SUARARAKYAT.info||Sukabumi – Harapan besar datang dari sudut Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi. Di sebuah bangunan sederhana yang berdiri di Kampung Tanjungsari RT 01/07, terdapat sebuah lembaga pendidikan yang masih berjuang dalam keterbatasan: Madrasah Ibtidaiyah (MI) Tanjungsari.
Kepala Sekolah MI Tanjungsari, Ade Sasmita, yang telah mendedikasikan dirinya selama puluhan tahun di dunia pendidikan, mengungkapkan bahwa usia madrasah ini sudah mendekati dua dekade. Namun, kondisi bangunan sekolah belum juga mendapatkan perhatian serius dari pemerintah.
“Kalau kita lihat di desa ini, sekolah dasar negeri (SD) bangunannya sudah bagus-bagus, megah, bahkan fasilitasnya cukup memadai. Tapi untuk sekolah di bawah naungan Kementerian Agama seperti MI maupun MTs, keadaannya ya seperti ini, apa adanya,” ujar Ade dengan nada penuh harap.rabu (27/8/2025)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ade menambahkan, pihaknya bukan menuntut sesuatu yang berlebihan, melainkan hanya meminta adanya perhatian dan perlakuan yang sama dari pemerintah terhadap sekolah-sekolah berbasis madrasah. Menurutnya, pendidikan yang diberikan di madrasah juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter, akhlak, serta kecerdasan generasi bangsa.
“Kami ini hanya ingin anak-anak di sini bisa belajar dengan nyaman, tidak minder ketika melihat sekolah lain yang bangunannya sudah layak. Bagaimanapun juga, mereka adalah masa depan bangsa yang harus diperlakukan sama,” lanjutnya.
Masyarakat sekitar pun mengamini pernyataan tersebut. Keberadaan MI Tanjungsari sudah lama menjadi tumpuan pendidikan anak-anak kampung, khususnya bagi mereka yang ingin menimba ilmu agama sekaligus pendidikan umum. Namun, dengan kondisi bangunan yang terbatas, ruang kelas seadanya, serta fasilitas minim, proses belajar-mengajar sering kali tidak berjalan maksimal.

Ade berharap, pemerintah pusat maupun daerah segera memberikan perhatian lebih terhadap madrasah di pedesaan. Ia menegaskan bahwa kualitas pendidikan tidak boleh dibeda-bedakan hanya karena status sekolah berada di bawah naungan kementerian yang berbeda.
“Kami percaya pemerintah punya kemampuan untuk memajukan pendidikan, termasuk madrasah. Hanya tinggal kemauan dan kepedulian yang dibutuhkan. Jangan biarkan MI dan MTs di desa tertinggal jauh hanya karena masalah pembangunan,” tegas Ade.
Suara dari MI Tanjungsari ini menjadi cerminan dari banyak madrasah di pelosok Indonesia yang masih menunggu sentuhan perhatian negara. Semoga, ke depan, cita-cita akan pendidikan yang merata tanpa diskriminasi bisa benar-benar terealisasi dan di rasakan masyarakat
(Hs)














