Suararakyat.info.Kuala Lumpur– Sebuah momentum bersejarah kembali tercipta dalam upaya memperkuat persaudaraan dua bangsa serumpun: Indonesia dan Malaysia. Bertempat di Jln Maktab, Lapang Tembak, Datuk Keramat, Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur, telah disepakati pembentukan Sekretariat Perkumpulan Malaysia-Indonesia (disingkat MALINDO), sebuah wadah kolaboratif strategis yang menjembatani aspirasi dua negara serumpun dalam ranah budaya, sosial, ekonomi, politik, hingga dakwah.(16/6/2025)
Inisiasi pendirian sekretariat ini dipelopori oleh Zainuddin Arsyad, S.Ip, Ketua Umum Forum Alumni Badan Eksekutif Mahasiswa (FABEM) Indonesia. Bersama tokoh-tokoh lintas negara dan disiplin ilmu, seperti Haji Mohd Zahir Bin Yusuf, Pimpinan Pesantren Tahfidz Attaqwa Kuala Lumpur, dan Siti Fatimah, S.H, Ketua Umum Gerakan Waktu Indonesia Bergerak, pertemuan ini diselenggarakan sebagai langkah awal penguatan kerja sama lintas-bangsa yang berbasis nilai keislaman, kemanusiaan, dan persaudaraan.
Menjawab Kesamaan dan Tantangan Dua Bangsa Serumpun
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Indonesia dan Malaysia memiliki sejarah panjang dan akar budaya yang nyaris identik. Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia memiliki akar linguistik yang serupa. Budaya, adat istiadat, dan latar belakang agama mayoritas yang sama (Islam) menjadikan kedua negara ini bukan hanya bertetangga secara geografis, namun juga sedarah secara historis.
Kesamaan-kesamaan itu, seperti disebutkan dalam pembukaan acara, menjadi dasar kuat bagi terbentuknya identitas bersama. MALINDO hadir sebagai wadah bagi semangat “senasib dan sepenanggungan” dua bangsa yang sama-sama pernah dijajah dan kini menjadi kekuatan ekonomi utama di kawasan ASEAN. Namun hubungan ini juga dihadapkan pada tantangan nyata: mulai dari persoalan TKW, perdagangan manusia, klaim budaya, hingga ketegangan di media sosial.

“Perlu satu gerakan strategis, bukan hanya simbolik, yang mampu merawat dan memperkuat hubungan Indonesia-Malaysia sebagai saudara serumpun,” ujar Zainuddin Arsyad. Ia menekankan bahwa MALINDO bukan sekadar forum kultural, tapi menjadi motor peradaban yang mengintegrasikan diplomasi rakyat dan nilai-nilai kebangsaan dalam kerangka ukhuwah Islamiyah dan regionalisme Asia Tenggara.
MALINDO: Visi Besar dari Sebuah Gerakan Peradaban
Sekretariat MALINDO dirancang bukan hanya sebagai forum dialog, tetapi sebagai platform strategis yang akan mendorong kolaborasi konkret antarwarga kedua negara. Dalam visinya, MALINDO ingin menjadi pemersatu nilai-nilai agama, sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang mempererat hubungan dua bangsa.
Adapun misi yang diemban oleh MALINDO meliputi:
Mendukung upaya pemerintah kedua negara dalam memperkuat hubungan diplomatik dan kerja sama bilateral.
Menjadi wadah warga untuk meningkatkan hubungan ekonomi dan perdagangan secara langsung antar masyarakat.
Mendorong kolaborasi kreatif dalam bidang seni dan budaya, seperti produksi film, riset sejarah bersama, dan pameran internasional.
Menjadi kanal penyeimbang terhadap potensi konflik politik dan ketegangan sosial, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
Menggiatkan kegiatan dakwah dan peningkatan iman serta nilai-nilai keislaman di tengah tantangan globalisasi dan sekularisasi.
Dihadiri Tokoh-Tokoh Ternama dari Dua Negara
Pertemuan awal ini juga dihadiri oleh tokoh-tokoh lintas bidang dan lintas negara, antara lain:

Dr (C) Tan Taufiq Lubis, Vice Presiden Pemuda OKI Se-Dunia sekaligus Ketua NYC Indonesia dan Wakil Rektor Universitas Jakarta.
Prof. Mokmin Basri, Pimpinan Universitas Islam Selangor dan pengurus Pertumbuhan Misi Ummatik Malaysia.
Prof. KH Arief, tokoh pendidikan Islam dari Sekolah Ilmu Tarbiyah Jakarta.
Beserta tokoh-tokoh akademisi, pengusaha, aktivis, hingga ulama dari Malaysia dan Indonesia.
Pertemuan ini bukan hanya seremoni, namun awal dari rangkaian gerakan kolaboratif yang akan menyasar berbagai lapisan masyarakat. “Kita akan menghimpun semua kalangan: pelajar, ulama, diaspora, akademisi, komunitas seni, dan pengusaha, untuk menjadikan MALINDO rumah besar bangsa serumpun,” ujar Zainuddin Arsyad dalam sambutannya.
Penutup: Jalan Panjang Menuju Integrasi Kawasan
Langkah awal yang diambil oleh MALINDO mencerminkan kerinduan dan kebutuhan dua bangsa untuk memiliki forum rakyat yang aktif, visioner, dan konkret dalam menyambut tantangan zaman. Di tengah arus globalisasi yang kadang menenggelamkan nilai-nilai ke-Asia-an dan ke-Islam-an, inisiatif ini memberi harapan akan bangkitnya kembali semangat kolektif untuk membangun kawasan ASEAN yang kuat, adil, dan beradab.
MALINDO bukan hanya milik dua negara, tetapi representasi dari kekuatan masyarakat sipil regional yang percaya bahwa masa depan Asia Tenggara harus dibangun di atas dasar persaudaraan sejati dan kerja sama yang saling menguatkan.
(Hs)














