantahan Manejer yang Dipertanyakan
Ketika dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Khairudin membantah mengetahui kejadian tersebut. Ia mengaku tidak berada di lokasi saat insiden dan menyebut para pelaku sebagai “oknum tak dikenal” yang membuat keributan.
“Saya tidak tahu, Pak. Intinya saya tidak di sana. Saat keributan, anggota kita juga tidak tahu kenapa itu terjadi. Ada beberapa oknum yang saya tidak kenal membuat keributan di SPBU. Saat saya ditelepon, saya ke sana, tapi sudah tidak ada lagi pertikaian,” tulisnya.
Pernyataan ini langsung dibantah oleh sumber-sumber di lapangan. Mereka menilai manajer sengaja menutupi kejadian sebenarnya. “Hp para korban hancur dan ditahan di SPBU agar barang bukti hilang. Rekaman CCTV juga sudah diedit,” ungkap seorang saksi.
Informasi yang beredar menyebut bahwa ponsel wartawan yang berisi rekaman dan foto kejadian dihancurkan, sementara rekaman CCTV SPBU telah dipotong sehingga tidak menampilkan bagian pengeroyokan. Langkah ini diduga dilakukan untuk melemahkan bukti di hadapan hukum.
Sejumlah organisasi wartawan, aktivis anti-mafia migas, dan tokoh masyarakat mendesak Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Riau di bawah pimpinan Kombes Pol Asep Darmawan, S.H., S.I.K., untuk segera menangkap seluruh pelaku, termasuk aktor intelektual yang memerintahkan aksi kekerasan tersebut.
Kasus ini dinilai tidak hanya sebagai penganiayaan terhadap wartawan, tetapi juga bagian dari upaya membungkam kebebasan pers serta menutupi praktik mafia BBM bersubsidi yang merugikan negara miliaran rupiah setiap bulan.
Publik kini menanti keberanian aparat penegak hukum untuk menuntaskan kasus ini hingga ke akar-akarnya, tanpa tebang pilih, dan menjerat seluruh pihak yang terlibat sesuai hukum yang berlaku.
(Athia)














