Suararakyat.info.Osaka Jepang-Kabar menggembirakan datang dari Negeri Sakura. Indonesia dan Jepang berhasil menandatangani 13 nota kesepahaman (MoU) senilai total USD 200,8 juta atau sekitar Rp3,2 triliun dalam rangkaian Indonesia–Japan Business Forum yang digelar di Osaka. Penandatanganan ini berlangsung dalam kunjungan kerja Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti, dalam misi dagang yang memperkuat kemitraan bilateral kedua negara.
Berbagai sektor strategis menjadi ruang lingkup kesepakatan, mulai dari produk kertas, pelet kayu, boga bahari (seafood), cokelat, dekorasi rotan, furnitur kayu, hingga biji kopi dan arang kayu. Tak hanya itu, dua bidang krusial lainnya yang juga masuk dalam kesepakatan adalah pengembangan tenaga kerja dan bisnis berbasis biomassa, menandakan komitmen bersama menuju ekonomi berkelanjutan dan ramah lingkungan.
“Kolaborasi ini menjadi bukti kuat bahwa Indonesia dan Jepang memiliki visi ekonomi yang selaras berbasis keberlanjutan, nilai tambah, dan kerja sama jangka panjang,” ujar Wamendag Dyah Roro Esti.(12/6/2025)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia juga menekankan bahwa kesepakatan ini bukan hanya tentang nilai perdagangan, tetapi juga peningkatan kapasitas pelaku usaha, pertukaran teknologi, dan penciptaan lapangan kerja. Di tengah tantangan global, kemitraan strategis ini dianggap sebagai bagian penting dari penguatan rantai pasok dan diversifikasi pasar.
Kerja sama perdagangan yang disepakati dalam forum tersebut mencerminkan wajah baru ekspor Indonesia: berbasis produk bernilai tambah, berkelanjutan, dan berorientasi pasar global. Produk seperti rotan, furnitur, dan biomassa menunjukkan bahwa Indonesia mulai menegaskan diri sebagai eksportir produk-produk ramah lingkungan yang sejalan dengan arah kebijakan perdagangan hijau dunia.
Forum ini juga menjadi ruang pertemuan langsung antara pelaku usaha Indonesia dan mitra Jepang, mempererat jaringan dagang dan membuka peluang kerja sama lanjutan. Bagi Indonesia, kerja sama ini membuka potensi besar dalam meningkatkan ekspor nonmigas dan memperluas penetrasi produk lokal ke pasar Jepang yang dikenal selektif dan berkualitas tinggi.
(Hs)














