SUARARAKYAT.info|| Jakarta – Suasana diskusi interaktif yang digelar DPP GAKORPAN (Gerakan Anti Korupsi Nasional dan Penyelewengan Aparatur Negara) di Gedung Joang 45, Cikini, Sabtu (23/8/2025), berlangsung panas dan penuh kritik tajam terhadap kinerja Kabinet Merah Putih pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Acara tersebut menghadirkan berbagai tokoh lintas organisasi masyarakat, di antaranya Dr. Bernard BBBBI Siagian, S.H., M.A.Kp (Ketua DPP GAKORPAN), Bunda Tiur Simamora (Ketua Srikandi Pejuang 45 LMNRRI, Ratu Prabu 08), Dr. Moses Robert Waimuri, S.H., M.Th (Aliansi Papua Bersatu), Agip Supendi, S.H. (LBH Pers Presisi Polri), Rusman Pinem, S.Sos (Ketua Gerakan Solidaritas Nasional Suara Keadilan Kedaulatan Rakyat Indonesia), serta Bunda F. Sebayang (Ketua Posbakum Gerakan Rakyat Sampali Deli Serdang Bersatu).
Diskusi yang bertajuk Telaah Integritas Kabinet dan Masa Depan Demokrasi Indonesia itu berubah menjadi forum kritik tajam terhadap fenomena Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK terhadap Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Immanuelle Eben Ezer “Noel” Hutapea, yang baru saja mengguncang publik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
OTT Wamen Noel: Gol Bunuh Diri Kabinet Merah Putih
Ketua Umum JOMAN (Jokowi Mania), yang kini dikenal sebagai Wamen Ketenagakerjaan, Noel, sebelumnya dipandang sebagai figur muda energik, berani, dan responsif terhadap isu perburuhan. Ia dikenal vokal memperjuangkan hak-hak buruh dalam berbagai momentum, termasuk kasus Sritex, isu Mayday, hingga ajakan dialog terbuka antara pengusaha dan buruh.
Namun karier politiknya justru berakhir tragis setelah dirinya terjerat OTT KPK terkait dugaan pemerasan sertifikasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Kasus ini sekaligus membuka tabir kepemilikan rumah mewah, mobil, hingga motor sport Ducati yang jauh melampaui laporan LHKPN-nya.
“Ini ibarat gol bunuh diri. Kabinet Merah Putih baru delapan bulan berjalan, tapi sudah kecolongan dengan OTT yang memalukan. Integritas pejabat negara runtuh di mata rakyat.” tegas Dr. Bernard Siagian dalam forum.
Kemarahan publik dalam forum tersebut tidak hanya tertuju pada Noel. Kritik pedas juga dialamatkan pada DPR RI, yang dinilai sibuk berjoget dan bersuka cita merayakan kenaikan gaji fantastis, sementara rakyat miskin justru kian menjerit di tengah keterpurukan ekonomi.
“Miris sekali, rakyat hanya bisa makan remah-remah. Mereka berswadaya kibarkan merah putih, menggelar karnaval HUT RI dengan dana urunan, sementara para wakil rakyat di Senayan malah seperti Taman Kanak-Kanak yang terbuai gaji dan insentif baru dari negara.” ujar Rusman Pinem dengan nada getir.
Sri Mulyani dan “Guru Beban Negara”
Diskusi juga menyoroti kontroversi pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menyebut guru sebagai beban negara. Ungkapan itu dianggap menghina martabat pendidik sekaligus menunjukkan wajah asli kebijakan ekonomi pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat.
“Kalau guru dianggap beban negara, bagaimana mungkin bangsa ini bisa maju? Justru mentalitas pejabat korup inilah yang menjadi beban terbesar bangsa.” sindir Bunda Tiur Simamora.
Seruan: Reshuffle Kabinet dan Evaluasi Menyeluruh
Forum interaktif tersebut sepakat bahwa kinerja Kabinet Merah Putih mendapat rapor merah. Mereka mendesak Presiden Prabowo segera melakukan evaluasi menyeluruh, bahkan reshuffle kabinet, guna mengembalikan kepercayaan publik yang makin tergerus akibat kasus korupsi, kontroversi kebijakan, serta gaya hidup pejabat yang dianggap jauh dari spirit Pancasila.
“Bangsa ini butuh pemimpin negarawan sejati, bukan pejabat yang sibuk menumpuk kekayaan pribadi. Kalau tidak ada tindakan tegas, 2045 bukan emas, tapi bisa jadi bencana.” tegas Dr. Moses Robert Waimuri.
Diskusi di Gedung Joang 45 itu menjadi cermin keresahan rakyat atas wajah suram politik Indonesia hari ini. OTT Wamen Noel hanyalah potret kecil dari persoalan besar: pejabat negara yang abai terhadap penderitaan rakyat, DPR yang berpesta di atas derita, serta kabinet yang dinilai lebih mementingkan kepentingan elite dibandingkan nasib bangsa.
Dengan nada getir, forum menutup diskusi dengan seruan: “Salam Asta Cita, Indonesia Emas 2045! Tapi emas itu hanya bisa dicapai bila korupsi dan keserakahan diberantas tuntas. Kalau tidak, bangsa ini hanya akan menjadi macan ompong Asia.”
(Dr.Bernard)














