Demokrasi Modern Melahirkan Pemimpin Formal, Pemimpin Panutan Perlu Dihidupkan Kembali

- Penulis

Sabtu, 1 Maret 2025 - 05:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suararakyat.info.Jakarta – Di era demokrasi modern, pemimpin formal lahir melalui proses pemilihan kepala daerah (Pilkada) dan pemilihan umum (Pemilu). Namun, dalam proses kontestasi tersebut, kekuatan partai politik dan modal (capital) sering kali menjadi faktor dominan yang menentukan hasilnya.

Pemilihan pemimpin tidak lagi sepenuhnya didasarkan pada kepatutan dan kompetensi, tetapi lebih kepada siapa yang memiliki kekuatan politik dan finansial. Fenomena ini menciptakan demokrasi yang berbasis kesepakatan (yassimaturuseng), di mana aspek kepatutan bukan menjadi prioritas utama.01/03/2025

Melihat kondisi ini, muncul pemikiran untuk menghidupkan kembali pemimpin-pemimpin panutan atau pemimpin informal di masyarakat, seperti Matoa, Sulewatang, Gallareng, dan Tau Pabbicara. Mereka adalah figur yang memiliki nilai-nilai kearifan lokal, berperan sebagai penuntun masyarakat, dan dihormati karena kebijaksanaan serta kepemimpinannya.

Sayangnya, keberadaan para pemimpin panutan ini semakin terpinggirkan akibat kurangnya pemahaman dari para pejabat publik yang berkuasa saat ini. Mereka tidak diberdayakan secara maksimal, meskipun memiliki pengaruh besar dalam menjaga nilai-nilai sosial dan budaya dalam masyarakat.

Dengan kondisi politik yang semakin didominasi oleh kekuatan modal dan kepentingan kekuasaan, muncul urgensi untuk mengembalikan peran pemimpin-pemimpin informal ini. Mereka dapat menjadi simbol kepemimpinan berbasis nilai, moral, dan budaya, yang tidak hanya mengandalkan kekuatan politik semata.

 

 

(han/fiam)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Meranti Menanti Keadilan Anggaran, Saatnya Wakil Riau Bersatu Mengawal RUU Daerah Kepulauan
Yakub F Ismail : Berantas Korupsi, Wujudkan Visi Prabowo
Kartini dan “Si Tou Timou Tumou Tou”: Seruan Bersama Menyalakan Terang Kemanusiaan
Ketika Hormuz Bergetar, Indo-Pasifik Berguncang: Bayang Bayang Perang Iran-AS/Israel dan Ujian Nyata Bagi ASEAN Serta Indonesia
Yakub F Ismail : Tekanan Ganda Ekonomi Indonesia
Dari Depresi Berat Menuju Kepemimpinan Nasional: Transformasi Donny Andretti dan Lahirnya Berbagai Organisasi di Indonesia
Koruptor Hidup Mewah, Rakyat Mati Lapar: Saatnya Hukuman Mati dan Perampasan Aset
Para Serigala Penipu Berkedok Investasi yang Bersembunyi di Balik Korporasi Kini Dapat Dilibas dan Dimintai Pertanggungjawaban Pidana
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 13 Juli 2026 - 11:34 WIB

Meranti Menanti Keadilan Anggaran, Saatnya Wakil Riau Bersatu Mengawal RUU Daerah Kepulauan

Sabtu, 11 Juli 2026 - 11:46 WIB

Yakub F Ismail : Berantas Korupsi, Wujudkan Visi Prabowo

Kamis, 30 April 2026 - 02:46 WIB

Kartini dan “Si Tou Timou Tumou Tou”: Seruan Bersama Menyalakan Terang Kemanusiaan

Senin, 27 April 2026 - 08:50 WIB

Ketika Hormuz Bergetar, Indo-Pasifik Berguncang: Bayang Bayang Perang Iran-AS/Israel dan Ujian Nyata Bagi ASEAN Serta Indonesia

Jumat, 3 April 2026 - 14:54 WIB

Yakub F Ismail : Tekanan Ganda Ekonomi Indonesia

Berita Terbaru