SUARARAKYAT.info||Bandung Barat – Di balik gagahnya Merah Putih raksasa berukuran 800 meter persegi yang berkibar di Tebing Gunung Masigit, Kabupaten Bandung Barat, berdiri sosok pemimpin yang tegas namun penuh kebijaksanaan: Eko Triyanto, S.T., Ketua Laskar Merah Putih (LMP) Markas Cabang Kabupaten Bekasi.sabtu (16/8/2025)
Bagi Eko, pengibaran bendera raksasa menjelang HUT ke-80 Republik Indonesia bukan sekadar seremoni. Ia memaknainya sebagai panggilan sejarah, sebuah momentum untuk menyalakan kembali api perjuangan di dada setiap anak bangsa. Dengan suara lantang namun teduh, ia mengingatkan bahwa semangat nasionalisme bukan hanya milik masa lalu, tetapi warisan abadi yang harus dijaga di era globalisasi.
“Gunung Masigit dengan tebing-tebing cadasnya adalah lambang kekokohan bangsa ini. Dan ketika Merah Putih terbentang di puncaknya, itu adalah pesan bahwa semangat kemerdekaan tidak boleh goyah, betapapun derasnya arus perubahan zaman,” ujar Eko, dengan sorot mata yang memancarkan tekad.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebagai pemimpin organisasi perjuangan, Eko tidak hanya bicara tentang simbol. Ia mengajak masyarakat untuk menjadikan peringatan kemerdekaan sebagai ajang kebangkitan: berkarya nyata, memperkuat gotong royong, dan menjaga nilai-nilai Pancasila serta UUD 1945. Dalam setiap kata-katanya, tersirat panggilan moral agar bangsa ini tidak hanyut dalam euforia globalisasi yang sering mengikis jati diri.
“Semangat kebangsaan harus hidup dalam perilaku sehari-hari. Jangan sekali-kali merendahkan simbol negara. Bendera Merah Putih adalah lambang kehormatan, bukan sekadar kain yang berkibar di tiang,” tegasnya.
Dengan penuh keteladanan, Eko juga mengingatkan generasi muda agar lebih bijak menempatkan simbol nasional. Ia menolak sikap main-main yang justru mencederai kesakralan perjuangan. “Jangan pernah mengganti Merah Putih dengan bendera fiksi atau budaya pop. Itu bukan ekspresi kebebasan, melainkan pelecehan terhadap sejarah dan para pahlawan,” tandasnya.
Dalam kesempatan itu, Eko tidak lupa menyampaikan penghargaan kepada Ketua Umum LMP, H.M. Arsyad Cannu, yang ia sebut sebagai inspirasi perjuangan. “Beliau adalah teladan bagi kami. Dari pusat hingga daerah, kami diajarkan arti persatuan, disiplin, dan loyalitas kepada bangsa. Itulah yang terus kami pegang dalam mengabdi,” ungkapnya.
Sebagai komandan perjuangan di daerah, Eko menginstruksikan seluruh kader LMP di Bekasi untuk terjun langsung bersama pemerintah, TNI, dan Polri dalam upacara HUT RI ke-80. Baginya, keberadaan LMP di tengah rakyat adalah bukti bahwa organisasi ini bukan hanya simbol perlawanan, tetapi benteng kokoh masyarakat sipil dalam menjaga keutuhan NKRI.
Pengibaran bendera raksasa itu ditutup dengan pekik perjuangan yang menggelegar di tebing tinggi: “NKRI Harga Mati, Merah Putih Abadi!” Sebuah pekik yang mencerminkan jiwa kepemimpinan Eko Triyanto seorang teladan yang menyalakan obor nasionalisme, menggerakkan semangat juang, dan menegaskan bahwa cinta tanah air adalah amanah suci yang harus terus diwariskan lintas generasi.
Kontributor: Opik














