SUARARAKYAT.info||Sukabumi- Program makan bergizi yang dicanangkan pemerintah pusat melalui Presiden Prabowo Subianto kembali menuai sorotan. Kali ini, kejadian tidak mengenakkan terjadi di SDN Parakansalak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Sejumlah siswa yang menerima jatah makan bergizi justru mengalami muntah-muntah, sakit perut, dan pusing usai mengonsumsi makanan yang dibagikan di sekolah pada Jumat (22/8/2025).
Informasi yang beredar di media sosial menyebutkan bahwa makanan yang dibagikan kepada murid-murid sudah dalam kondisi tidak layak konsumsi. Menu yang terdiri dari tahu, tempe, serta semangka itu diduga dalam keadaan asam dan basi. Kondisi tersebut membuat banyak anak kelas 1 yang belum memahami risiko makanan basi langsung mengonsumsi, hingga akhirnya mengalami gejala sakit perut dan muntah.
“Program Prabowo makan bergizi datang ke lapangan jadi makan basi. Semangka yang dibagikan sebagian sudah buruk, dan anak-anak kelas 1 yang tidak tahu akhirnya sakit perut,” tulis salah seorang warga Parakansalak dalam unggahan yang viral di media sosial.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Keluhan serupa juga datang dari orang tua murid yang khawatir dengan kualitas makanan dalam program tersebut. Mereka berharap agar pemerintah maupun pihak penyedia makanan benar-benar memperhatikan standar kebersihan, gizi, dan keamanan pangan sebelum dibagikan kepada anak-anak sekolah.
Beberapa warga juga menyoroti manajemen pelaksana program yang dinilai tidak transparan. Disebutkan bahwa alih-alih sederhana, program ini justru melibatkan banyak tenaga kerja dengan sistem yang rumit, hingga menimbulkan masalah kualitas di lapangan. “Daripada basi dipaksakan, lebih baik sederhana tapi aman. Jangan sampai murid jadi korban,” ungkap salah satu komentar warga.
Akibat kejadian ini, suasana di SDN Parakansalak sempat heboh. Sejumlah guru panik saat melihat murid-murid mengalami gejala sakit perut secara bersamaan. Orang tua yang mengetahui kabar tersebut pun segera berdatangan ke sekolah untuk memastikan kondisi anak-anak mereka.
Masyarakat berharap pemerintah daerah dan pihak sekolah segera melakukan evaluasi mendalam, termasuk memeriksa penyedia katering atau dapur yang bertanggung jawab dalam distribusi makanan. Program makan bergizi yang sejatinya bertujuan menyehatkan anak-anak, jangan sampai justru membahayakan kesehatan mereka.
“Kalau tidak mampu memastikan kualitas, lebih baik jangan banyak ambil proyek. Anak-anak bukan bahan percobaan,” tegas salah seorang warga dalam pernyataan bernada kritik.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak sekolah maupun instansi terkait mengenai jumlah pasti murid yang terdampak dan tindak lanjut yang akan dilakukan. Namun masyarakat mendesak agar ada pertanggungjawaban serius agar kejadian serupa tidak kembali terulang di kemudian hari.
(Tim)














