Insiden terjadi ketika sebuah Tagbot bernama Kurnia XXVII dan ponton Sumber Anugrah berlabuh tepat di depan Pelabuhan Sungai Hiyu. Nelayan menduga, putusnya tali gumbang tersebut ada kaitannya dengan manuver kedua kapal itu saat melemparkan jangkar.
Menurut keterangan nelayan, kejadian bermula ketika ia sedang memantau peralatan tangkapnya yang terpasang di perairan sekitar pelabuhan. Tak lama kemudian, ia melihat Tagbot dan ponton menghentikan laju dan menurunkan jangkar. Setelah itu, tali gumbang miliknya diketahui putus.
Nelayan yang merasa dirugikan langsung mengabadikan situasi tersebut melalui rekaman video. Video itu memperlihatkan posisi tagbot Kurnia XXVII dan ponton Sumber Anugrah yang tengah berhenti di depan pelabuhan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kejadiannya pas kapal itu buang jangkar. Tidak lama kemudian tali gumbang saya putus,” ujar nelayan tersebut saat dimintai keterangan. Ia berharap ada perhatian dari pihak terkait agar nelayan kecil tidak selalu dirugikan oleh aktivitas kapal besar.
Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat setempat, terutama terkait tanggung jawab kapal yang berlabuh di kawasan yang juga menjadi lokasi aktivitas nelayan tradisional. Mereka meminta agar pihak berwenang melakukan pengecekan dan klarifikasi.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola kapal maupun otoritas pelabuhan terkait dugaan keterlibatan tagbot Kurnia XXVII dan ponton Sumber Anugrah dalam insiden putusnya tali gumbang tersebut.
Masyarakat berharap pemerintah daerah maupun instansi maritim segera turun tangan menengahi persoalan ini. Nelayan menilai kerugian akibat peralatan rusak cukup berdampak pada hasil tangkapan mereka.
Kasus ini menjadi perhatian serius karena menyangkut keselamatan serta keberlangsungan aktivitas nelayan tradisional di Sungai Hiyu. Perlu adanya aturan dan pengawasan ketat agar kapal-kapal besar yang melintas atau berlabuh tidak mengganggu alat tangkap nelayan setempat.














