SUARARAKYAT.info || JAKARTA — Upaya pelestarian nilai-nilai luhur budaya daerah kembali digaungkan melalui forum diskusi bertajuk Tablik Budaya Saromase yang digelar di Anjungan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Rabu (25/03/2026). Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus konsolidasi pemikiran dalam merawat identitas budaya Sulawesi Selatan di tengah arus modernisasi yang kian deras.
Dalam forum tersebut, para penggagas dan tokoh budaya berkumpul untuk mematangkan esensi gerakan Tablik Budaya Saromase agar tidak sekadar menjadi agenda seremonial, melainkan mampu menjelma sebagai gerakan kultural yang hidup dan membumi di tengah masyarakat.
Salah satu penggagas kegiatan, Fiam Mustamin, menegaskan bahwa Tablik Budaya Saromase lahir dari kegelisahan atas mulai memudarnya nilai-nilai adat dalam kehidupan sosial. Ia menyebutkan bahwa budaya bukan hanya warisan, tetapi juga pedoman hidup yang harus terus dirawat dan diaktualisasikan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Tema yang kami angkat, Peradaban dalam Perilaku Kehidupan Berpaguyuban dengan Adab si Pangadereng, menjadi pengingat bahwa peradaban tidak hanya diukur dari kemajuan material, tetapi juga dari bagaimana manusia menjaga adab, etika, dan nilai dalam kehidupan bersama,” ujarnya kepada SUARARAKYAT.info.Rabu (25/3/2026)
Diskusi budaya ini menghadirkan sejumlah tokoh dan narasumber, di antaranya Ir. Anwar Esfa, Muhaemin Tallo, Pawennei, serta didampingi oleh Muslimin Mawi. Kehadiran para tokoh ini memperkaya perspektif dalam membedah nilai-nilai budaya Sulawesi Selatan yang sarat makna filosofis.
Dalam pemaparannya, para narasumber menekankan pentingnya konsep pangadereng sebagai sistem nilai yang mengatur tatanan kehidupan masyarakat Bugis-Makassar. Pangadereng tidak hanya berbicara tentang norma adat, tetapi juga mencakup aspek hukum, etika, hingga tata kelola sosial yang berlandaskan pada rasa keadilan dan kemanusiaan.
Selain itu, nilai pakaraja dan saromase turut menjadi fokus pembahasan. Saromase, yang secara filosofis dimaknai sebagai sikap saling memberi manfaat, dinilai relevan dalam konteks kehidupan modern yang cenderung individualistik. Nilai ini mengajarkan pentingnya saling membantu, membalas kebaikan, serta menanam budi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Para peserta diskusi sepakat bahwa revitalisasi nilai-nilai budaya lokal bukan hanya tanggung jawab masyarakat adat, melainkan juga seluruh elemen bangsa, termasuk generasi muda. Di tengah derasnya globalisasi, kearifan lokal justru menjadi benteng moral yang mampu menjaga identitas dan jati diri bangsa.
Lebih jauh, Tablik Budaya Saromase diharapkan mampu menjadi gerakan berkelanjutan yang tidak berhenti pada ruang diskusi, tetapi juga melahirkan aksi nyata di tengah masyarakat. Mulai dari pendidikan berbasis budaya, penguatan komunitas, hingga integrasi nilai-nilai lokal dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami ingin Saromase bukan hanya dipahami sebagai konsep, tetapi dipraktikkan. Karena di situlah letak kekuatan budaya ketika ia hidup dalam perilaku, bukan hanya dalam wacana,” tambah Fiam.
Ke depan, Tablik Budaya Saromase direncanakan akan terus digelar secara berkala dengan berbagai tema yang relevan dengan dinamika sosial masyarakat. Dengan demikian, forum ini tidak hanya menjadi ruang dialog, tetapi juga menjadi gerakan kultural yang mampu menghidupkan kembali nilai-nilai luhur budaya Sulawesi Selatan sebagai bagian dari peradaban bangsa Indonesia.
Penulis : Han
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Suararakyat.info














