SUARARAKYAT.info|| Sukabumi-Di tengah maraknya berbagai camilan modern, ranginang makanan ringan tradisional berbahan dasar ketan kembali menjadi primadona di sejumlah daerah. Teksturnya yang renyah, cita rasa gurih, serta proses pembuatannya yang masih mempertahankan teknik turun-temurun membuat ranginang kembali diburu oleh para pecinta kuliner. Tidak sedikit pula pelaku UMKM yang melihat peluang besar dari cemilan sederhana ini.Jumat (28/11/2025)
Salah satu produsen rumahan membagikan cara pembuatan ranginang yang tengah viral karena hasilnya dinilai lebih renyah dan mekar sempurna. Berawal dari penggunaan bahan sederhana seperti 500 gram beras ketan putih, bawang putih, garam, hingga sedikit kaldu bubuk, ranginang diolah melalui proses panjang namun tetap mudah diikuti.
Proses dimulai dengan merendam beras ketan selama tiga hingga empat jam. Tahapan ini dianggap penting untuk memastikan tekstur ketan lebih empuk sehingga mudah dibentuk dan menghasilkan ranginang yang renyah setelah digoreng. Setelah direndam, ketan dikukus selama 15 menit, kemudian disiram air panas, dan dikukus kembali hingga matang sempurna.
Pada tahap selanjutnya, bumbu halus yang terdiri dari bawang putih, garam, dan kaldu bubuk dicampurkan ke ketan panas, kemudian diaduk rata. Adonan ini kemudian dibentuk secara manual menjadi bulatan pipih khas ranginang, lalu disusun di tampah atau loyang agar tidak lengket. Inilah tahap tradisional yang masih dipertahankan dan memberi ciri khas tersendiri.
Setelah dibentuk, ranginang dijemur hingga benar-benar kering. Menurut pembuatnya, penjemuran selama satu hingga dua hari di bawah sinar matahari menjadi kunci utama ranginang bisa mengembang sempurna saat digoreng. Semakin kering, semakin besar dan mekar hasilnya ketika masuk ke dalam minyak panas.
Tahapan terakhir adalah proses penggorengan. Dengan menggunakan minyak panas namun api kecil, ranginang perlahan-lahan mekar dan membentuk tekstur kriuk yang menggugah selera. “Minyak harus benar-benar panas, tetapi apinya jangan besar. Itu rahasia supaya ranginang mekar tapi tidak cepat gosong,” ujar salah satu produsen.
Fenomena meningkatnya minat masyarakat terhadap ranginang juga terlihat dari munculnya berbagai varian rasa. Selain rasa original gurih, kini tersedia pilihan pedas, balado, hingga keju untuk menarik minat anak-anak maupun kaum milenial. Produsen pun menggelar voting rasa favorit, mulai dari original, pedas, keju, hingga balado.
Dari sisi bisnis, ranginang disebut sebagai salah satu camilan dengan modal kecil namun potensi keuntungan besar. Dengan proses yang relatif mudah dan bahan terjangkau, ranginang dapat dikemas kecil-kecil dan dijual dengan harga mulai dari Rp5.000 hingga Rp10.000 per bungkus. Selain untuk konsumsi pribadi, produk ini banyak dipesan untuk acara arisan, pertemuan keluarga, hingga dijadikan stok camilan di rumah.
Selain menjual secara offline, para produsen rumahan kini memanfaatkan platform e-commerce untuk memperluas pasar. Penawaran produk lengkap dengan tautan pembelian turut memudahkan konsumen mendapatkan ranginang tanpa harus keluar rumah. “Pesan sekarang, besok sudah bisa nyemil,” tulis penjual dalam kampanye promosinya.
Kembalinya ranginang sebagai camilan favorit masyarakat membuktikan bahwa pangan tradisional tetap memiliki tempat spesial di hati konsumen Indonesia. Dengan cita rasa gurih, proses pembuatan autentik, serta inovasi rasa yang terus berkembang, ranginang bukan sekadar nostalgia, tetapi juga peluang usaha yang menjanjikan.
(Red)














