SUARARAKYAT.info|| Jakarta — Pakar Hukum Internasional sekaligus Ekonom Nasional, Prof Dr KH Sutan Nasomal, SH, MH, menegaskan bahwa Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Negara Indonesia tidak boleh kalah oleh strategi spekulatif para pengusaha kaya yang dinilainya lebih banyak mengamankan kekayaan pribadi ketimbang menggerakkan ekonomi nasional.
Pernyataan keras tersebut disampaikan Prof Sutan Nasomal saat menjawab pertanyaan para Pemimpin Redaksi media cetak dan online dalam dan luar negeri, dalam sebuah forum diskusi terbatas yang digelar di Markas Pusat Partai Oposisi Merdeka, Jakarta, Jumat (16/1/2026).
Dalam keterangannya, Prof Sutan menilai pemerintah perlu segera mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) yang secara khusus mengatur peran dan tanggung jawab orang-orang kaya di Indonesia agar turut aktif menciptakan lapangan kerja, baik melalui ekspansi usaha di dalam negeri maupun dengan membuka terobosan ekonomi produktif yang berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Presiden RI hendaknya mengeluarkan Keppres yang ditujukan kepada orang kaya di Indonesia agar membantu pemerintah menciptakan lapangan pekerjaan. Jangan semua beban pengangguran ditanggung negara,” ujar Prof Sutan Nasomal.
Orang Kaya Jadi Penentu Perputaran Ekonomi
Prof Sutan menegaskan bahwa bergeraknya ekonomi di seluruh pasar Indonesia sangat bergantung pada minat belanja kelompok orang kaya. Namun realitas yang terjadi saat ini justru sebaliknya. Menurutnya, uang orang kaya menumpuk di rekening, tidak dibelanjakan untuk menghidupkan pasar domestik, bahkan banyak dialihkan ke luar negeri.
Ia mempertanyakan fenomena tersebut secara terbuka.
“Ada apa? Mengapa uang orang kaya di Indonesia tidak dibelanjakan di pasar Indonesia, tidak dikembangkan untuk menghidupkan ekonomi masyarakat banyak?” tanyanya.
Lebih lanjut, Prof Sutan mengungkap bahwa berdasarkan pertanyaan dan temuan media, banyak orang kaya di Indonesia lebih memilih berburu dolar Amerika Serikat, emas, atau saham, sementara belanja dan gaya hidup justru dilakukan di luar negeri.
“Mereka cari untung besar di Indonesia, tapi hasilnya dibelanjakan di luar negeri. Ini tidak memberi dampak pada ekonomi nasional,” tegasnya.
Negara Harus Menyusun Strategi “Satu Kamar”
Dalam pandangannya, Presiden RI dan negara tidak boleh kalah strategi. Pemerintah, kata Prof Sutan, harus menyiapkan skema khusus atau ‘kamar ekonomi nasional’ agar para orang kaya tetap membelanjakan dan mengembangkan kekayaannya di dalam negeri.
“Jangan biarkan para orang kaya ini masuk kamar luar negeri. Negara harus menyiapkan kamar khusus agar uang mereka tetap berputar di Indonesia,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa para menteri di bawah Presiden Prabowo harus bekerja keras menciptakan rasa aman dan nyaman bagi para pengusaha kaya agar tidak memindahkan modal dan belanja ke luar negeri.
“Kalau orang kaya tidak merasa aman dan nyaman berusaha di Indonesia, maka itu kegagalan strategi para menteri,” katanya.
Rupiah Melemah, Masyarakat Tercekik
Dalam analisisnya, Prof Sutan menilai pemerintah harus melihat dua sisi krisis ekonomi nasional. Pertama, melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS yang berdampak langsung pada kenaikan harga barang kebutuhan pokok.
Ia memberikan ilustrasi konkret:
“Uang Rp1 juta di tahun 2026 nilainya sama saja seperti Rp300 ribu di tahun 2005. Barang yang didapat sangat sedikit, padahal angka nominalnya besar.”
Kondisi ini, menurutnya, sangat memberatkan masyarakat yang pendapatannya stagnan bahkan menurun.
Kelas Menengah Terjerat Pinjol, Rakyat Terancam Kelaparan
Prof Sutan juga menyoroti hancurnya daya tahan ekonomi kelas menengah. Banyak masyarakat yang kini tidak lagi memiliki tabungan, bahkan terjerat utang pinjaman online (pinjol) hanya untuk bertahan hidup.
“Penghasilan bulanan sudah tidak cukup membayar pinjol. Masyarakat tidak mungkin dibiarkan kelaparan,” tegasnya.
Ia menyebut bahwa selama 11 tahun terakhir, kenaikan harga kebutuhan pokok tidak pernah sebanding dengan kenaikan pendapatan masyarakat, sehingga mempercepat proses pemiskinan struktural.
Menuju Super Krisis Sosial
Dalam penilaian akhirnya, Prof Sutan Nasomal menyatakan bahwa Indonesia saat ini telah memasuki fase super krisis bagi masyarakat bawah.
Ia menggambarkan kondisi memilukan banyak keluarga yang hanya mampu makan nasi dan mi instan dua kali sehari, tanpa lauk pauk bergizi.
“Apa iya rakyat harus makan mi instan pagi, siang, dan malam? Ini kondisi yang sangat memprihatinkan,” ucapnya.
Sementara itu, di sisi lain, kelompok orang kaya justru terus menumpuk kekayaan, tanpa empati terhadap penderitaan masyarakat luas dan masa depan ekonomi bangsa.
Seruan Keras untuk Negara Hadir
Prof Dr Sutan Nasomal menutup pernyataannya dengan seruan tegas agar negara mengambil alih kendali jalur ekonomi nasional, tidak hanya menjadi fasilitator bagi pemodal besar.
“Jangan negara memberi modal besar, tapi hasilnya dinikmati di luar negeri. Negara harus satu kamar dengan pengusaha kaya, demi rakyat dan masa depan Indonesia,” pungkasnya.
Narasumber:Prof Dr KH Sutan Nasomal, SE, SH, MH (Pakar Hukum Internasional – Ekonom Nasional)
Editor : Red
Sumber Berita: Suararakyat.info














