SUARARAKYAT.info||Indragiri Hilir – Pernyataan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) terkait kasus keracunan massal yang menimpa para siswa belakangan ini justru memantik kemarahan sejumlah guru. Alih-alih memberikan klarifikasi yang menyejukkan, pernyataan resmi yang beredar di masyarakat dinilai cenderung menyalahkan pihak sekolah dan anak-anak, sementara dapur penyedia makanan sama sekali tidak disebut sebagai pihak yang harus bertanggung jawab.Kamis (28/8/2025)
Salah satu guru yang bereaksi keras adalah akun media sosial bernama @afniwahyuni24. Dalam unggahannya, ia menulis dengan nada geram bahwa Dinkes seakan mengalihkan kesalahan ke sekolah dan murid.
“Nyalahin anak-anak kurang higienis, jelas-jelas makanan basi. Nyalahin sekolah kurang pengawasan. Ngak nyicipi makanan. Tidak satu pun pernyataan yang mengatakan seharusnya yang bertanggung jawab itu adalah pihak dapur. Kecewa kita kan,” tulisnya di media sosial.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Guru tersebut menegaskan bahwa anak-anak dan pihak sekolah adalah korban, bukan pihak yang harus dipersalahkan. Ia menilai sangat keliru jika Dinkes mengeluarkan pernyataan yang justru mengkambinghitamkan sekolah dengan alasan kurangnya pengawasan.
“Tolong Dinkes perbaiki pernyataan Anda. Jangan menyalahkan sekolah. Evaluasi dapur yang tidak menyelenggarakan makanan sehat. Anak-anak kami berharap mendapat makanan bergizi, bukan makanan beracun,” pungkasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari Dinkes Inhil untuk merevisi atau mengklarifikasi kembali ucapan yang menuai kontroversi tersebut. Banyak kalangan menilai, alih-alih memberi rasa tenang, pernyataan itu justru menambah kekecewaan di tengah masyarakat dan mencederai perasaan para guru serta sekolah-sekolah di Inhil.
Para orang tua pun mendesak agar pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap dapur penyedia makanan. Harapannya, kejadian keracunan yang sudah merugikan kesehatan anak-anak ini tidak lagi terulang, serta tidak ada lagi pihak yang merasa disalahkan tanpa dasar.
(Syahwani)














