SUARARAKYAT.info || GARUT– Upaya pelestarian lingkungan berbasis masyarakat kembali digaungkan melalui langkah konkret yang digagas oleh Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Elang Khatulistiwa Indonesia. Bersama Andi Suka selaku penggagas program dan Abah Ganda, tokoh masyarakat yang dikenal konsisten menjaga kelestarian hutan, kolaborasi ini menghadirkan program penyemaian bibit alpukat sebagai solusi ekologis sekaligus ekonomi bagi masyarakat.
Program yang dilaksanakan pada (31/3/2026) di kawasan Cikoke, Kembang, Lembah Puspa, Kabupaten Bandung Barat ini tidak sekadar menjadi kegiatan penghijauan biasa. Lebih dari itu, program ini dirancang sebagai langkah strategis dalam menjawab persoalan lingkungan yang kian kompleks, mulai dari ancaman longsor, banjir, hingga degradasi lahan akibat berkurangnya tutupan vegetasi.
Dalam keterangannya, pihak LPK Elang Khatulistiwa Indonesia menegaskan bahwa program ini merupakan bentuk komitmen nyata dalam mitigasi bencana berbasis vegetasi. Pemilihan alpukat sebagai komoditas utama bukan tanpa alasan. Selain memiliki sistem perakaran yang kuat untuk menahan struktur tanah dan mencegah erosi, alpukat juga memiliki nilai ekonomis tinggi yang dapat menunjang kesejahteraan masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ini bukan sekadar menanam pohon, tetapi membangun sistem ketahanan lingkungan dan kemandirian ekonomi masyarakat. Alpukat menjadi pilihan karena manfaat ekologis dan ekonominya berjalan beriringan,” ungkap salah satu perwakilan program.
Lebih lanjut, program ini juga mengintegrasikan pendekatan edukatif melalui pelatihan kepada masyarakat. Tidak hanya berhenti pada tahap penyemaian, warga diberikan pembekalan mulai dari teknik pembibitan, perawatan tanaman, hingga metode penanaman yang berkelanjutan. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi objek, tetapi subjek utama dalam gerakan ini.
Kegiatan ini juga menjadi jawaban atas kebutuhan masyarakat terhadap kemandirian pangan. Di tengah meningkatnya tekanan ekonomi dan ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar, program ini mendorong masyarakat untuk memanfaatkan lahan yang ada secara produktif. Hasil panen alpukat diharapkan dapat menjadi sumber pangan bergizi sekaligus membuka peluang usaha berbasis pertanian.
Adapun tujuan besar dari program ini mencakup beberapa aspek krusial. Pertama, memperkuat mitigasi bencana dengan mengurangi risiko longsor dan erosi melalui peningkatan tutupan vegetasi. Kedua, menghidupkan kembali lahan-lahan kritis melalui penghijauan yang terencana. Ketiga, mendorong kemandirian pangan masyarakat melalui produksi hasil pertanian yang berkelanjutan. Dan keempat, memberdayakan masyarakat melalui peningkatan keterampilan dan peluang ekonomi.
Sebagai bentuk komitmen jangka panjang, LPK Elang Khatulistiwa Indonesia menargetkan penyemaian antara 10.000 hingga 30.000 bibit alpukat. Penanaman akan dilakukan secara bertahap di berbagai wilayah yang dinilai memiliki potensi sekaligus kebutuhan terhadap penghijauan dan penguatan ekosistem.
Kolaborasi antara lembaga pelatihan dan tokoh masyarakat ini diharapkan mampu menjadi gerakan berkelanjutan yang mengakar di tengah masyarakat. Tidak hanya menjaga keseimbangan alam, tetapi juga menjadi jalan bagi peningkatan kesejahteraan rakyat melalui pendekatan yang mandiri, berkelanjutan, dan berbasis kearifan lokal.
Di tengah krisis lingkungan yang kian nyata, langkah seperti ini menjadi bukti bahwa perubahan besar dapat dimulai dari gerakan kecil yang konsisten. Dari bibit-bibit yang disemai hari ini, harapan akan masa depan yang lebih hijau dan sejahtera pun mulai tumbuh.
Penulis : AK
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Suararakyat.info














