Suararakyat.info.Surabaya – Universitas Ciputra kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun toleransi dan pemahaman lintas agama melalui program Jumpa Agama, yang kali ini mengangkat tema “Melalui Khonghucu Menuju Keseimbangan”. Kegiatan yang digelar secara daring melalui platform Zoom pada Kamis, 15 Mei 2025, tersebut menjadi ruang dialog spiritual dan kebudayaan dengan fokus pada nilai-nilai ajaran Khonghucu.
Acara ini merupakan bagian dari rangkaian Jumpa Agama yang dilaksanakan pada 13–16 Mei 2025 dan juga membahas agama-agama lain seperti Hindu, Islam, dan Katolik. Dalam sesi Khonghucu, hadir sebagai pembicara utama Ws. Liem Liliany Lontoh, S.Pd., S.E., M.Ag., Ketua MATAKIN DKI Jakarta sekaligus Dosen Sekolah Tinggi Khonghucu Indonesia (STIKIN). Sesi ini dipandu oleh Gus M. Alfin Fatikh sebagai moderator.
Ws. Liem mengawali pemaparannya dengan pengenalan dasar mengenai Agama Khonghucu, atau yang secara tradisional dikenal sebagai Ru Jiao, yang mengajarkan kelembutan, ketaatan, dan kehalusan budi pekerti yang bersumber dari karunia Tian (Tuhan Yang Maha Esa) melalui Nabi Kongzi (Kong Hu Cu) dan para suci purba.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ajaran ini didasarkan pada Kitab Suci Shi Shu (Empat Kitab) dan Wu Jing (Lima Kitab), antara lain Da Xue (Ajaran Besar), Zhong Yong (Tengah Sempurna), Lun Yu (Sabda Suci), dan Meng Zi (Kitab Mencius). Sedangkan Wu Jing mencakup Shi Jing (Kitab Sanjak), Shu Jing (Dokumentasi Sejarah), Yi Jing (Perubahan), Li Jing (Kesusilaan), dan Chunqiu Jing (Sejarah Musim Semi dan Gugur).
Lebih jauh, dijelaskan pula bahwa rumah ibadah umat Khonghucu dapat berupa Kelenteng, Kongmiao, Bio, maupun Litang, dan hari raya utama yang dirayakan adalah Tahun Baru Imlek. Tahun Imlek saat ini,Tahun Kelahiran Kongzi 551 SM + Tahun Masehi 2025 = 2576 Kongzili (Kalender Khonghucu).
Dalam pemaparan mendalamnya, Ws. Liem memperkenalkan konsep Sancai, yaitu kesatuan hubungan antara Tian (Tuhan), Di (bumi atau alam semesta), dan Ren (manusia), yang menjadi fondasi keseimbangan dalam hidup menurut Khonghucu. Ia juga menekankan bahwa meskipun di Indonesia ajaran Khonghucu sering dipraktikkan sebagai bagian dari tradisi budaya, sesungguhnya ajaran ini mengandung prinsip spiritual yang kuat dan mendalam.
Nilai-nilai utama dalam Khonghucu yang dikenal sebagai Watak Sejati adalah Ren (kemanusiaan), Yi (kebenaran), Li (kesopanan), Zhi (kebijaksanaan), dan Xin (kepercayaan). Lima nilai inilah yang menjadi pedoman hidup umat Khonghucu dalam menempuh Dao, atau Jalan Suci.
“Sebelum mengenal hidup, bagaimana mungkin mengenal hal setelah mati?” ujar Ws. Liem mengutip Da Xue, sembari menegaskan pentingnya fokus pada kehidupan nyata melalui praktik kebajikan. Dalam pandangan Khonghucu, kehidupan dan kematian bukanlah dua hal yang terpisah, tetapi satu kesatuan yang saling terhubung dan berujung kepada Tian.(22/5/2025)
Ajaran Khonghucu juga memberi perhatian khusus pada pemaknaan kematian dan penghormatan kepada leluhur. Roh atau semangat akan kembali kepada Tian, sementara nyawa, yang dipengaruhi keinginan duniawi, akan mengalami nasib berbeda tergantung pada perilaku selama hidup. Jika hidup selaras dengan Firman Tian, maka semangat dan nyawa dapat berpadu kembali dalam harmoni bersama Tian.

Upacara pemakaman dalam tradisi Khonghucu seringkali mencerminkan laku bakti dari anak kepada orang tua, bahkan dipercaya bahwa pengaturan letak makam berdasarkan feng shui dapat memengaruhi nasib keturunannya. Namun demikian, Ws. Liem menegaskan bahwa bukan kemewahan yang utama, melainkan rasa kesedihan yang tulus dan penghormatan yang sesuai kesusilaan.
“Daripada meributkan perlengkapan upacara, lebih baik ada rasa sedih yang benar,” ujar Ws. Liem mengutip Lun Yu Jilid III:4.
Upacara sembahyang arwah umum (Jing He Ping) juga menjadi bagian dari kepedulian umat Khonghucu terhadap arwah yang tidak memiliki keturunan. Hal ini menunjukkan ajaran Khonghucu sangat menekankan pada bakti, kesadaran moral, serta kewajiban spiritual terhadap sesama, termasuk yang telah wafat.
Melalui kegiatan ini, Universitas Ciputra berupaya menumbuhkan pemahaman lintas agama dan memperluas wawasan mahasiswa tentang nilai-nilai universal yang terkandung dalam ajaran agama-agama dunia. Pengenalan ajaran Khonghucu bukan hanya memberikan informasi religius, tetapi juga membuka ruang refleksi spiritual untuk mencapai kehidupan yang seimbang, harmonis, dan penuh kebajikan.
“Dengan memahami dan mengamalkan nilai-nilai Khonghucu, kita dapat membangun masyarakat yang lebih toleran, damai, dan beradab,” pungkas Ws. Liem dengan penuh harap.
(S Handoko)














