SUARARAKYAT.info||Tembilahan — Di tengah megahnya pembangunan Sekolah Kasih Lestari yang berlokasi di Jalan Trimas, Gang Trimas Sakti No. 81, Tembilahan Kota, Kecamatan Tembilahan, muncul persoalan yang memicu keresahan warga sekitar. Proyek pembangunan sekolah yang menaungi jenjang KB, SD, dan SMP tersebut diduga menyebabkan kerusakan fasilitas umum akibat penumpukan material bangunan yang tidak tertata.Jumat (21/11/2025)
Warga menilai pihak sekolah abai terhadap dampak lingkungan sekitar. Pasir, batu, dan material bangunan lainnya diletakkan begitu saja di bahu jalan hingga menutupi drainase. Kondisi tersebut membuat sejumlah saluran air pecah, buntu, bahkan mati total akibat tumbangnya material bangunan.
Ketika hujan turun, air tidak dapat mengalir sebagaimana mestinya. Genangan pun meluap ke jalan dan mengakibatkan banjir lokal. Warga menyebut fenomena ini baru muncul sejak aktivitas pembangunan Sekolah Kasih Lestari berlangsung.
Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa dirinya dan warga lainnya telah berulang kali menegur pihak sekolah maupun para pekerja proyek.

“Saya sudah menegur. Warga lain bahkan ada yang sampai bersitegang dengan pemilik proyek karena material mereka merusak jalan dan drainase. Tapi sampai sekarang tidak ada perubahan,” ujarnya.
Keluhan masyarakat juga telah dilaporkan kepada RT dan RW setempat. Setelah laporan disampaikan, pihak Sekolah Kasih Lestari disebut sempat menyatakan kesanggupan untuk memperbaiki drainase dan jalan yang rusak akibat tumpukan material. Namun janji tersebut hanya tinggal janji. Hingga hari ini, belum ada perbaikan maupun tindak lanjut nyata dari pihak sekolah.
Upaya konfirmasi warga melalui pesan WhatsApp terhadap pihak sekolah juga tidak membuahkan hasil. Bukan hanya lambat merespons, pihak sekolah justru melempar tanggung jawab kepada pihak lain tanpa memberikan penjelasan yang jelas.
Kondisi ini semakin memperkuat dugaan warga bahwa pihak Sekolah Kasih Lestari tidak memiliki itikad baik untuk menyelesaikan persoalan yang meresahkan masyarakat sekitar.
Warga mengingatkan bahwa drainase yang rusak tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengan memasuki musim hujan pada November dan Desember, masalah ini berpotensi memburuk dan menimbulkan dampak serius bagi warga sekitar, mulai dari banjir, kerusakan jalan, hingga terganggunya aktivitas masyarakat.

“Kami hanya ingin hak kami sebagai warga dihormati. Kalau pembangunan mau berjalan, silakan. Tapi jangan korbankan fasilitas umum,” kata seorang warga lainnya.
Masyarakat berharap pihak Sekolah Kasih Lestari segera memenuhi kesepakatan yang telah dibuat bersama warga. Mereka menilai penyelesaian persoalan ini penting dilakukan secepatnya agar tidak menimbulkan gesekan sosial yang lebih besar di lingkungan sekitar.
Sebagai lembaga pendidikan, warga berharap Sekolah Kasih Lestari menunjukkan keteladanan dengan bertanggung jawab atas dampak aktivitas pembangunannya. Warga menilai sekolah seharusnya menjadi contoh dalam menjaga lingkungan dan fasilitas umum, bukan justru menjadi sumber keluhan masyarakat.
Hingga berita ini diterbitkan, fasilitas umum berupa jalan dan drainase yang rusak belum mendapatkan perbaikan, sementara warga terus menunggu komitmen pihak sekolah
(Syw)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT














