SUARARAKYAT.info|| Bandung- di tengah arus modernisasi yang kian deras, sosok DR. Agus Kapinis hadir sebagai penjaga nilai-nilai luhur seni, budaya, dan spiritualitas Nusantara. Ia bukan sekadar seniman, melainkan figur kebudayaan yang memadukan olah rasa, olah jiwa, dan olah raga dalam satu jalan pengabdian yang berakar kuat pada tradisi, agama, dan kearifan lokal.selasa (13/1/2026)
DR. Agus Kapinis dikenal luas sebagai seniman multidisipliner Jawa Barat yang menggeluti berbagai cabang seni, mulai dari tarik suara, seni relief, kaligrafi, arca, patung, hingga pengkajian budaya spiritual. Di luar dunia seni, ia juga merupakan Guru Besar sekaligus pendiri Padepokan Leuwi Langit, sebuah padepokan yang memiliki ciri khas unik dalam pengembangan seni bela diri dan pembinaan spiritual.
Silat Rasa dan Dzikir: Jalan Sunyi Menuju Keselarasan Lahir dan Batin
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Padepokan Leuwi Langit yang diasuh DR. Agus Kapinis tidak sekadar mengajarkan bela diri dalam pengertian fisik. Jurus-jurus silat yang dikembangkan memadukan gerak tubuh dengan rasa, disertai dzikir sirr (khofi) dalam setiap alunan gerak. Bahkan, sebagian jurus diciptakan berlandaskan huruf-huruf Hijaiyah, yang diyakini mampu menghadirkan energi murni bagi kesehatan jasmani dan rohani.
Pendekatan ini menjadikan latihan silat bukan hanya sarana pertahanan diri, melainkan media penyelarasan napas, peredaran darah, pembukaan cakra jiwa, serta sarana mengenal diri secara mendalam. Dengan kesadaran napas dan dzikir yang terus mengalir, tubuh dilatih menjadi sehat secara lahiriah, sementara batin diasah agar lebih peka terhadap nilai keikhlasan dan ketauhidan.
Sejarah Singkat: Dari Deteksi Menuju Leuwi Langit
Cikal bakal Padepokan Leuwi Langit bermula dari kesamaan visi antara Kang Agus Kapinis dan para muridnya pada Oktober 1999. Padepokan ini awalnya bernama “DETEKSI”, yang diresmikan secara kekeluargaan pada Januari 2000, dipimpin langsung oleh Kang Agus Kapinis yang juga dikenal dengan nama spiritual Adji Abdi Raga.
Pada masa awal, Deteksi lebih menitikberatkan program-program spiritual melalui dzikir, doa, dan teknik olah napas. Perkembangannya sempat pesat hingga memiliki anggota di Bandung dan Garut dengan jumlah mencapai sekitar 100 orang. Namun, ketiadaan struktur kepengurusan yang jelas membuat seluruh aktivitas bertumpu pada satu pimpinan.
Memasuki periode 2004–2006, Kang Agus menjalani masa tirakat selama kurang lebih dua tahun. Pada masa inilah Deteksi mengalami kekosongan kepemimpinan (vacuum of power), sehingga satu per satu anggota mulai mengundurkan diri. Dari fase inilah lahir refleksi mendalam yang kemudian melahirkan konsep baru bernama Padepokan Leuwi Langit.
Makna Filosofis Leuwi Langit
Secara harfiah, Leuwi Langit berarti tempat pertemuan dua aliran air yang berbeda sumbernya. Namun secara maknawi, Leuwi Langit adalah siloka kehidupan, tempat bertemunya berbagai perbedaan—suku, ras, agama, dan budaya—yang pada akhirnya bermuara pada satu tujuan hakiki.
Dalam pemaknaan Kang Agus Kapinis, Leuwi melambangkan perjalanan manusia dari kehidupan dunia hingga berkumpul di Padang Mahsyar, tanpa sekat jabatan, pangkat, maupun asal-usul. Sementara Langit dimaknai sebagai papayung agung, naungan Ilahi yang meliputi seluruh makhluk dalam hukum sunatullah dan ketetapan Allah SWT.
Dari sinilah Padepokan Leuwi Langit dimaknai sebagai wadah silaturahmi spiritual, yang menyebarkan ajaran agama dan darigama tanpa keluar dari tuntunan Al-Qur’an, As-Sunnah, serta warisan para wali dan karuhun Nusantara.
Ngariksa Diri: Jalan Etika dan Kesadaran
Salah satu ajaran inti Padepokan Leuwi Langit adalah konsep Ngariksa Diri, yang mencakup:
Ngajaga ahlak, watek, dan sifat
Ngajaga lisan, pandangan, dan perbuatan
Ngaji diri: tidak mencela, menghina, atau menyalahkan orang lain
Ngajaring diri: jujur, cager, bener, pinter
Nilai-nilai ini menjadi fondasi pembinaan karakter bagi seluruh anggota dan jamaah padepokan.
Padepokan Mandiri, Berlandaskan Pancasila
Padepokan Leuwi Langit berdiri secara mandiri, tidak terikat oleh ormas maupun partai politik. Seluruh aktivitasnya berlandaskan Pancasila dan UUD 1945, serta menjunjung tinggi musyawarah, persaudaraan, dan ketenteraman sosial.
Tonggak penting perjalanan padepokan ini terjadi pada 25–26 Oktober 2014, ketika seluruh pengurus secara resmi dilantik dan diambil sumpah jabatan di kawasan Gunung Putri, Lembang, setelah sebelumnya dipilih secara aklamasi di Parongpong, Kabupaten Bandung.
Ekspresi Seni: Lagu “Leuwi Langit”
Selain sebagai guru dan seniman, DR. Agus Kapinis juga mengekspresikan nilai-nilai padepokan melalui karya musik. Lagu “Leuwi Langit” ciptaannya menjadi simbol perjalanan spiritual, napak tilas karuhun, serta ajakan untuk menjaga diri dan mempererat silaturahmi.
Liriknya sarat makna tirakat, kesadaran diri, dan ketundukan kepada Allah SWT sebagai satu-satunya tempat bergantung.
Menjaga Obor Peradaban
Melalui Padepokan Leuwi Langit, DR. Agus Kapinis menegaskan bahwa seni, budaya, dan spiritualitas bukanlah warisan mati, melainkan obor peradaban yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang. Dalam sunyi padepokan, nilai-nilai luhur dirawat agar manusia tidak kehilangan arah di tengah hiruk-pikuk zaman.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Yusuf ayat 87, Padepokan Leuwi Langit terus menanamkan keyakinan agar umat manusia tidak berputus asa dari rahmat Allah, dan senantiasa berjalan di jalan pengharapan, keikhlasan, dan persaudaraan.
Editor : Red
Sumber Berita: Suararakyat.info














