SUARARAKYAT.info|| Jakarta — Dalam ragam kuliner Nusantara, kue tradisional selalu memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Salah satu yang terus digemari lintas generasi adalah Kue Talam Ubi Kuning, perpaduan sempurna antara kelembutan tekstur dan manis alami dari ubi jalar yang berpadu dengan gurihnya santan. Resep ini bukan sekadar jajanan pasar, tetapi juga potret kekayaan budaya Indonesia yang penuh cita rasa dan kehangatan.minggu (9/11/2025)
Kue talam sendiri sudah dikenal luas di berbagai daerah di Indonesia, biasanya hadir dalam dua lapisan dengan kombinasi rasa manis dan gurih. Lapisan bawahnya cenderung lembut dan manis, sementara lapisan atas memberi kontras rasa yang gurih dan sedikit asin. Dalam versi ubi kuning ini, kue talam memancarkan warna keemasan alami dari ubi jalar yang menambah daya tarik visual sekaligus aroma khas yang menggugah selera.
Rahasia di Balik Kelezatan Kue Talam Ubi Kuning
Untuk membuat kue ini, terdapat dua adonan utama yang menjadi kunci kelezatannya Bahan A dan Bahan B.
Bahan A terdiri dari:
250 gram ubi jalar kukus yang dihaluskan,
50 gram tepung tapioka,
35 gram tepung beras,
15 gram tepung sagu,
100 gram gula,
¼ sendok teh garam,
200 ml santan instan, dan
100 ml air.
Sementara Bahan B atau lapisan atasnya mengandalkan kombinasi yang lebih gurih:
120 gram tepung beras,
60 gram tepung tapioka,
60 gram tepung sagu,
1 sendok teh garam,
400 ml santan instan,
80 ml air mineral, dan
¼ sendok teh vanili bubuk.
Kedua adonan ini harus diaduk rata dan disaring agar hasil akhirnya halus tanpa gumpalan. Proses penyaringan sederhana ini sering diabaikan, padahal menjadi salah satu rahasia penting agar tekstur kue talam terasa lembut di lidah.
Membuat kue talam ubi kuning bukan sekadar soal mencampur bahan, melainkan juga soal ketelatenan dan kesabaran. Pertama, siapkan cetakan kecil yang sudah dioles tipis dengan minyak agar kue tidak lengket. Lalu, tuangkan adonan B (lapisan putih gurih) ke dalam cetakan dan kukus selama kurang lebih tiga menit.
Pastikan tutup kukusan dibungkus dengan serbet bersih, agar uap air tidak menetes ke permukaan kue dan merusak teksturnya. Setelah tiga menit, barulah tuangkan adonan A (lapisan kuning manis dari ubi) di atasnya, lalu kukus kembali selama 10 menit.
Untuk menambah kesan berlapis yang cantik, tuangkan kembali sisa adonan B di atas lapisan ubi, kemudian kukus lagi selama delapan menit hingga matang sempurna. Hasil akhirnya adalah kue dengan tiga lapisan warna kontras: kuning keemasan, putih lembut, dan aroma khas santan yang menggoda.
Setelah matang, kue dibiarkan dingin sebelum dikeluarkan dari cetakan. Saat suhu sudah turun, barulah tampak kilau permukaan kue yang lembut dan menggugah selera menandakan bahwa prosesnya berhasil sempurna.
Kue talam ubi kuning bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal identitas kuliner Indonesia. Resep yang diwariskan turun-temurun ini menjadi simbol kehangatan keluarga dan kebersamaan, terutama saat disajikan dalam acara arisan, syukuran, atau sekadar teman minum teh sore hari.
Di tengah gempuran makanan modern dan instan, kue talam ubi kuning hadir sebagai pengingat bahwa keindahan cita rasa Nusantara tak pernah pudar. Lembut di lidah, manisnya pas, gurihnya santan berpadu sempurna menjadikan setiap gigitan membawa kenangan masa kecil di dapur nenek atau di meja camilan rumah.
Dengan langkah sederhana, bahan yang mudah ditemukan, dan semangat melestarikan tradisi, siapa pun dapat menghadirkan kelezatan klasik ini di rumah. Kue Talam Ubi Kuning bukan hanya makanan, melainkan cerita tentang cinta, kesabaran, dan rasa syukur atas kekayaan kuliner Indonesia.
Selamat mencoba dan rasakan lembutnya warisan Nusantara di setiap lapisannya.
(Red)














