Aceng Syamsul Hadie: Banjir Sumatera Bukan Bencana Alam, Ini Kejahatan Ekologis Terstruktur.

- Penulis

Selasa, 2 Desember 2025 - 23:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARARAKYAT.info|| Jakarta – Darurat ekologis (krisis iklim) akibat dari paradigma ekonomi global yang menempatkan alam sebagai onggokan komoditas terjadi di Indonesia, praktik kejahatan lingkungan hidup yang dilakukan secara sistematis dan berdampak luas dan kebijakan atau perizinan yang diberikan merupakan bentuk kejahatan luar biasa (extra ordinary crimes), sebuah kejahatan yang terencana, sistematis, dan berdampak luas dan tidak bisa dipulihkan.(03/12/2025)

Apa yang terjadi di Sumatera hari ini bukan sekadar banjir, ini adalah pembuktian telanjang bahwa hutan kita dijarah habis-habisan oleh kepentingan ekonomi yang rakus dan dibiarkan oleh pengawasan pemerintah yang lemah.

Aceng Syamsul Hadie menyoroti bahwa peristiwa banjir di Sumatera disebabkan adanya deforestasi brutal di wilayah Sumatera.

“Banjir Sumatera bukan bencana alam, Ini kejahatan ekologis terstruktur”, ungkap Aceng Syamsul Hadie, S.Sos., MM selaku Ketua Dewan Pembina DPP ASWIN (Asosiasi Wartawan Internasional).

Aceng menjelaskan bahwa ketika banjir Jakarta membawa sampah plastik, banjir Sumatera membawa gelondongan kayu. Itu bukan fenomena alam. Itu adalah jejak kejahatan ekologis. Itu adalah bukti bahwa di hulu, hutan sedang dilindas oleh sawit, Hutan Tanaman Industri (HTI) yang membuka jutaan hektar hutan frimer, tambang, dan kartel kayu yang bekerja tanpa rasa takut.

“Setiap batang kayu yang hanyut itu adalah bukti kegagalan negara menjaga hutan, setiap rumah yang hanyut adalah akibat dari pembiaran yang sistematis dan setiap korban yang meninggal adalah harga yang dibayar rakyat akibat kerakusan segelintir pihak”, tegasnya.

Aceng meyakini bahwa tidak ada lagi alasan, tidak ada lagi ruang bagi dalih curah hujan ekstrem atau anomali cuaca, curah hujan tidak pernah menebang pohon, iklim tidak pernah membawa chainsaw, tapi manusia lah yang melakukannya dan manusia lain yang memberi izin.

“Banjir Sumatera harus disebut apa adanya, ini kejahatan ekologis yang dilakukan oleh industri, dilegalkan oleh regulasi yang longgar, dan ditoleransi oleh aparat yang seharusnya menjaga lingkungan”, tambahnya.

Aceng menuntut investigasi menyeluruh terhadap perusahaan sawit dan HTI di daerah hulu, terhadap aktivitas tambang yang merusak daerah aliran sungai, terhadap mafia kayu yang menggunakan izin sebagai tameng, terhadap pemerintah daerah yang membiarkan ekosistem runtuh, dan terhadap aparat yang tidak menindak illegal logging secara tegas.

“Jika negara tidak segera bertindak, maka bencana yang lebih besar hanya soal waktu. Sumatera bukan hanya kehilangan hutannya, Sumatera sedang kehilangan masa depannya”, pungkasnya.

READ  Ketua Umum Gada Paksi Indonesia Sampaikan Rekomendasi Kebijakan kepada Presiden Prabowo, Soroti Dana Desa hingga Iuran BPJS%

Penulis : Ash

Editor : Red-SR

Sumber Berita: Suararakyat. info

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Guru Teladan Ibu Marsih Wafat, Jejak Pengabdian dan Ketulusan Dikenang Sepanjang Masa
Mama-Mama Papua Turun Tangan, Dapur Umum Satgas TMMD Ke-128 Kodim 1801/Manokwari Makin Solid
SATGAS TMMD KE-128 KODIM 1801/MANOKWARI LAKSANAKAN PEMASANGAN DINDING RUMAH PROGRAM RTLH
Satgas TMMD Ke-128 Kodim 1801/Manokwari Laksanakan Rehabilitasi 5 Unit MCK Umum di Kampung Tanah Rubuh
Danrindam XVIII/Kasuari Tutup Dikmaba Infanteri TNI AD Gelombang I TA 2026 : Kobarkan Semangat Prajurit, Siap Mengabdi dan Menjaga Kehormatan Bangsa
Progres Jembatan Perintis Garuda Tahap IV Capai 59 Persen, Warga Klatifi Sambut Antusias
Polda PBD Pastikan Sinergi TNI-Polri dan Warga Jaga Keamanan Bersama Saat Kunjungan RI 2 di Papua Barat Daya
Renovasi Gereja  Persekutuan Kristen Alkitab Indonesia (GPKAI) Dapat Sentuhan TMMD, Jemaat ERROI Ucap Syukur
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 25 April 2026 - 06:30 WIB

Guru Teladan Ibu Marsih Wafat, Jejak Pengabdian dan Ketulusan Dikenang Sepanjang Masa

Sabtu, 25 April 2026 - 05:49 WIB

Mama-Mama Papua Turun Tangan, Dapur Umum Satgas TMMD Ke-128 Kodim 1801/Manokwari Makin Solid

Sabtu, 25 April 2026 - 05:43 WIB

SATGAS TMMD KE-128 KODIM 1801/MANOKWARI LAKSANAKAN PEMASANGAN DINDING RUMAH PROGRAM RTLH

Sabtu, 25 April 2026 - 05:40 WIB

Satgas TMMD Ke-128 Kodim 1801/Manokwari Laksanakan Rehabilitasi 5 Unit MCK Umum di Kampung Tanah Rubuh

Sabtu, 25 April 2026 - 05:13 WIB

Progres Jembatan Perintis Garuda Tahap IV Capai 59 Persen, Warga Klatifi Sambut Antusias

Berita Terbaru