SUARARAKYAT.info||Cianjur – Musibah kembali menimpa nelayan Jayanti yang berada di Desa Cidamar, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur. Puluhan perahu nelayan karam setelah dihantam cuaca buruk yang terjadi sejak Jumat (19/9) sore hingga Sabtu dini hari.
Dari informasi yang dihimpun, hujan deras disertai angin kencang mulai mengguncang kawasan pesisir Jayanti sekitar pukul 18.00 WIB. Kondisi itu membuat gelombang tinggi tak terkendali, hingga sejumlah perahu nelayan yang sedang bersandar maupun yang berada di laut tak mampu bertahan. Akibatnya, sekitar hari jumat sore sekitar pukul 18:00 wib sebanyak 22 perahu dilaporkan karam hingga pukul 00.00 WIB.(20/9/2025)

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Musibah ini sontak membuat kepanikan di kalangan nelayan. Namun berkat gotong royong dan solidaritas, para nelayan saling bahu membahu melakukan evakuasi. Sejumlah unsur aparat juga ikut turun tangan, mulai dari PPC (Pelabuhan Perikanan Cidaun), Satpolairud, hingga TNI AL.
Wawas Somantri, salah seorang nelayan humas rukun nelayan (RK) mengungkapkan rasa pilunya. Ia menegaskan bahwa persoalan utama yang terus menghantui nelayan Jayanti setiap musim cuaca buruk adalah ketiadaan kolam labuh kapal.

“Dari kemarin sore sampai malam, perahu kami karam satu per satu. Hari ini sudah ada 22 perahu tenggelam. Kami nelayan hanya bisa pasrah, tapi sampai kapan harus seperti ini? Harapan kami satu-satunya, pemerintah segera membangun kolam labuh. Kalau tidak, setiap musim kami akan terus jadi korban,” ujar Wawas.
Ia menambahkan, saat ini kondisi ekonomi nelayan semakin terjepit. “Boro-boro mau beli perahu baru, untuk memenuhi kebutuhan keluarga saja sudah sulit. Kami lelah kalau setiap tahun hanya bisa melapor tanpa ada solusi nyata,” keluhnya.

Keluhan serupa juga disampaikan nelayan lain yang menegaskan bahwa keberadaan kolam labuh adalah kebutuhan mendesak. Menurut mereka, tanpa fasilitas itu, kehidupan nelayan Jayanti akan terus bergantung pada nasib baik di tengah badai yang datang setiap tahun, terutama saat musim angin barat.
“Bagaimana kami bisa menafkahi keluarga kalau perahu terus hancur dan karam setiap musim hujan dan angin kencang. Kami minta Gubernur Jawa Barat, Pak Dedi Mulyadi, turun langsung melihat keadaan kami di sini. Jangan hanya dengar cerita, tapi saksikan kondisi nelayan yang benar-benar butuh perhatian,” ujar seorang nelayan lain.

Musibah karamnya puluhan perahu di Pelabuhan Jayanti menambah panjang daftar penderitaan nelayan pesisir selatan Cianjur. Masyarakat berharap pemerintah daerah maupun pusat tidak lagi menunda pembangunan kolam labuh yang dianggap sebagai solusi jangka panjang.
Jika hal ini dibiarkan, bukan hanya kerugian materi berupa perahu dan alat tangkap yang terus menumpuk, tetapi juga masa depan ekonomi keluarga nelayan akan semakin suram.
(Cep Toto)














