Poto: Kades Timpah Ruby
SUARARAKYAT.info|| Timpah – Polemik kepemimpinan Kepala Desa (Kades) Timpah, Ruby, kembali menjadi sorotan setelah ia berulang kali menghindar dari konfirmasi awak media. Terbaru, pada Senin (18/8/2025), Ruby kembali enggan merespons pertanyaan yang diajukan melalui aplikasi WhatsApp ke nomor pribadinya (+62 853 3242 72xx). Hingga berita ini diturunkan, pesan dan permintaan klarifikasi yang dikirimkan awak media tidak kunjung mendapat jawaban.
Padahal, konfirmasi tersebut sangat dibutuhkan untuk meluruskan berbagai persoalan yang belakangan ramai diperbincangkan publik, terutama menyangkut transparansi pemerintahan desa. Namun, alih-alih memberikan penjelasan, Ruby justru memilih bungkam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sikap diam ini bukan yang pertama kali diperlihatkan Ruby. Pada Jumat (15/8/2025) lalu, saat awak media berusaha menghubunginya melalui WhatsApp untuk meminta klarifikasi, ia justru melakukan tindakan yang mengejutkan: memblokir nomor awak media. Langkah tersebut jelas memperlihatkan sikap tidak kooperatif, bahkan terkesan menghindar dari kewajiban sebagai pejabat publik untuk menyampaikan keterangan kepada masyarakat.
Tidak berhenti di situ, awak media kemudian mencoba menghubungi kembali menggunakan nomor WhatsApp yang berbeda. Namun, hasilnya tetap sama: Ruby tidak memberikan tanggapan, baik berupa balasan pesan maupun konfirmasi langsung. Hal ini semakin menguatkan dugaan adanya sikap tertutup yang tidak sejalan dengan prinsip keterbukaan informasi publik sebagaimana diamanatkan undang-undang.
Sebagai seorang kepala desa, Ruby sejatinya memiliki kewajiban moral dan hukum untuk menjawab pertanyaan masyarakat yang disampaikan melalui media. Keterbukaan informasi adalah bagian dari akuntabilitas pemerintahan desa. Publik berhak tahu bagaimana jalannya roda pemerintahan, termasuk penggunaan anggaran serta kebijakan yang diambil oleh seorang kepala desa.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Dengan sikap diam, menghindar, dan bahkan memblokir saluran komunikasi, Ruby menutup ruang dialog yang seharusnya terbuka lebar. Keputusan untuk membungkam komunikasi dengan media justru menimbulkan pertanyaan besar: Apa yang sebenarnya tengah ditutupi Kades Timpah?
Perilaku seperti ini tentu tidak bisa dianggap sepele. Dalam konteks demokrasi desa, seorang kepala desa bukanlah penguasa tunggal, melainkan pelayan masyarakat yang dipilih untuk membawa perubahan dan keterbukaan. Diam dan menghindar hanya akan memperburuk citra, sekaligus memperlebar jarak antara pemerintah desa dengan rakyatnya.
Hingga kini, masyarakat masih menunggu sikap terbuka Ruby untuk memberikan penjelasan. Namun, jika pola bungkam ini terus dipertahankan, bukan tidak mungkin kepercayaan publik terhadap kepemimpinannya semakin terkikis.
Catatan Redaksi: Hingga berita ini diterbitkan pihak pemdes dipersilahkan lakukan gak jawab dan klarifikasi atas berita yang sudah terbit, dan lengkapi bukti dan data yang otentiknya
(Athia)














