Suararakyat.info– Di era teknologi yang berkembang pesat, dunia kini menghadapi tantangan besar: kecanduan digital yang meluas, tidak hanya pada anak-anak, tetapi juga pada orang dewasa yang seharusnya menjadi panutan. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendalam: bagaimana anak-anak dapat dituntun jika orang dewasa sendiri belum bebas dari jeratan candu digital?
Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh di lingkungan dengan ketergantungan tinggi terhadap gawai cenderung mengalami gangguan perkembangan sosial, emosional, dan kognitif. Sebuah studi oleh American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan batasan waktu layar dan pentingnya kehadiran aktif orang tua dalam mendampingi penggunaan teknologi (AAP, 2020).
“Perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Tidak adil jika kita meminta anak-anak untuk meninggalkan gawai, sementara kita sendiri tenggelam dalam layar sepanjang hari,” ujar seorang pemerhati anak dari Lembaga Advokasi Teknologi Sehat, AAT. Ia menekankan bahwa keteladanan jauh lebih efektif daripada sekadar aturan tanpa praktik nyata.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kecanduan drama digital, media sosial, dan konten hiburan lainnya pada orang dewasa dapat menurunkan kualitas interaksi dalam keluarga. Data dari Common Sense Media (2023) mencatat bahwa rata-rata orang dewasa menghabiskan lebih dari 7 jam per hari di depan layar untuk kebutuhan non-kerja, yang berdampak signifikan terhadap waktu berkualitas bersama anak.
Selain itu, psikolog perkembangan anak dari Universitas Indonesia, Dr. Rini Susanti, menekankan bahwa anak-anak meniru pola perilaku orang dewasa secara alamiah. “Jika orang tua tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri, maka mustahil mereka bisa menjadi pembimbing yang efektif bagi anak-anak mereka,” jelasnya dalam webinar bertajuk “Mendidik di Era Digital” (UI, 2024).
Masyarakat luas diharapkan tidak hanya sadar, tapi juga aktif dalam mengatasi dampak negatif perkembangan teknologi modern. Ini bukan soal melarang, melainkan menyeimbangkan. Teknologi bisa menjadi alat bantu luar biasa jika digunakan dengan bijak, tetapi bisa menjadi ancaman serius jika dibiarkan tanpa kendali.
Kesimpulannya, tantangan kecanduan digital bukan hanya persoalan anak-anak yang sulit diatur, melainkan cerminan dari masyarakat yang belum mampu menata dirinya sendiri. Solusinya bukan sekadar mengatur anak, tetapi menuntun mereka—dan itu hanya bisa dilakukan jika kita, para orang dewasa, lebih dulu membebaskan diri dari candu digital.
Referensi:
1. American Academy of Pediatrics. (2020). Media and Young Minds.
2. Common Sense Media. (2023). The Common Sense Census: Media Use by Tweens and Teens.
3. Rini Susanti, M.Psi., UI Webinar “Mendidik di Era Digital”, 2024.














